Menjaga Asa Petani Kakao di Indonesia - Kompas.com

Menjaga Asa Petani Kakao di Indonesia

Achmad Fauzi
Kompas.com - 11/08/2017, 17:13 WIB
Buah Kakao yang dipanen oleh Sutrisno, Petani asal Desa Waringin Sari Timur, Pringsewu, LampungKOMPAS.com/ACHMAD FAUZI Buah Kakao yang dipanen oleh Sutrisno, Petani asal Desa Waringin Sari Timur, Pringsewu, Lampung

PRINGSEWU, KOMPAS.com - Siapa yang tidak mengenal cokelat. Semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa pasti menyukai makanan yang indentik berbentuk batangan ini. Sebelum menjadi cokelat, makanan yang mempunyai rasa manis ini diolah dari biji kakao.

Indonesia merupakan negara terbesar ketiga penghasil kakao di dunia.  Akan tetapi, walaupun negara ketiga terbesar, kondisi petani kakao di Indonesia tidak sejahtera. Pasalnya, pendapatan petani Kakao untuk daerah Lampung dan Sulawesi Selatan pada 2015 rata-rata hanya Rp 6,1 juta per tahun. Dengan begitu, petani hanya mendapatkan rata-rata Rp 500.000 per bulan untuk menghidupi keluarganya. 

Dari sisi produktivitas, rata-rata produksi pertanian kakao di Lampung dan Sulawesi Selatan sebanyak 354 kilogram per hektare. Padahal, idealnya satu hektare lahan bisa dapat memproduksi 700 kilogram per hektare. 

Kondisi tersebut pun dialami oleh petani asal Desa Waringin Sari Timur, Pringsewu, Lampung, Sutrisno yang mengalami kesulitan produksi.  Walaupun telah berpuluh-puluh tahun menjadi kakao, pengetahuan tentang pertanian kakao sangat minim. Hal tersebut yang membuat produksi kakaonya hanya 200 kilogram per hektare per tahun, jauh dari harapan. 

Bahkan, saking frustasinya tidak ada peningkatan produktivitas, Sutrisno ingin mengganti menanam komoditas lainnya, yakni karet.  Namun, hal tersebut urung dilakukan sutrisno  setelah masuknya perusahaan produsen produk Cokelat PT Mondelez Internasional yang ingin membantu dan memberdayakan petani kakao.

"Awalnya kebun kami itu kebun yang rusak. Kami enggak percaya bisa pulih kembali. Dengan adanya kerja sama, mereka (PT Mondelez) dengan gigih melatih dan mendidik kami," ujar Sutrino, saat ditemui di Kebun Kakao, Desa Waringin Sari Timur, Pringsewu, Lampung, Kamis (10/8/2017). 

Menurut pria yang berumur 49 tahun ini, produsen produk Oreo tersebut memberikan berbagai pelatihan dan pengetahuan teknik pertanian sejak tahun 2015. Pelatihan tersebut diantaranya, pemangkasan, pemupukan dan pengembangan pembenihan.

"Jadi kami diajarkan bagaimana cara memangkas dengan benar. Karena kami masih buta dan  awam tentang pemangkasan. Kami dulu juga  jarang sekali memangkas, karena keterbatasan ilmu," jelas dia. 

Hasilnya sangat menggembirakan, setelah mengikuti pelatihan tersebut produktivitas kakao kebun Sutrisno meningkat tajam.  Produksi yang tadinya 200 kilogram per hektare per tahun biji kakao kering,  meloncat  menjadi 2,8 juta ton per hektare per tahun biji kakao kering. 

Jika dikalikan harga kakao Rp 21.000 per kilogram, Sutrisno mendapatkan pendapatan Rp 58,8 juta per tahun. Dengan kenaikan pendapatan tersebut, Sutrisno mengaku taraf hidupnya meningkat.  Bahkan, Sutrisno dapat membeli tanah untuk kebun kakao seluas 1.225 meter persegi seharga Rp 20 juta yang dibayarnya dengan tunai. 

"Kehidupan kami menjadi lebih baik. Saya juga bisa membangun dapur dibagian belakang rumah," tutur dia.  

Cocoa Life

Program Manager Sumatera Mondelez Internasional, Zulkarnain menuturkan, perusahaannya menamakan bantuan ke petani kakao sebagai Cocoa Life.  Menurut dia, Cocoa Life merupakan program pemberdayaan petani, mulai dari teknik pertanian kakao, akses benih, hingga akses penjualan. 

Tidak hanya itu, Cocoa Life juga memberdayakan masyarakat di sekitar seperti pelatihan mengenai keuangan dan pengelolaan bisnis untuk ibu-ibu.  Program ini dijalankan di empat provinsi diantaranya, Lampung, Sumatera Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan.

"Pertanian kakao itu banyak tantangannya, apalagi komoditas kakao sudah kritis. Hampir semua petani kecil menggunakan metode tradisional, sehinga produktivitas sangat kecil," kata dia. 

Hingga saat ini, program Cocoa Life telah diikuti oleh 25.000 petani di 170 desa seluruh Indonesia. Dalam hal ini, Mondelez Internasional juga bermitra dengan perusahaan lain untuk menjalankan program ini. Misalnya, bermitra dengan PT Olam Indonesia untuk menampung biji kakao yang nantinya diproses menjadi cokelat cair. 

Dengan mengeluarkan 400 juta dollar AS atau Rp 5,2 triliun untuk enam negara, Pantai Gading, Ghana, Indonesia, India, Brasil dan Republik Dominika, Mondelez Internasional optimis dapat menjangkau 200.000 petani kakao hingga 2022. 

"Kami yakin dapat petani kakao dapat berdaya dan mandiri. Karena tanpa adanya kakao tidak akan ada cokelat," pungkas dia. 

PenulisAchmad Fauzi
EditorMuhammad Fajar Marta
Komentar
Close Ads X