Masa Depan Venezuela, Krisis dan Isolasi - Kompas.com

Masa Depan Venezuela, Krisis dan Isolasi

Sakina Rakhma Diah Setiawan
Kompas.com - 01/08/2017, 14:47 WIB
Para demonstran yang membawa ketapel dan bom molotov dihadang pasukan keamanan di jalan raya yang membelah jantung kota Caracas, Venezuela, Rabu (3/5/2017).
Reuters Para demonstran yang membawa ketapel dan bom molotov dihadang pasukan keamanan di jalan raya yang membelah jantung kota Caracas, Venezuela, Rabu (3/5/2017).

CARACAS, KOMPAS.com - Pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengadakan voting pada Minggu (30/7/2017) lalu yang menghasilkan keputusan pendirian Lembaga Konstituen yang beranggotakan para pendukungnya.

Lembaga ini akan menggantikan lembaga legislatif yang sudah ada. Keputusan Maduro itu menimbulkan gelombang protes. Sedikitnya 112 orang tewas saat berunjuk rasa menentahg kebijakan Maduro.

Gelombang unjuk rasa dan ketidakstabilan politik dipandang bakal membuat ekonomi Venezuela tenggelam kian dalam. Krisis ekonomi juga akan terjadi bersamaan dengan krisis kemanusiaan.

"Venezuela akan menjadi lebih terisolasi," kata Francisco Monaldi, pakar kebijakan energi Amerika Latin di Rice University seperti dikutip dari CNN Money, Selasa (1/8/2017).

Banyak pemimpin dunia menyatakan, hasil voting di Venezuela mengikis demokrasi di Venezuela yang memang sudah tipis.

AS, Spanyol, Meksiko, Kanada, Argentina, Brasil, Peru, Kolombia, Kosta Rika, dan Panama menentang voting di Venezuela, sementara Nikaragua dan Bolivia mendukung.

AS pun menjatuhkan sanksi ekonomi bagi industri minyak Venezuela. Perlu diingat, minyak adalah satu-satunya sumber pendapatan negara tersebut.

Para pengunjuk rasa menyatakan bahwa sanksi yang dijatuhkan AS bisa menyebabkan kondisi kekurangan pangan di Venezuela semakin parah jika pemerintah hanya memiliki sedikit cadangan devisa untuk impor pangan.

Secara domestik, produksi pangan Venezuela sangat kecil. Inflasi di Venezuela pun melonjak sangat tinggi akibat kendali harga yang dilakukan pemerintah menyebabkan kekurangan pasokan pangan dan obat-obatan.

Beberapa warga melaporkan telah kehilangan berat badan karena minimnya asupan makanan. Cadangan devisa Venezuela merosot hingga hanya mencapai 9,9 miliar dollar AS. Ini adalah angka terendah sejak tahun 1995.

Utang Venezuela juga menggunung, dan memiliki kewajiban pembayaran obligasi sebesar hampir 5 miliar dollar AS untuk tahun ini.

Selain harus membayar kepada para pemilik obligasi, pemerintah juga harus melunasi utang kepada China, Rusia, maskapai-maskapai penerbangan AS, dan perusahaan penyedia layanan energi.

Para pakar menyatakan, kemungkinan Venezuela mengalami default atau kegagalan secara total menjadi besar.

PenulisSakina Rakhma Diah Setiawan
EditorAprillia Ika

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM