Ini Alasan ExxonMobil Hengkang dari Blok Migas East Natuna - Kompas.com

Ini Alasan ExxonMobil Hengkang dari Blok Migas East Natuna

Aprillia Ika
Kompas.com - 19/08/2017, 14:33 WIB
Ilustrasi: Pengeboran Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, diresmikan Selasa (30/4/2013).KOMPAS/RINI KUSTIASIH Ilustrasi: Pengeboran Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, diresmikan Selasa (30/4/2013).

BOJONEGORO, KOMPAS.com - ExxonMobil, perusahaan minyak multinasional asal Amerika Serikat (AS), membeberkan alasan mengapa pihaknya memilih untuk hengkang dari wilayah eksplorasi minyak dan gas ( migas) di Natuna, Kepulauan Riau.

Sebelumnya di Juli 2017 lalu, ExxonMobil menyurati pemerintah untuk menyatakan mundur dari blok migas East Natuna.

Erwin Maryoto, Vice President of Public & Government Affair ExxonMobil Indonesia, menjelaskan bahwa pihaknya tidak meneruskan untuk mengelola blok migas di East Natuna bukan akibat isu skema eksplorasi baru yang diajukan pemerintah, yakni skema gross split, yang sempat menuai keberatan para pelaku industri migas.

"East Natuna itu enggak ada kaitannya dengan iklim investasi, atau gross split, atau cost recovery. Bukan itu," kata dia dalam paparannya kepada media di Bojonegoro, Jumat (18/8/2017).

Menurut Erwin, hengkangnya ExxonMobil adalah semata-mata karena hasil dari kajian teknologi dan market untuk eksplorasi di East Natuna kedepannya tidak cukup baik bagi perusahaan. Hasil studi tersebut merupakan hasil studi bersama antara ExxonMobil dan PT Pertamina EP.

Erwin menambahkan, pihaknya tidak ingin menghalangi kepentingan pemerintah jika ingin memanfaatkan blok migas East Natuna. "Apakah Pertamina yang akan lanjutkan eksplorasi di East Natuna, ya Pertamina yang bisa jawab," pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmaja mengungkapkan bahwa pihaknya menerima surat dari Exxon Mobil terkait tindaklanjut investasi di Blok Minyak dan gas (Migas) East Natuna.

"Kami sedang bahas secara internal. Izin pengelolaan wilayah kerja (WK) sudah habis masa berlakunya. Exxon bilang saat ini tidak ekonomis dengan term yang ada," kata Wiratmaja di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (18/7/2017).

Menurutnya, dalam surat itu Exxon mengisyaratkan juga tak akan lagi melanjutkan investasi di blok Migas East Natuna, di tengah habisnya izin pengelolaan WK yang digarap Exxon selama ini. "Jadi dari kalkulasinya Exxon (mundur). Ya begitu isinya," kata Wiratmaja.

Meski demikian, Exxon tetap siap membantu Indonesia untuk mengeksplorasi migas di wilayah tersebut jika dibutuhkan, dengan teknologi yang dimiliki.

Kurtubi, anggota Komisi VII DPR yang membidangi energi menilai, PT Pertamina akan diuntungkan dengan hengkangnya ExxonMobil dari Blok East Natuna.

Sebab dengan demikian, pengelolaan blok yang memiliki kandungan migas empat kali lipat dari blok Mahakam tersebut dapat dikelola sepenuhnya oleh Pertamina selaku perusahaan BUMN.

Kurtubi mengatakan, tidak mempermasalahkan hengkangnya ExxonMobil dari East Natuna. Sebab, Pertamina bisa mencari partner lain yang bisa diajak kerja sama dalam mengelola blok tersebut.

Menurut dia, kerja sama ExxonMobil dan Pertamina di East Natuna tersebut hanya sebatas pemisahan CO2 dari Metan.

 

Kompas TV Cadangan Devisa Indonesia Naik Jadi 125 Miliar Dollar AS

PenulisAprillia Ika
EditorAprillia Ika
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM