Mendag Sebut Prestasi 2016 adalah Tidak Ada Impor Beras - Kompas.com

Mendag Sebut Prestasi 2016 adalah Tidak Ada Impor Beras

Estu Suryowati
Kompas.com - 04/01/2017, 22:00 WIB
Pramdia Arhando Julianto Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita di Kemeterian Perdagangan, Jakarta, Jumat (23/11/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, salah satu prestasi pemerintah tahun 2016 lalu adalah tidak adanya importasi beras. Dia mengapresiasi kinerja Kementerian Pertanian atas hal tersebut.

"Keberhasilan kita adalah keberhasilan dari Kementerian Pertanian yang mampu meningkatkan produksi petani sehingga di 2016 tidak ada kekurangan, maka dengan demikian kita tidak impor beras," kata Enggartiasto dalam konferensi pers capaian 2016 dan outlook 2017 di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (4/1/2017).

Sampai dengan akhir 2016, Kementerian Perdagangan mengklaim tidak mengeluarkan rekomendasi impor untuk beras. Hanya dua komoditas strategis yang rekomendasi impornya dikeluarkan yaitu daging sapi dan gula.

Enggartiasto mengatakan tidak ada rekomendasi impor beras jenis medium atau beras yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat.

Adapun rekomendasi yang dikeluarkan adalah untuk kebutuhan industri hotel, restoran, dan kantor (horeka) yakni jenis premium, seperti Basmati.

"Rekomendasi impor yang dikeluarkan pada 2016 hanya untuk komoditas gula dan daging sapi. Komoditas yang lain saya enggak mau ngeluarin. Ngapain, kalau kita ada (produksinya)," imbuh Enggartiasto.

Dia menambahkan, pada 2016 lalu Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Perum Bulog pun bekerja sama dalam stabilisasi harga di tingkat petani. Sebagai off taker, Bulog siap-sedia menyerap panen yang melimpah sehingga harga tidak anjlok.

Stok Terjamin

Dari perhitungan Perum Bulog per 30 Desember Enggartiasto menyampaikan stok beras di gudang Bulog mencapai 1,73 juta ton, atau setara dengan kebutuhan konsumsi 6,6 bulan.

"Terdiri dari stok PSO (public service obligation atau beras sejahtera) termasuk CBP (cadangan beras pemerintah) dan komersial," imbuh Enggartiasto.

Pedagang dan distributor beras di Pasar Induk Beras Cipinang juga melaporkan masih memiliki cadangan minimal hingga tiga bulan ke depan.

Mereka pun berjanji akan memberikan informasi kepada pemerintah apabila sudah ada gejala pasokan berkurang sebulan. "Dengan ini maka saya tidak takut sampai dengan Maret 2017," kata Enggartiasto.

Dia menyebut, Pasar Induk Beras Cipinang merupakan barometer stabilitas harga beras karena menguasai distribusi 60-70 persen kebutuhan nasional.

"Maka kita persilakan mereka menyetok tetapi tidak menimbun, untuk itu gudangnya mereka daftarkan ke kita, laporkan stoknya," imbuh Enggartiasto.

Inflasi dan Daya Beli

Ketersediaan bahan pokok dan stabilitas harga menjadi tugas prioritas yang diterima Enggartiasto dari Presiden Joko Widodo.

Oleh karena itu, kata Enggartiasto, pada tahun 2017 Kementerian Perdagangan juga akan meneruskan fokus perhatian pada ketersediaan bahan pokok dan stabilitas harga.

Dia mengatakan, sepanjang 2016 inflasi tercatat menjadi yang terendah di level 3,02 persen. Pencapaian ini salah satu faktornya adalah tidak adanya gejolak harga pangan di akhir tahun

"Rumusannya supply demand kita perhatikan betul lalu kita mengajak produsen dan distributor untuk tidak main-main dengan harga," tegas Enggartiasto.

Dalam rapat kabinet yang dilangsungkan di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu, Presiden meminta Enggartiasto untuk terus menjamin ketersediaan bahan pokok dan stabilitas harga.

"Walaupun di 2017 diperkirakan ada peningkatkan (inflasi), Presiden memerintahkan untuk kita sangat mewaspadai dan memperhatikan masalah inflasi. Karena kalau inflasi naik, daya beli masyarakat terganggu dan berdampak pada gini ratio," ucap Enggartiasto.

(Baca: Mentan: Tak Ada Impor Beras, Bawang, dan Cabai pada Tahun 2016)

Kompas TV Pemerintah Gelar Operasi Pasar Beras

PenulisEstu Suryowati
EditorAprillia Ika

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM