Semen Indonesia Sabet Penghargaan Pengelolaan Lingkungan Tambang - Kompas.com

Semen Indonesia Sabet Penghargaan Pengelolaan Lingkungan Tambang

Sakina Rakhma Diah Setiawan
Kompas.com - 20/05/2017, 15:30 WIB
KOMPAS.com/Nazar Nurdin Pabrik semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah, Jumat (21/4/2017)

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk menerima penghargaan “utama” untuk pengelolaan lingkungan izin usaha pertambangan tahun 2015 dan 2016. Penghargaan itu diberikan oleh Direktorat Jendral Mineral dan Batubara Kementerian ESDM.

Semen Indonesia merupakan satu-satunya perusahan yang membidangi industri semen yang mendapatkan penghargaan ini.

“Guna menjaga dan tetap merawat keberlanjutan lingkungan hidup, Semen Indonesia dalam operasinalnya menerapkan prinsip kerja perusahaan yang aman sehingga tidak merusak lingkungan," kata Kepala Departemen Raw Material Production Semen Indonesia Musiran dalam pernyataan resmi, Sabtu (20/5/2017).

Musiran menjelaskan, Semen Indonesia memiliki tahapan yang taat lingkungan dalam pengelolaannya. Tahapan pengelolaan lingkungan tersebut dimulai dari perencanaan, penanaman dan pembibitan hingga nantinya bagaimana mengelola pertambangan sendiri selepas ditambang.

Lebih lanjut, Musiran mengatakan bukti pengelolaan tambang yang dilakukan perusahaan ramah lingkungan adalah penggunaan alat Wirtgen dan vermer menggantikan metode blasting atau peledakan.

Alat ini mengurangi kebisingan dan debu ketika dilakukan penambangan yang berdekatan dengan pemukiman warga. Untuk menjaga kelestarian lingkungan paska tambang, Semen Indonesia menanami lahan paska tambang batu kapur di pabrik Tuban sebanyak 158.566 pohon pada area seluas 137 hektar.

Sedangkan lahan paska tambang di tanah liat perusahaan menanam 269.276 pohon pada area seluas 212 hektar.

“Selain itu perusahaan juga menginisiasi terbentuknya Green Belt dan Green Barrier yang berfungsi menjaga udara di kawasan pabrik agar tidak tercemar oleh polusi. Green Belt dan Green Barier adalah filter alami polusi debu sekaligus pencipta oksigen," tutur Musiran.

Kompas TV Demi mendapatkan fakta yang sebenarnya, Aiman mendatangi langsung Pegunungan Kendeng.

 

PenulisSakina Rakhma Diah Setiawan
EditorAprillia Ika
Komentar