Pengusaha Lokal Bangun Pabrik Pengolahan Limbah B3 di Lamongan Jawa Timur - Kompas.com

Pengusaha Lokal Bangun Pabrik Pengolahan Limbah B3 di Lamongan Jawa Timur

Kontributor Gresik, Hamzah Arfah
Kompas.com - 14/11/2016, 17:56 WIB

LAMONGAN, KOMPAS.com – Badan Penanaman Modal dan Perijinan (BPPM) Lamongan, Jawa Timur mengakui jika sudah ada perusahaan yang bakal membuka pabriknya di Lamongan untuk pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Kepala BPPM Lamongan, Chairil Anwar mengatakan, perusahaan tersebut bahkan sudah melakukan aktivitas pembebasan tanah di Desa Tlogoretno dan Desa Brengkok, Kecamatan Brondong, Lamongan.

“Sesuai dengan izin prinsip yang diajukan ke BPMP satu tahun yang lalu, mereka membutuhkan lahan sekitar 50 hektare untuk itu. Dan setahu saya, proses pembebasan lahan sendiri sudah berjalan, meski belum semua lahan berhasil dibebaskan,” tutur Chairil, Senin (14/11/2016).

Meski enggan menyebut identitas perusahaan tersebut, Chairil menyatakan perusahaan yang bakal membuka cabangnya di Lamongan tersebut sudah lebih dulu berdiri di Bogor, Jawa Barat, dalam pengolahan limbah B3.

“Perusahaan ini sudah mengantongi izin prinsip sejak 6 Agustus 2015 lalu, untuk mendirikan pabrik pengolahan limbah B3 di wilayah tersebut. Di mana izin prinsipnya, berlaku selama tiga tahun,” terangnya.

Chairil lantas menyebut, pabrik pengolahan limbah B3 tersebut, sudah sesuai dengan letak lahan yang dibebaskan. Yakni, berdiri di kawasan yang tidak jauh dari perairan laut. Hanya saja ia menegaskan, bila perusahaan tersebut belum mengajukan izin untuk memulai proses pembangunan pabrik.

“Yang pasti hanya izin prinsip, untuk izin proses pembangunan masih belum ada, karena mungkin saja mereka belum mendapat luas wilayah seperti yang dibutuhkan,” tandasnya.

Bila nantinya benar-benar dibangun di Lamongan, maka pabrik tersebut akan menjadi satu-satunya pabrik pengolahan limbah B3 yang ada di wilayah Pantai Utara (Pantura) dan yang kedua di Jawa Timur, setelah pabrik pengelolaan limbah B3 yang ada di wilayah Mojokerto.

“Karena belum mengajukan izin untuk proses pembangunan, maka kami pun tidak tahu berapa besaran investasinya,” tutup Chairil.

PenulisKontributor Gresik, Hamzah Arfah
EditorBambang Priyo Jatmiko
Komentar