Dulu Curi Pohon, Juragan Perahu Itu Kini Dapat Rp 250 Juta Per Bulan - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerjasama Kompas.com dengan PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP)

Dulu Curi Pohon, Juragan Perahu Itu Kini Dapat Rp 250 Juta Per Bulan

Dimas Wahyu
Kompas.com - 22/09/2017, 14:56 WIB
Mahyudin berdiri di atas salah satu perahu yang ia sewakan kepada Riau Andalan Pulp and Papper. Tak lagi mencuri kayu, kini ia mendapat kesempatan kerja sama dengan RAPP juga bantuan pinjaman modal usaha.Dimas Wahyu Mahyudin berdiri di atas salah satu perahu yang ia sewakan kepada Riau Andalan Pulp and Papper. Tak lagi mencuri kayu, kini ia mendapat kesempatan kerja sama dengan RAPP juga bantuan pinjaman modal usaha.

KOMPAS.com – Tindak kriminalitas umumnya banyak dilatarbelakangi faktor ekonomi, salah satunya karena tidak tersedianya lapangan kerja. Namun dengan tekad baja dan usaha yang keras, pelaku kejahatan dapat mengubah jalan hidupnya. Satu di antaranya adalah Mahyudin Batubara.

Pria berusia 42 tahun warga Pelalawan, Riau, ini pada tahun 2005 tertangkap melakukan pengambilan kayu secara ilegal.

Namun, roda nasib berbalik. Dua belas tahun kemudian, dia menjadi juragan perahu pompong dengan omzet Rp 250 juta per bulan.

"Awalnya, saya di sini ketika pembalakan liar belum dilarang. Sekarang ini Pelalawan sudah menjadi kelurahan, wilayah Sungai Hulumpaya dan Sungai Bandar ini kalau dulu orang bilang tempatnya 'cari nafkah' dengan ambil kayu, rotan, dan ikan," ujarnya.

Saat itu, ia mengandalkan permintaan kayu dari tauke yang mau membayar Rp 100 juta untuk sekian banyak pesanan, lalu mengantarkannya dengan perahu melewati kanal atau sungai-sungai kecil di antara hutan.

Pesanan semacam ini diakuinya tidak datang tiap waktu, dan uang pun harus dibagi ke banyak orang.

"Setelah tahun 2004 tak bisa lagi (asal ambil kayu). Lalu kami datang ke perusahaan, minta apa yang bisa kami kerjakan," akunya kemudian mendatangi perusahaan yang hutannya kerap ia rambah, yakni PT Riau Andalan Pulp & Paper ( RAPP), produsen kertas yang beroperasi di Pangkalan Kerinci, Riau.

Tak diduga, saat itu Mahyudin diajak jalan-jalan oleh perwakilan perusahaan yang ia sebut Pak Flores. Ia dibawa keliling dengan mobilnya untuk melihat apa yang mungkin bisa dikerjakan Mahyudin dan rekan-rekannya yang senasib.

"Lalu saya bilang, ya sudah, saya yang (bantu) bongkar muat di sini karena kan transportasinya pakai (perahu) pompong. Itu biasa dengan kegiatan kami sehari-hari. Alhamdulillah bisa saling sinergi. Kami butuh uangnya, mereka butuh jasanya," ungkapnya.

Terpukul

Menjalani usaha yang sesuai dengan aturan, dan tidak berbenturan dengan hukum, tidak lantas membuat Mahyudin langsung lapang pikiran dan perasaan.

"Yang dadakan begitu kan bikin mental tidak siap. Awalnya kami shock dengan perubahan, apakah kami mampu hidup dengan cara begini," ujarnya menggambarkan bahwa penghasilannya menurun drastis saat itu.

Pada masa awal kerja sama tersebut, ia dan teman-temannya hanya dipercaya mengelola lima perahu. Namun, bukan cuma akses yang rupanya diberikan oleh RAPP.

"Selain mental, kami dituntut perusahaan untuk belajar administrasi keuangan. Saat itu kami dituntut bikin usaha sendiri, lalu kami bikin CV Mitra Pelalawan Setia," kata Mahyudin.

Tahun 2012, Mitra Pelalawan Setia menjadi perseroan terbuka (PT). Jumlah perahu pompong membengkak dari lima unit menjadi 45 unit dengan karyawan 47 orang, termasuk bagian perawatan.

Bukan cuma perahu, ia pun memiliki belasan speedboat 15 PK untuk mengangkut karyawan dan manajemen saat mengontrol penanaman, sementara pompong dimodifikasi dengan rak-rak untuk digunakan mengangkut bibit.

Setidaknya, kemudian ada empat perusahaan di bidang yang sama dengan usaha Mahyudin. Namun, jumlah kapal miliknya tergolong yang paling banyak, dan semuanya disewakan kepada RAPP.

Mahyudin, mantan perncuri kayu yang jadi juragan perahu, saat diwawancara di tempat pembibitan Riau Andalan Pulp and Papper (RAPP), bagian dari APRIL, Rabu (13/9/2017). Lelah ditangkap, ia kemudian mendapat kesempatan menyewakan perahu-perahunya kepada RAPP.Dimas Wahyu Mahyudin, mantan perncuri kayu yang jadi juragan perahu, saat diwawancara di tempat pembibitan Riau Andalan Pulp and Papper (RAPP), bagian dari APRIL, Rabu (13/9/2017). Lelah ditangkap, ia kemudian mendapat kesempatan menyewakan perahu-perahunya kepada RAPP.

"Omzet Rp 250 juta per bulan, itu masih bayar gaji orang. Bersih untuk saya Rp 50 jutaan. Perawatan juga di situ. Lalu karyawannya kontrak tahunan. Rata-rata gajinya Rp 2,35 juta, sesuai UMK (upah minimum kabupaten)," aku Mahyudin.

Dari RAPP, usaha Mahyudin sempat dibantu dengan pinjaman Rp 100 juta. Namun, ia kini mandiri dengan meminjam uang dari bank sebesar Rp 500 juta sebagai biaya operasional awal perusahaannya.

"Ya setiap orang punya cita-cita, kalau lihat kondisi sebelumnya ya enggak sangka juga bisa begini ya."

Pompong yang menurut warga setempat dinamai karena bunyi mesinnya yang terdengar seperti "pom-pong pom-pong" adalah aset terbesar usaha penyewaan Mahyudin, di samping alat berat berupa ekskavator.

"Perusahaan (RAPP) ini kan sangat anti dengan api. Ya kami coba bantu. Kalau ada yang bakar-bakar (di wilayah dekat RAPP), saya tawarkan ke pelaku itu biar saya yang bersihkan, nanti biayanya cicil ke saya," ujarnya lagi-lagi menguatkan sinergi antar-bidang usaha.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisDimas Wahyu
EditorSri Noviyanti
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM