Gaji Direksi dan Komisaris Emiten Besar Naik - Kompas.com

Gaji Direksi dan Komisaris Emiten Besar Naik

Kompas.com - 09/04/2017, 07:03 WIB
thikstockphotos ilustrasi rupiah

JAKARTA, KOMPAS.com - Jajaran komisaris dan direksi emiten kakap turut menikmati manisnya pertumbuhan kinerja bisnis tahun lalu. Kompensasi yang diterima manajemen kunci terus membesar.

Tahun lalu, pertumbuhan gaji tertinggi ditorehkan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Sepanjang 2016, total kompensasi yang diterima jajaran direksi dan komisaris TLKM mencapai Rp 427 miliar. Jumlah ini tumbuh 154 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 168 miliar.

Jika dibagi rata, direksi dan komisaris TLKM mendapat gaji dan imbalan kerja senilai Rp 2,85 miliar per tahun. "Soal remunerasi ini, sudah disetujui para pemegang saham," kata Arief Prabowo, Vice President Corporate Communications Telkom kepada Kontan, Jumat (7/4/2017).

Kompensasi yang diterima ini sudah termasuk gaji bulanan, ditambah tantiem atau bonus kinerja, tunjangan lain dan imbalan pasca kerja selama satu tahun.

Selain Telkom, pengurus PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga menikmati kenaikan gaji dan bonus cukup besar. Pertumbuhannya mencapai 28 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp 892,124 miliar.

Tapi, kondisi berbeda terjadi di sektor perbankan. Dari empat bank jumbo, cuma manajemen BBRI dan BMRI yang mendapat kenaikan kompensasi. Kompensasi direksi BMRI naik 11 persen jadi Rp 402,92 miliar dan gaji petinggi BBRI naik 3 persen jadi Rp 305,23 miliar.

Untuk gaji bos BBCA susut 1 persen menjadi Rp 414,59 miliar. Bahkan penghasilan petinggi BBNI merosot 15 persen menjadi Rp 121,99 miliar.

Kompensasi yang diterima sangat bergantung kinerja. Dalam kompensasi itu, ada tantiem yang dipengaruhi perolehan laba. "Ketika laba naik, tantiemyang diterima juga naik," ujar analis Koneksi Kapital, Alfred Nainggolan.

Sebaliknya, ketika laba turun, maka tantiem ikut susut. Tapi ini hanya salah satu basis perhitungan. Masih ada perhitungan lain, seperti pemberian kompensasi berdasarkan kapitalisasi pasar.

"Kompensasi yang diterima sejauh ini sesuai dengan tanggung jawab dan sebanding dengan kinerja yang dihasilkan," jelas Alfred.

Tapi, ia memberikan satu catatan bagi BMRI. Jika gaji naik karena kenaikan rutin tahunan, itu wajar. Tapi, jika porsi tantiem yang diterima membesar, hal ini kurang pas dengan kinerja BMRI.

Tahun lalu, tantiem yang diterima direksi BMRI Rp 242,81 miliar, naik 17 persen jika dibanding periode sama tahun sebelumnya. Padahal, laba tahun berjalan BMRI di 2016 Rp 14,65 triliun, turun 31 persen dibanding 2015.

"Seharusnya, ada punishment atau pemberian kompensasi yang berbanding lurus dengan kinerjanya," ungkap Alfred.

Bima Setiaji, analis NH Korindo Securities Indonesia, sependapat. Basis perhitungan kompensasi memang banyak, tapi juga harus dilihat apakah kenaikannya setara dengan pertumbuhan laba. "Jangan kompensasi naik 10 persen tapi laba malah minus," cetus Bima. (Dityasa H Forddanta)

EditorBambang Priyo Jatmiko
SumberKONTAN

Komentar