10 Keberhasilan Darmin Nasution Jadi Gubernur BI - Kompas.com

10 Keberhasilan Darmin Nasution Jadi Gubernur BI

Didik Purwanto
Kompas.com - 21/05/2013, 12:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Darmin Nasution akan mengakhiri masa jabatan sebagai Gubernur Bank Indonesia besok, Rabu (22/5/2013). Pada akhir masa jabatannya, Darmin memaparkan keberhasilannya memimpin BI.

Berikut klaim keberhasilan Darmin saat menjadi Gubernur BI yang disampaikan kepada wartawan, Senin (20/5/2013) malam di Gedung BI Jakarta.
1. Dalam bankers dinner akhir Desember 2012, Darmin merilis 12 kebijakan tentang perbankan. Salah satunya pembatasan pencaplokan bank asing maksimal 40 persen saham bank nasional (aturan multiplelisence).
Darmin menegaskan bank asing juga bisa mengambil mayoritas perbankan nasional asal induk bank asing tersebut sehat dan mendapat dukungan penuh dari otoritas bank sentral di negaranya. Keinginan Darmin melontarkan kebijakan ini karena dia ingin asas resiprokal nantinya diterapkan di setiap bank sentral di luar negeri.
2. Interkoneksi jaringan ATM
Darmin baru saja membuat kebijakan interkoneksi di antara penyedia jasa layanan ATM, yaitu Prima, Artajasa, dan Alto. Selama ini layanan koneksi jaringan ATM hanya terbatas, belum terkoneksi antarjaringan ATM lainnya.
3. Mendukung penuh intermediasi perbankan
Pertumbuhan kredit perbankan hingga akhir tahun 2012 sebesar 23,1 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun 2011 sebesar 24,5 persen. Darmin menganggap bahwa penurunan kredit ini disebabkan pengaruh dari krisis ekonomi global.
4. Tekan bunga kredit
Darmin mewajibkan perbankan mencantumkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK). Harapannya masyarakat bisa mengetahui secara pasti bunga kredit yang ditawarkan perbankan. Jika terlalu tinggi, masyarakat bisa beralih ke perbankan yang menawarkan bunga kredit yang lebih rendah.
5. Inflasi terjaga
Darmin menganggap bahwa inflasi tahunan masih terjaga, yaitu masih di antara target BI, 4 plus minus 1 persen. Darmin juga membantah bahwa sumber inflasi yang tinggi disebabkan pengelolaan yang kurang dari sisi moneter. Sebab, dari kontribusi penyebab inflasi tinggi adalah bukan moneter, melainkan volatile food (harga cabai, bawang merah, beras, daging) serta administered price (kenaikan harga listrik dan BBM).
6. BI Rate stabil
Sejak Februari 2012, suku bunga acuan BI (BI Rate) stabil di level 5,75 persen. Dengan stabilnya BI Rate tersebut, akan memudahkan setiap pengambil kebijakan memutuskan sesuatu. Dengan BI Rate yang stabil ini, inflasi bisa terjaga dan bunga kredit semakin menurun karena persaingan.
7. Mewajibkan bank nasional menggarap kredit UMKM
BI setidaknya mewajibkan perbankan untuk menyalurkan sekitar 15 persen kreditnya ke sektor usaha kecil, mikro, dan menengah. Darmin mengisahkan ada bank besar yang baru saja mengambil porsi kredit UMKM sebesar 5 persen dari total kreditnya, kini kredit sektor UMKM tersebut sudah mengontribusikan sekitar 15 persen ke laba bank itu.
8. Bank tanpa kantor cabang (branchless banking)
Masyarakat kini tidak perlu datang ke bank untuk bertransaksi keuangan. Cukup memiliki ponsel, masyarakat pun bisa bertransaksi, hingga bisa melakukan transfer.
9. Ponsel bisa digunakan untuk mengakses hasil pertanian
Ini merupakan proyek percontohan dari BI. Nantinya petani bisa mengakses harga dari pengepul soal harga hasil produksi petani.
10. Perbaikan pengawasan bank
Hingga saat ini tidak ada bank bermasalah di bawah pengawasan intensif BI. Darmin berharap dengan kepemimpinan Agus Martowardojo sebagai Gubernur BI periode selanjutnya akan membawa kebijakan baru yang pro-nasional. "Saya sudah diskusi intensif dengan beliau, baik soal kebijakan dan struktur di BI. Saya lebih pilih tidak ngomong. Kalau ngomong nanti malah kontraproduktif," kata Darmin.

PenulisDidik Purwanto
EditorErlangga Djumena
Komentar