"Skill" Wajib yang Harus Dimiliki Semua Pemimpin Halaman 1 - Kompas.com

"Skill" Wajib yang Harus Dimiliki Semua Pemimpin

Dedy Dahlan
Kompas.com - 23/02/2017, 07:08 WIB
Kompas Ilustrasi: Pemimpin yang Melampaui Bahasa

KOMPAS.com - Cara yang sering dianggap termudah untuk mengelola tim oleh banyak pimpinan dalam organisasi, perusahaan, atau sekolah, adalah cara directive atau mendikte. Tinggal suruh, jalan, beres.

 “Jon, ambil ini kerjain anu beresin itu ya, awas kalau terlambat!”

“Jek, bikin laporan situ dan sana ya!”

“Udah Jess, ikutin aja kata saya. Giniin aja gitunya!”

Namun cara ‘tergampang’ ini, bisa jadi cara TERBURUK dalam mengembangkan kapasitas tim Anda, karena cara ini seringkali tidak memberi kesempatan pada tim Anda untuk berkembang dan menggali potensi asli MEREKA.

Memimpin dengan hanya menyuruh, ibarat memperlakukan orang seperti mesin.

Kasih petunjuk A- Z, dan diharapkan untuk bisa perform sebaik- baiknya, dan mengejar target setinggi- tingginya. Kalau nggak bisa, jangankan diajari, dihajari juga bisa. Sampai ada istilah sadis di perkantoran, “Kalau nggak bisa dibina, ya dibinasakan”. Ampun mak!

Makanya nggak jarang, saat saya di-hire sebagai corporate coach untuk beberapa perusahaan yang baru mau mengubah gaya ini, saya menemukan kultur menarik yang suka mereka sebut “keramas” (yang ada di banyaaak perusahaan itu).

‘Dikeramasin’ adalah bagian dari cara memimpin directive, yang artinya sesi diomelin dan disemprot sama bos dengan sadis, sampai ketombe- ketombe dan kutu rambut bisa ikut mati. Yahh, lumayan sih, bisa irit shampoo.

Ini bukan berarti memimpin cara directive sepenuhnya buruk, tapi ada saat- saatnya.

Dalam kondisi tertentu, saat Anda ingin lebih memusatkan diri dalam menguatkan kapasitas tim Anda, mengembangkan potensi individu dalam tim, dan membangun sistem delegasi yang solid untuk masa depan dan tim yang mandiri, Anda perlu memiliki dan menerapkan skill kepemimpinan yang berbeda.

Anda perlu menerapkan metoda coaching dalam memimpin.

Coaching dalam memimpin tim, karyawan, siswa, dan anak

Berbeda dari pandangan kebanyakan orang, metoda coaching berbeda dari mentoring, dan berbeda pula dari counseling dan consulting!

Coaching yang saya gunakan dalam program saya, dan di buku saya “Lakukan Dengan Hati” menggunakan dasar metoda coaching ICF (International Coach Federation).  Kita memusatkan diri pada pertanyaan yang TEPAT, dan menyerahkan kendali pada coachee, atau lawan bicara kita, dan sebagai akibatnya, akan lebih bisa diterapkan oleh mereka.

Misalnya, perhatikan perbedaan kalimat- kalimat ini. Kalimat kedua adalah kalimat bersifat coaching.

- “Harusnya kamu bisa melakukan ini”, dengan pertanyaan coaching “Apa yang perlu kamu lakukan agar bisa melakukan ini?”

- “Harusnya target ini bisa tercapai”, dengan “Apa rencana kamu agar target ini bisa tercapai?”

- “Masalah begini saja kok nggak bisa sih!”, dengan “Apa yang membuat masalah ini menghambat kamu? Dan bagaimana kamu akan menanganinya?”

Terasa bedanya? Pertanyaan coaching cenderung akan mengeluarkan jawaban dan potensi natural tim, karyawan, dan siswa atau anak Anda.

Beberapa keuntungan menerapkan coaching dalam memimpin dan mendidik, antara lain:

1. Coaching mengembangkan potensi ASLI individu.

Mentoring adalah metoda pengembangan yang sangat baik, dan bersifat transfer informasi atau transfer kompetensi. Mentoring akan optimal saat diterapkan pada mereka yang memiliki motivasi kerja tinggi, namun memiliki skill dan kompetensi rendah.

Namun dalam mentoring, skill, dan kelemahan yang ditransfer terbatas pada kekuatan dan kelebihan mentornya saja! Artinya, sang mentee (murid) akan menjadi copy si mentor, dan potensi asli yang berbedanya tidak akan keluar. Coaching akan mengeluarkan potensi ini.

2. Coaching membangkitkan kreativitas dan menggali jawaban yang personal.

Dengan memakai pertanyaan-pertanyaan coaching, kita menggali dan mengurai situasi dan kondisi serta permasalahan dalam diri coachee.

Yang artinya, kreativitas, kemandirian, dan kemampuan memecahkan masalah akan berkembang dari dalam. Semua orang berbeda, semua masalah berbeda, dan tidak semua solusi sama.

Dengan coaching, solusi yang akan didapatkan adalah solusi yang paling ideal, sesuai dengan identitas si coachee, dan lebih tepat dengan kondisi lapangan yang dihadapi tim, siswa, atau anak kita.

3. Coaching dapat membangkitkan loyalitas dan menurunkan turn over.

Manusia suka mendapat pengakuan, mendapat perhatian, dan mendapat kepercayaan. Baru- baru ini, saya meng-coaching tim sebuah perusahaan dengan turn over yang sangat tinggi, karena sang atasan JARANG memberi kepercayaan dan pengakuan pada timnya. Coaching akan meletakkan lampu sorot dan kesempatan yang dicari tim dan orang lain. Membuatnya lebih loyal dan merasa puas, dan juga bertanggungjawab.

Page:
EditorErlangga Djumena
Komentar