AS-Korea Utara Memanas, Apa Dampaknya bagi Perekonomian Dunia? - Kompas.com

AS-Korea Utara Memanas, Apa Dampaknya bagi Perekonomian Dunia?

Sakina Rakhma Diah Setiawan
Kompas.com - 10/08/2017, 14:30 WIB
Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) merilis foto yang menunjukkan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un tengah menginspeksi uji coba peluncuran misil balistik antarbenua Hwasong-14 di sebuah lokasi yang tidak diketahui, Selasa (4/7/2017). Korea Utara mengklaim uji misil balistik itu sebagai simbol kemampuan persenjataan untuk mengancam dua negara bersekutu, Korea Selatan dan Amerika Serikat.AFP PHOTO / KCNA VIA KNS / STR Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) merilis foto yang menunjukkan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un tengah menginspeksi uji coba peluncuran misil balistik antarbenua Hwasong-14 di sebuah lokasi yang tidak diketahui, Selasa (4/7/2017). Korea Utara mengklaim uji misil balistik itu sebagai simbol kemampuan persenjataan untuk mengancam dua negara bersekutu, Korea Selatan dan Amerika Serikat.

NEW YORK, KOMPAS.com - Ketegangan antara AS dan Korea Utara memanas ketika Presiden Donald Trump menjanjikan kekuatan besar yang tak pernah dilihat sebelumnya. Pernyataan ini menjawab ancaman Pemimpin Korut Kim Jong Un.

Beberapa jam kemudian, Korut merespon pula dengan menyatakan secara serius mempertimbangkan peluncuran misil ke Guam.

Pulau di Samudera Pasifik tersebut merupakan salah satu pangkalan militer besar AS. Meski kedua negara tersebut belum bersinggungan secara langsung, namun hal ini mulai dianggap serius oleh para analis, akademisi, hingga investor.

Jelas kalau AS dan Korut berperang, maka yang akan dirugikan adalah warga, yang bisa saja kehilangan nyawa dan penderitaan lainnya.

Biro riset Capital Economics telah mengukur potensi dampak ekonomi kemungkinan konflik antara AS dan Korut terhadap perekonomian global.

(Baca: Investor Mulai Cari Aman Saat Suhu Politik AS-Korea Utara Memanas)

Analis Gareth Leather dan Krystal Tan dalam laporannya menyatakan, negara-negara yang terlibat dalam konflik besar sejak Perang Dunia II mengalami penurunan signifikan pada pertumbuhan ekonominya.

"Pengalaman dari konflik-konflik militer sebelumnya menunjukkan betapa besarnya dampak perang terhadap ekonomi. Perang di Suriah telah membuat pertumbuhan ekonomi Suriah turun 60 persen," tulis Leather dan Tan seperti dikutip dari Business Insider, Kamis (10/8/2017).

Meskipun demikian, keduanya mencatat bahwa dampak konflik militer terparah sejak PD II adalah pada Perang Korea (1950-1953).

Sebanyak 1,2 juta warga Korea Selatan tewas dan pertumbuhan ekonomi negara itu anjlok 80 persen.

Kedua analis tersebut menyatakan, Semenanjung Korea yang kemungkinan besar menjadi pusat konflik yang melibatkan Korut, akan menanggung beban goncangan ekonomi.

Perekonomian Korsel kemungkinan akan terdampak paling besar. Kondisi ini tak dapat dihindari bakal merambat pula ke perekonomian global.

Pasalnya, Korsel menyumbang 2 persen dari pertumbuhan ekonomi global. Rantai pasok pun secara global diprediksi terdampak.

"Korsel juga juga merupakan produsen terbesar display krital cair di dunia (40 persen dari total secara global) dan produsen semikonduktor terbesar kedunia dunia (pangsa pasar 17 persen). Korsel pun merupakan produsen otomotif penting dan rumah bagi tiga pabrik galangan kapal terbesar di dunia," ungkap Leather dan Tan.

Jika produksi di Korsel hancur karena perang, maka akan ada kelangkaan di seluruh dunia. Dirupsi ini bisa berlangsung lama, di mana menurut Leather dan Tan, butuh waktu dua tahun untuk membangun pabrik semikonduktor saja.

Konflik AS-Korut juga dapat memberi dampak besar bagi perekonomian AS. Pasalnya, AS harus merogoh saku dalam-dalam untuk membiayai perang di luar negeri.

Pada puncak Perang Korea tahun 1952 silam, pemerintah AS membelanjakan 4,2 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk membiayai perang.

Adapun total biaya Perang Teluk kedua tahun 2003 dan setelahnya mencapai 1 triliun dollar AS atau 5 persen dari PDB AS.

"Perang di Korea akan secara signifikan meningkatkan utang federal AS, yang pada posisi 75 persen dari PDB sudah tergolong tinggi dan tak nyaman bagi perekonomian," ungkap Leather dan Tan. 

Kompas TV Korea Utara Ancam Serang Pulau Guam

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisSakina Rakhma Diah Setiawan
EditorAprillia Ika
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM