Langkah Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Dinilai Tepat - Kompas.com

Langkah Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Dinilai Tepat

Estu Suryowati
Kompas.com - 17/03/2017, 08:12 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan/Kompas.com Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (16/2/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan Bank Indonesia ( BI) menahan suku bunga BI 7-day repo rate sebesar 4,75 persen ketika bank sentral Amerika Serikat (AS) mengerek suku bunga acuan, dinilai sangat tepat.

Ekonom Bahana Securities Fakhrul Fulvian mengatakan, BI menetapkan suku bunga tak berubah karena melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan pemulihan.

Selain itu, ekspektasi kenaikan rating Indonesia dari Standard and Poors masih memberikan sentimen positif terhadap pasar keuangan Indonesia.

''Urgensi untuk pengetatan kebijakan moneter belum ada, mengingat tendensi re-rating dari pasar keuangan pra kemungkinan naiknya rating Indonesia dari S&P akan membuat arus modal masuk berlanjut,'' kata Fakhrul kepada Kompas.com lewat keterangan tertulis, Jumat (17/3/2017).

''Hal ini akan membuat sentimen positif untuk rupiah, saham, dan obligasi masih akan berlanjut hingga pertengahan tahun ini,'' jelas Fakhrul.

(Baca: Meski Ada Risiko, BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen)

Risiko Inflasi Global

Kendati demikian, Fakhrul melihat BI tentu mencermati naiknya tekanan inflasi di pasar global, yang pada akhirnya akan mempercepat siklus pengetatan moneter di negara-negara maju. Hal itu tentunya akan berdampak pada penguatan dollar AS.

"Sementara itu, inflasi di dalam negeri masih terjaga sesuai dengan target sekitar tiga hingga lima persen, meski ada tekanan kenaikan dari harga yang diatur pemerintah khususnya dari kenaikan tarif listrik," ucap Fakhrul.

Dengan meningkatnya inflasi global dan mulai dikuranginya stimulus di Eropa, Bahana Securities memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan risiko pengetatan moneter tidak hanya akan datang dari AS saja tetapi juga dari Uni Eropa.

"Meski demikian ancaman kenaikan suku bunga dari negara-negara maju ini, tidak perlu terlalu dikhawatirkan, sepanjang pemerintah bisa mempertahankan dan melanjutkan pemulihan ekonomi yang sedang berjalan saat ini,'' kata Fakhrul.

Pemulihan Berlanjut

Dewan Gubernur BI meyakini pemulihan ekonomi akan berlanjut, yang tercermin pada pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2017 yang diperkirakan tumbuh relatif tetap kuat dari kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh investasi, konsumsi yang masih kuat serta kinerja ekspor yang positif seiring dengan kenaikan harga komoditas dunia.

Sehingga BI meyakini pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017, akan berada pada kisaran 5 persen-5,4 persen.

Pemulihan ekonomi juga tercermin pada peningkatan permintaan kredit pada Januari yang tumbuh sebesar 8,3 persen secara tahunan, lebih tinggi dari pencapaian akhir 2016, yang hanya tumbuh sebesar 7,9 persen.

Sementara itu pembiayaan ekonomi dari pasar modal baik, dengan penerbitan saham perdana atau initial public offering (IPO) dan rights issue, maupun melalui penerbitan obligasi korporasi dan medium term note (MTN) masih memperlihatkan peningkatan.

Sebagai informasi, Rapat Dewan Gubernur BI kemarin Kamis (16/3/2017) memutuskan suku bunga acuan tetap tak berubah untuk yang kelima kali. 

Hal itu dilakukan setelah rapat dewan gubernur bank sentral AS, the Federal Open Market Committee (FOMC) atau yang akrab disebut The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) sebesar 0,25 persen menjadi 1 persen.

PenulisEstu Suryowati
EditorAprillia Ika
Komentar