Tahun 2019, Ekspor Produk Tekstil Indonesia Diprediksi Meningkat - Kompas.com

Tahun 2019, Ekspor Produk Tekstil Indonesia Diprediksi Meningkat

Pramdia Arhando Julianto
Kompas.com - 17/09/2017, 17:07 WIB
CMO 88Spares Rosari Soendjoto berbincang dengan Menperin Airlangga Hartato disela ajang ITMFDok. 88Spares CMO 88Spares Rosari Soendjoto berbincang dengan Menperin Airlangga Hartato disela ajang ITMF

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan nilai ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional akan tumbuh pesat dalam dua tahun ke depan.

Optimisme ini seiring dengan berbagai program dan insentif yang diberikan pemerintah untuk memacu kinerja sektor unggulan tersebut.

“Industri TPT merupakan sektor padat karya berorientasi ekspor. Pada tahun 2019, kami menargetkan ekspornya bisa mencapai 15 miliar dollar AS dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 3,11 juta orang,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto melalui keterangan resmi, Minggu (17/9/2017).

Menurut Menperin, untuk mencapai sasaran tersebut, dibutuhkan investasi baru dan ekspansi di setiap sektor industri TPT.

Baca: Sri Mulyani: Ekspor Tekstil Bodong Rugikan Keuangan Negara

“Kami memperkirakan pada saat itu akan ada penambahan kapasitas produksi sebesar 1.638 ribu ton per tahun dengan nilai investasi Rp 81,45 triliun dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 424.261 orang,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata Airlangga, pemerintah fokus menciptakan iklim investasi yang kondusif dengan menerbitkan kebijakan-kebijakan yang dapat memudahkan pelaku industri dalam berusaha di Indonesia. Misalnya, memfasilitasi pemberian insentif fiskal berupa tax allowance dan tax holiday.

Baca: Tahun Ini, Ekspor Produk Tekstil Nasional Diprediksi Stagnan

“Selain itu, guna meningatkan daya saing, Kemenperin tengah menjalankan program pendidikan vokasi industri dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhan di lapangan. Kami juga telah memiliki program Diklat 3 in 1 untuk operator mesin garmen,” katanya.

Kemudian, industri TPT nasional sedang didorong agar segera memanfaatkan teknologi digital seperti 3D printing, automation, dan internet of things sehingga siap menghadapi era Industry 4.0.

Upaya transformasi ini diyakini dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, selain melanjutkan program restrukturisasi mesin dan peralatan.

Baca: Menperin Berharap Bea Masuk Ekspor Produk Tekstil Indonesia ke AS Bisa Nol Persen

Menteri Airlangga menambahkan, pemerintah juga berupaya membuat perjanjian kerja sama bilateral dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa supaya memperluas pasar ekspor TPT lokal.

“Saat ini dalam proses negosiasi untuk bilateral agreement tersebut, karena bea masuk ekspor produk tekstil Indonesia masih dikenakan 5-20 persen, sedangkan ekspor Vietnam ke Amerika dan Eropa sudah nol persen,” ujarnya.

Digitalisasi

CEO and Co-Founder 88Spares.com, Hartmut Molzhan, mengatakan bahwa arus digitalisasi di industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) tak bisa ditolak layaknya yang terjadi di sektor lainnya.

Hal ini diungkapkan Molzhan saat menjadi salah satu pembicara di ajang The International Textile Manufacturers Federation (ITMF) di Nusa Dua, Bali, Sabtu (16/9/2017).

"Digitalisasi itu datang untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi. Industri tekstil nasional yang mengambil pangsa pasar internasional 2 persen ini tak bisa menolak kehadiran digitalisasi yang sudah menjadi fenomena global," ungkap Molzhan.  

Menurutnya, ada beberapa dampak dari digitalisasi yang terjadi pada sebuah industri yakni munculnya produk yang beragam, inovasi baru, dan terakhir model bisnis yang berubah.

"Kita sudah lihat di industri penerbitan dengan Amazon dalam menjual buku yang mengubah semuanya. Ke depan saya prediksi ini bisa terjadi di industri tekstil dimana mass customization itu tak bisa dielakkan," katanya.

Ditambahkannya, 88spares.com dengan platform B2B marketplace ingin mendorong digitalisasi itu lebih cepat masuk ke industri tekstil nasional agar pelaku usaha Indonesia menjadi kompetitif di masa depan.

"Kita ingin menyambungkan pabrik, vendor, dan industri kecil menengah (IKM) agar bisa berbisnis secara efisien, cepat dan murah. Saat ini sudah saatnya pedagang dan pembeli melakukan perdagangan dengan cara eCommerce yang tentunya bisa lebih efektif dan efisien dari sisi biaya dan waktu," katanya.

Ditambahkan, tekstil dan produk tekstil memang merupakan komoditas yang tidak akan pernah berhenti sehingga perdagangannya dibutuhkan dan pada akhirnya muncul pedagang baru serta menjadikan persaingan kian ketat.

Diakuinya, saat ini perdagangan suku cadang mesin industri tekstil dan produk tekstil masih didominasi oleh pedagang offline, yang banyak melibatkan pihak ketiga dalam proses transaksi sehingga harga akan lebih mahal.

"Kita ada dua fokus ketika sudah commerce. Pertama melayani kebutuhan pabrik kain untuk suku cadang. Kedua membuka akses bagi pabrik atau IKM untuk berinteraksi agar bisa mendapatkan barang murah yang ujungnya produk tekstil Indonesia itu kompetitif untuk ekspor," katanya.


PenulisPramdia Arhando Julianto
EditorAna Shofiana Syatiri
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM