Perawatan Paliatif Rachel House, Kekuatan di Batas Penyakit Kronis Anak - Kompas.com

Perawatan Paliatif Rachel House, Kekuatan di Batas Penyakit Kronis Anak

Yoga Sukmana
Kompas.com - 30/05/2016, 11:30 WIB
Alsadad Rudi Acara penandatanganan nota kesepakatan mengenai perawatan paliatif kanker antara Yayasan Kanker Indonesia (YKI) DKI Jakarta dan Singapore International Foundation (SIF), di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (20/1/2015). Dari kiri: Ketua YKI DKI Jakarta Veronica Tan, Direktur SIF Jean Tan, dan pendiri Rachel House Foundation Lynna Chandra.

KOMPAS.com — S (10) hanya bisa termangu sembari memeluk erat Nurul, neneknya, yang duduk di beranda siang itu. Sejak tujuh tahun lalu, setelah ibunya meninggal, S memang tinggal bersama Nurul di salah satu wilayah di Jakarta.

Awalnya, S tampak seperti anak-anak seumurannya. Ceria dan suka bermain. Hingga satu hari, pada 2012 lalu, kondisi S memburuk. Badannya mengurus. Ia jadi pemurung. S adalah salah satu anak Indonesia yang hidup dengan HIV.

Sungguh suatu kondisi yang sangat berat, apalagi untuk bocah 10 tahun. Saat kondisi S kian memburuk pada 2013, Yayasan Rumah Rachel (Rachel House) datang dan memberikan pelayanan perawatan kepada S. Ia mengalami gizi buruk dan sering sesak napas.

“Saat pertama kali saya datang, pasien mengalami gangguan gejala sesak yang terus-menerus. Kemudian S dirawat untuk perbaikan kondisi,” ujar Surti, perawat Yayasan Rumah Rachel, dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan dalam video di situs web Rachel House.

Yayasan Rumah Rachel adalah organisasi nirlaba yang memberikan perawatan paliatif bagi anak-anak penderita kanker stadium akhir dan anak-anak dengan HIV di Indonesia. Yayasan ini didirikan pada 2006 silam.

Perawatan paliatif merupakan suatu pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Dalam menghadapi banyak masalah terkait penyakit mengancam jiwa, biasanya pasien dan keluarga justru mengalami tekanan yang besar.

Melalui perawatan paliatif, tenaga perawat akan berupaya meringankan penderitaan dengan deteksi dini, pengkajian menyeluruh dan penanganan nyeri, serta masalah lain baik fisik, psikososial, maupun spiritual.

Dukungan secara psikologis dengan memberikan kasih sayang kepada pasien yang menderita penyakit kronis merupakan dasar perawatan paliatif.

Misalnya dalam kasus S, Surti mengunjungi S dan neneknya setiap minggu untuk memberikan perawatan. Berkat perawatan itu, kondisi S perlahan membaik dari sebelumnya.

Bahkan, Surti juga yang memberikan pelatihan kepada Nurul untuk memberikan perawatan yang baik kepada S.

“Jadi kita sering konsul. Banyak perubahan (pada konsisi S). Saya ingin dia sehat seperti sedia kala,” kata Nurul dalam video tersebut.

Nurul tidak pernah sekali pun memberi tahu S tentang penyakit itu. Ia hanya selalu menuruti apa pun keinginan S lantaran tak ingin melihat cucu kesayangannya itu sedih dan murung.

Di Indonesia, ada sekitar 15.000 anak yang hidup dengan HIV dan kanker. Namun, hanya ada sekitar 72 dokter onkologi anak.

Onkologi adalah ilmu kedokteran yang berkonsentrasi pada diagnosis, penanganan serta pencegahan tumor dan kanker. Sistem kesehatan di Indonesia sendiri masih jauh dari kata sempurna.

Masih banyak anak Indonesia, terutama masyarakat tidak mampu, yang belum atau bahkan tidak mendapatkan perawatan sesuai yang dubutuhkan.

Sebagian lagi justru baru mendapatkan perawatan saat sudah dalam kondisi yang parah. Mereka datang pada tahap akhir penyakitnya.

“Visi Yayasan Rumah Rachel adalah tidak ada lagi anak yang meninggal dalam kesakitan,” kata pendiri Yayasan Rumah Rachel Lynna Chandra masih dalam video tersebut.

Lynna mengakui tak mudah untuk memberikan layanan kepada orang-orang yang memiliki penyakit parah.

Bahkan, ia sempat ditentang sejumlah orang lantaran berani-beraninya memberikan layanan yang justru dianggap sebagai bentuk pesimisme melawan penyakit kronis.

Meski begitu, ia tidak kecil hati. Baginya, anak-anak dengan HIV atau kanker bisa hidup lebih baik jika ada dukungan dari keluarga dan orang-orang yang peduli terhadapnya.

“Layanan kami berfokus kepada anak-anak dan keluarganya karena kami mengerti pada tahap ini tekanan yang dirasakan oleh seluruh keluarga harus diringankan,” tutur Lynna.

Dalam rangka kampanye Unlimit8, Kompas.com mengajak pembaca untuk memberi dukungan moral maupun material untuk Yayasan Rumah Rachel atau Rachel House.

Ayo dukung Rachel House di https://kitabisa.com/rachelhouse 

PenulisYoga Sukmana
EditorAprillia Ika
Komentar