Jokowi Rela Popularitas Turun demi Menekan Impor Beras - Kompas.com

Jokowi Rela Popularitas Turun demi Menekan Impor Beras

Kompas.com - 18/04/2015, 02:07 WIB
Dok Kementan Presiden RI Joko Widodo, Jumat (6/3/2015), turun ke sawah berlumpur untuk menanam padi dengan menggunakan rice transplanter hasil produksi dalam negeri. Presiden didampingi Menteri Pertanian, Amran Sulaiman dan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.
SURABAYA, KOMPAS.com — Presiden Joko Widodo mengatakan sudah memperkirakan, kenaikan harga beras beberapa waktu lalu akibat permainan spekulan di pasar beras.

"Desember ke Januari ada usul ke saya, posisi stok beras bahaya, kita harus impor. Sebentar saya cek dulu, lalu saya putuskan, ini masih berani sampai panen raya. Yang terjadi, spekulasi. Harga beras jadi naik. Ini risiko yang harus diambil, saya jadi tidak populer," kata Jokowi di Masjid Nasional Al-Akbar Kota Surabaya, Jumat (17/4/2015) malam.

Di hadapan sekitar 2.000 anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sedang merayakan Hari Lahir Ke-55 dan Muktamar Pergerakan, Jokowi mengatakan bahwa sudah bertahun-tahun Indonesia menjadi pengimpor 3,5 juta ton beras per tahun. Oleh karena itu, pada akhir tahun lalu, ia mengambil risiko untuk menghentikan impor, meski paham terhadap dampak kenaikan harga yang pasti akan terjadi.

"Kalau impor, petani kita jadi malas berproduksi. Ini saya sering sulit jelaskan, tetapi harus saya jelaskan secara gamblang. Kalau tidak impor, harga naik. Kalau impor, petani jadi tidak rajin berproduksi," kata dia.

Menurut Jokowi, hal yang sama juga terjadi pada komoditas pertanian strategis yang lain, seperti jagung dan kedelai. "Perlu perubahan total dalam cara-cara kita berproduksi," katanya.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi menyampaikan beberapa isu, termasuk soal pengalihan subsidi BBM, pemberantasan penyalahgunaan narkoba, hingga meredam radikalisme dan terorisme.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorBayu Galih
SumberAntara
Komentar