Prospek Investasi Saham di 2017 - Kompas.com

Prospek Investasi Saham di 2017

Berly Martawardaya
Kompas.com - 04/10/2017, 06:00 WIB
Pengunjung memotret pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (25/9/2017).KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Pengunjung memotret pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (25/9/2017).

PADA hari senin tanggal 2 Oktober 2017, Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) sempat menyentuh posisi tertinggi di 5.936 untuk lalu ditutup pada 5.914 yang merupakan titik tertinggi pada 10 tahun terakhir, sebagaimana dijabarkan pada gambar berikut.

Apabila seeorang membeli saham senilai Rp 10 juta pada Oktober 2008 yang nilainya mengikuti IHSG, lalu menjualnya pada awal Oktober 2017, maka dalam 10 tahun investasinya akan naik 530 persen menjadi Rp 50 juta. Jauh lebih tinggi dari deposito di bank.

Bila kita mengambil time frame yang lebih pendek dari Oktober 2015, maka investasi serupa akan naik 44 persen lebih tinggi, menjadi 14,4 juta rupiah, yang jelas lebih tinggi dari deposito di bank manapun di Indonesia dalam kurun waktu yang sama.

Tentunya pertanyaan lanjutan kapan saat paling tepat untuk membeli dan menjual sulit dijawab dengan sangat akurat karena melibatkan faktor serta seni dan feeling dalam melakukan trading.

Wuryandani (2011) serta Sapar, Suhadak dan Hidayat (2015) yang menemukan bahwa IHSG berkorelasi erat dengan BI rate, nilai tukar rupiah dan index pasar saham regional khususnya di ASEAN dan Hong Kong.

Grafik pergerakan IHSG 10 tahun terakhir

Kondisi Ekonomi Makro

Bi reverse repo rate sudah mengalami penurunan cukup signifikan dari 5,5 persen di Mei 2016 menjadi 4,25 persen di September 2017.

Dalam teori ekonomi, penurunan BI rate akan juga menurunkan tingkat bunga perbankan walau terdapat time lag beberapa bulan.

Investor yang menalami penurunan tingkat return di perbankan akan melakukan switching ke instrumen investasi lain khususnya saham dan sektor riil.

BI rate pada sisi lain terkait erat dengan tingkat inflasi. Undang Undang Bank Indonesia memberikan mandat utama pada BI untuk menjaga nilai rupiah baik di dalam negeri (inflasi) atau luar negeri (nilai tukar).

Gambar berikut menjabarkan inflasi bulanan Indonesia pada tahun 2014-2017. Data tersebut menunjukkan bahwa inflasi Januari – September tahun 2017 sebesar 2,63 persen telah turun signifikan dari 3,65 persen di 2014 dan 3,07 di 2014 walau masih lebih tinggi dari inflasi periode serupa di 2016 sebesar 1,95 persen.

Inflasi Bulanan 2014-2017BPS Inflasi Bulanan 2014-2017

Pada prinsipnya, Bi rate harus diatas tingkat inflasi sehingga menjadi inflasi menjadi batas bawah BI rate. Bila tingkat inflasi menurun dan bisa ditekan maka Bi rate juga bisa turun sebagaimana telah terjadi dalam 18 bulan terakhir.

Selain memacu investasi ke pasar modal, penurunan BI rate juga mendorong pertumbuhan sektor riil. Menurunnnya cost of capital meningkatkan demand terhadap bank loan yang lalu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Dalam konteks ASEAN, maka penurunan cost of capital menjadi lebih penting karena akan mengurangi selisih competitiveness dengan negara lima ASEAN lainnya sudah lama tingkat bunga referensi bank sentralnya pada kisaran 2-3 persen.

Policy rate di Monetary Authority of Singapore bahkan sudah sejak sub prime mortgage 2009 dibawah 1 persen.

IHSG dan IPO

Dinamika IHSG juga dipengaruhi oleh jumlah perusahaan yang listing khususnya yang baru masuk melalui IPO.

Saat ini tercatat ada 555 perusahaan yang telah go public di Bursa Efek Indonesia dengan 21 perusahaan melakukan listing di tahun 2017 sampai akhir bulan Agustus.

Jumlah tersebut masih kalah dengan di 2013 yang mencatat 30 perusahaan melakukan IPO.

Dijualnya saham perusahaan internet dengan pengguna masif seperti Google dan Facebook ke publik melalui IPO pada tahun 2004 dan 2012 meningkatkan gairah dan nilai pasar saham di Amerika karena berharap mendapat keuntungan dari kenaikannya (capital gain) dalam waktu dekat setelah IPO.

Start up digital di Indonesia tumbuh sangat cepat dalam beberapa tahun ini. Namun tidak banyak dari perusahaan start up yang telah go public. Gairah tersebut ditangkap oleh OJK yang sedang menyiapkan revisi peraturan tentang IPO.

Selama ini perusahaan skala kecil dan menengah harus memiliki aset minimal Rp 100 miliar sebelum masuk bursa dan maksimal pendanaan yang dapat diperolehnya hanya Rp 40 miliar.

OJK akan membuka pintu bagi perusahaan atau startup dengan aset Rp di bawah 50 miliar untuk melakukan penawaran saham perdananya

Kombinasi dari inflasi rendah dan turunnnya BI rate serta kemudahan melakukan IPO berpotensi tinggi untuk menaikkan kinerja pasar saham Indonesia.

Apalagi banyak tanda-tanda perekonomian akan membaik di semaster II -2017 dengan meningkatnya infrastruktur dan investasi.

Banyak investor menunggu rilis data pertumbuhan kuartal 3 (Q3-2017) yang diharapkan pecah telor dari tiga semaster yang stabil di 5,01 persen.

Ini waktunya masyarakat yang mencari instrumen untuk investasinya mulai ancang-ancang melirik saham yang potensial supaya tidak ketinggalan arus bila terjadi bullish market.

Pada lain sisi, perusahaan (konvensional dan start up) yang hendak melakukan IPO juga perlu bersiap-siap untuk meraup modal dari pasar saham setelah beberapa tahun memfokuskan pendanaan pada angel investor dan venture capital.

Tentunya OJK sebagai pengawas sektor keuangan dan pasar modal perlu melakukan verifikasi ketat pada perusahaan yang akan melaintai di bursa untuk melindungi investor.

EditorAprillia Ika

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM