Asumsi Inflasi dan Return Reksa Dana Dalam Perencanaan Keuangan (2) - Kompas.com

Asumsi Inflasi dan Return Reksa Dana Dalam Perencanaan Keuangan (2)

Rudiyanto Zh
Kompas.com - 15/08/2017, 12:20 WIB
IlustrasiTHINKSTOCK Ilustrasi

Besarnya asumsi return reksa dana sangat penting dalam perencanaan keuangan karena menentukan berapa besarnya investasi yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Di sisi lain, sebagai instrumen investasi kita tidak dapat menentukan return-nya.

Pada artikel sebelumnya, telah dibahas mengenai penentuan asumsi inflasi dalam menghitung perencanaan keuangan yaitu antara 4-6 persen untuk inflasi secara umum dan 7-10 persen untuk inflasi barang-barang tersier.

Baca: Asumsi Inflasi dan Return Reksa Dana Dalam Perencanaan Keuangan (1)

Pembahasan mengenai asumsi return reksa dana sebenarnya juga sudah pernah dibahas dalam artikel terdahulu.

Jika dirangkum kembali, asumsi return untuk masing-masing reksa dana berdasarkan kinerja historis adalah sebagai berikut :

Reksa Dana Pasar Uang di kisaran 5-6 persen
• Reksa Dana Pendapatan Tetap di kisaran 7-10 persen
• Reksa Dana Campuran di kisaran 11-16 persen
• Reksa Dana Saham di kisaran  15-20 persen

Jika dilihat angka di atas, asumsi return untuk reksa dana campuran dan saham sangat lebar. Hal ini mengacu pada data kinerja historis dan memang terdapat reksa dana campuran yang kinerja dan komposisinya menyerupai reksa dana saham.

Asumsi yang lebar bisa menimbulkan masalah dalam melakukan perencanaan keuangan. Sebagai contoh, untuk bisa memperoleh Rp 1 M dalam 10 tahun, dengan asumsi return 15 persen diperlukan investasi senilai Rp 247 juta saat ini.

Namun dengan asumsi 20 persen, nilai kebutuhan investasi yang dibutuhkan adalah Rp 161 juta. Terdapat perbedaan sebesar Rp 86 juta.

Dengan menggunakan strategi investasi berkala, perbedaannya juga bisa menjadi cukup besar. Dimana untuk mencapai Rp 1 miliar dalam 10 tahun, kebutuhan investasi bulanan dengan asumsi return 15 persen adalah Rp 3,8 juta per bulan dan menjadi Rp 2,9 juta per bulan jika menggunakan asumsi 20 persen.

Dalam membuat perencanaan keuangan, adalah lebih baik membuat perhitungan dengan asumsi yang konservatif dan baru kemudian mengharapkan yang terbaik.

Sebab dengan persiapan yang lebih baik, seandainya terjadi hal yang di luar dugaan, setidaknya masih ada kemungkinan tujuan bisa tercapai walaupun membutuhkan nilai investasi yang lebih besar.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka asumsi yang dipergunakan untuk perhitungan perencanaan keuangan adalah 5 persen untuk reksa dana pasar uang, 7 persen untuk reksa dana pendapatan tetap, 11 persen untuk reksa dana campuran dan 15 persen untuk reksa dana saham.

Memahami Adanya Risiko

Penggunaan asumsi return dalam reksa dana tidak dipisahkan dari faktor adanya risiko. Risiko bukan hanya terjadinya kerugian tetapi juga tingkat return yang positif tetapi tidak mencapai tingkat return yang diharapkan.

Kata “asumsi return 15 persen per tahun” untuk reksa dana saham bagi orang awam seolah-olah akan untung 15 persen setiap tahun. Hal ini sangat tidak tepat. Yang lebih benar adalah angka tersebut diperoleh dari rata-rata kinerja reksa dana saham secara historis.

Ada tahun-tahun dimana tingkat return reksa dana saham sama atau lebih tinggi dari 15 persen, ada juga tahun-tahun dimana returnnya di bawah 15 persen atau bahkan mengalami kondisi kerugian. Rata-rata dari kinerja selama bertahun-tahun itulah diperoleh angka kisaran 15 persen.

Terjadinya tingkat return di bawah ekspektasi dapat disebabkan karena berbagai hal mulai dari kinerja pasar negatif dan atau kinerja manajer investasi yang tidak sesuai dengan pasar. Ketika pemilihan sahamnya kurang tepat, kinerja reksa dana dapat negatif walaupun saham secara umum naik.

Hal yang sama juga dapat terjadi pada reksa dana pasar uang, pendapatan tetap dan campuran walaupun dalam tingkatan yang lebih kecil.

Risiko dalam investasi merupakan hal yang tidak dapat terhindarkan. Investor dan perencana keuangan bisa meminimalkan dampak dari risiko tersebut dengan berbagai cara seperti melakukan investasi secara berkala, melakukan diversifikasi pada beberapa jenis reksa dana, melakukan “market timing” dalam berinvestasi, dan atau berinvestasi dalam jangka panjang.

Jangka waktu investasi yang panjang tidak akan menghilangkan efek dari risiko, namun setidaknya akan meminimalkan efeknya. Untuk reksa dana pasar uang, waktu 1 tahun sudah cukup, reksa dana pendapatan tetap 1-3 tahun, reksa dana campuran 3-5 tahun dan reksa dana saham lebih dari 5 tahun.

Walaupun semua upaya sudah dilakukan, tetap tidak menjamin kinerja reksa dana akan sesuai harapan karena bisa jadi kondisi perekonomian pada waktu perencanaan keuangan dilakukan tidak berjalan dengan baik sehingga kinerja dari instrumen investasi tidak sesuai dengan harapan terutama untuk jenis saham.

Adalah sangat penting untuk memahami dan menerima adanya risiko dalam perencanaan keuangan dan investasi sehingga masyarakat lebih siap menghadapinya ketika kondisi tersebut benar-benar terjadi.

Bagaimana jika merasa tidak nyaman dengan risiko? Tidak apa-apa, terdapat pilihan produk yang risikonya sangat kecil seperti tabungan dan deposito begitu pula dengan hasilnya. Pada prinsipnya, High Risk High Return, Low Risk Low Return, No Risk ya.. No Return.

Semoga bermanfaat

EditorBambang Priyo Jatmiko

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM