Hingga 5 Tahun ke Depan, Jasa Perawatan Pesawat Alami Overkapasitas - Kompas.com

Hingga 5 Tahun ke Depan, Jasa Perawatan Pesawat Alami Overkapasitas

Achmad Fauzi
Kompas.com - 13/09/2017, 17:13 WIB
Mekanik tengah memeriksa pesawat Garuda Indonesia di salah satu hanggar Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (19/7/2017).KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Mekanik tengah memeriksa pesawat Garuda Indonesia di salah satu hanggar Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (19/7/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Pengusaha Pemeliharaan Pesawat Indonesia atau Indonesian Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) menyatakan prospek pertumbuhan pusat perawatan dan perbaikan atau maintenance, repair, dan overhoul (MRO) di Indonesia akan besar. 

Pasalnya, dalam lima tahun ke depan, biaya perawatan dan perbaikan seluruh pesawat maskapai nasional mencapai 2 miliar dollar AS atau Rp 26 triliun per tahun (kurs Rp 13.000). 

Ketua Umum IAMSA, Richard Budihadianto mengatakan, walaupun pertumbuhan bisa dua kali lipat, tetapi MRO Indonesia tidak akan menampung pesawat maskapai nasional. 

Dia menjelaskan, penyerapan biaya perawatan dan perbaikan pesawat pada tahun ini hanya 35 persen.

(Baca: Menteri Rini Harapkan Indonesia Jadi Hub Jasa Perawatan Pesawat Internasional)

Padahal, biaya perawatan dan perbaikan pesawat tahun ini mencapai 1 miliar dollar AS atau Rp 13 triliun (kurs Rp 13.000).

"Saya sampaikan industri MRO akan terus menghadapi over capacity. Karena pertumbuhan jumlah pesawat terus tinggi dan tidak bisa diimbangi dengan kapasitas perawatan," ujar Ketua Umum IAMSA, Richard Budihadianto saat ditemui di Hotel Grand Mercure, Jakarta, Rabu (13/9/2017). 

Menurut Richard, ketidakmampuan MRO disebabkan karena kurangnya kemampuan dari sumber daya manusia (SDM).

Saat ini, kebutuhan SDM bidang sebanyak 1.000 per tahun. Akan tetapi, tamatan sekolah aviasi hanya 250-300 orang per tahun. 

(Baca: Peluang Bisnis Perawatan Pesawat Mencapai Rp 13,2 Triliun per Tahun)

"Jadi ada gap terlalu besar. Dalam hal ini mencetak teknisi baru juga butuh lima tahun," jelas dia. 

Oleh karena itu, tambah Richard, pemerintah harus memperbanyak ?sekolah seperti politeknik jurusan aviasi. Selain itu, tempat praktek dengan fasilitas lengkap juga harus diperbanyak.  

"Sekarang ini politeknik yang memiliki jurusan aviasi tidak banyak. Saat ini juga hanya GMF AeroAsia yang memiliki fasiltas lengkap. Oleh karena itu sekolahnya juga harus diperbanyak," pungkas dia. 

Sekadar informasi, saat ini terdapat 62 MRO yang beroperasi di Indonesia. Sementara, jumlah pesawat maskapai nasional hingga kini sekitar 1.600 pesawat. 

Kompas TV Anak usaha Garuda Indonesia ,Garuda Maintenance Facility, berencana "go public" di bursa saham tahun 2017. Aksi korporasi besar lain dari Garuda Indonesia adalah rencana menambah 9 pesawat baru.

PenulisAchmad Fauzi
EditorAprillia Ika
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM