Harga Cabai Rawit Merah Tinggi, Mendag Pasrah - Kompas.com

Harga Cabai Rawit Merah Tinggi, Mendag Pasrah

Yoga Sukmana
Kompas.com - 10/02/2017, 11:30 WIB
KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Warga sedang memilih cabai di Pasar Modern Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan. Kamis (5/1/2017). Hargai cabai melonjak drastis pasca-tahun baru. Di sejumlah daerah, harga cabai meroket dari puluhan ribu menjadi Rp 200-an ribu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, melambungnya harga cabai rawit merah bukan disebabkan adanya kartel. Melainkan karena faktor curah hujan yang tinggi. Namun pemerintah belum memiliki solusi kongkrit.

Saat ditanya wartawan bagaimana upaya pemerintah menurunkan harga cabai rawit merah, Mendag justru pasrah.

"Ya gimana kita pakai doa aja supaya enggak hujan," ujar Mendag di Kantor Koordinator Perekonomian, Jakarta, Kamis (9/2/2017) malam.

Februari ini, harga cabai rawit merah merangkak naik di sejumlah daerah. Di Jakarta misalnya, harganya menembus harga Rp 160.000 per kilogram (kg). Padahal, harga normalnya hanya sekitar Rp 50.000 per kg.

Namun tutur Mendag, harga cabai rawit merah di Ambon hanya Rp 55.000 per kg. Menurutnya, hal itu disebabkan karena curah hujan di Ambon tidak setinggi di Jakarta.

Ia mengungkapkan, curah hujan tinggi membuat suplai cabai dari petani berkurang. Walaupun dipaksakan dikirim ke pasar, pasokan cabai akan cepat busuk.

Lantas mengapa harga cabai jenis lainnya tidak melonjak setinggi cabai rawit merah?

Mendag mengatakan, hal itu lantaran harga normal cabai lainnya memang lebih rendah dibandingkan harga cabai rawit merah.

Ia yakin, harga cabai rawit merah akan kembali turun bila curah hujan juga menurun. Namun ia belum tahu kapan curah hujan akan berkurang.

"Tanya sama Tuhan kapan hujan berhenti," kata Mendag.

Saat ditanya apakah ada kemungkinan pemerintah membuka keran impor cabai untuk mencukupi kebutuhan dipasaran, Mendag menutup opsi tersebut.

Kompas TV Mendag: Cabai Naik karena Cuaca, Kami Tak Bisa Kontrol

PenulisYoga Sukmana
EditorAprillia Ika
Komentar