Teknologi Blockchain, Teknologi Masa Depan - Kompas.com

Teknologi Blockchain, Teknologi Masa Depan

Oscar Darmawan
Kompas.com - 10/10/2017, 12:00 WIB
Ilustrasi Transformasi DigitalDok. Istimewa Ilustrasi Transformasi Digital

Sebagai negara yang sangat luas, Indonesia menghadapi dua tantangan utama di tengah berkembang pesatnya ekonomi dan pembangunan nasional, yaitu mendesaknya keberadaan infrastruktur yang terpadu dan kredibilitas tata kelola berbagai sektor.

Kurangnya infrastruktur usaha, tingginya kasus korupsi di banyak sektor dan masih kerap ditemuinya kesalahan manusia (human error) dalam pengelolaan data – baik di sektor pemerintahan maupun swasta – adalah faktor-faktor yang turut membentuk reputasi Indonesia di mata masyarakat global.

Terkait pengelolaan data, kendala untuk mewujudkan akurasi terletak pada pendekatan sentralistik dari sistem berbasis internet yang dibangun.

Sistem perangkat lunak yang pada dasarnya dirancang untuk mengirim data dari satu pihak ke pihak lainnya, membutuhkan satu server terpusat sebagai penerbit dan pengelola data.

Ketika terjadi gangguan pada server, website tidak bisa diakses dan otomatis pengguna tidak dapat menggunakan layanan secara optimal.

Sentralistik Menjadi Desentralistik

Teknologi blockchain dilahirkan sebagai respon atas kekhawatiran sejumlah pihak terhadap cara kerja software yang tersentralisasi.

Teknologi ini lahir pada tahun 2009 bersamaan dengan munculnya Bitcoin – mata uang virtual yang menjadi tren saat ini.

Teknologi blockchain adalah teknologi yang mendasari berjalannya Bitcoin tanpa bergantung kepada server terpusat dan dengan demikian terhindar dari risiko downtime.

Sistem blockchain hadir dengan mengubah pendekatan yang sentralistik menjadi terdesentralisasi.

Pada prinsipnya, teknologi blockchain mengkondisikan setiap server yang menjalankan software ini membentuk konsensus jaringan secara otomatis untuk saling mereplikasi data transaksi dan saling memverifikasi data yang ada.

Oleh karena itu, ketika salah satu server mengalami hack, server tersebut dapat diabaikan karena dianggap memiliki data yang berbeda dengan mayoritas jaringan server lainnya.

Hal tersebut membuat teknologi blockchain relatif jauh lebih kuat menghadapi serangan dibandingkan teknologi yang tersentralisasi karena selalu ada minimal 1 server yang berjalan untuk menangani transaksi.

Teknologi blockchain memungkinkan konsensus jaringan untuk mencatat dan memvalidasi setiap transaksi sehingga data yang sudah masuk tidak dapat dipalsukan, hilang atau rusak sehingga tidak dapat dimanipulasi oleh penyedia jaringan.

Analogi cara kerja blockchain hampir sama seperti buku kas di bank yang mencatat semua transaksi yang dilakukan oleh penggunanya.

Perbedaannya, hanya pihak berwenang yang dapat mengakses informasi transkasi di buku kas bank, sementara transaksi melalui blockchain dapat dilihat oleh semua pengguna karena informasi yang dikumpulkan juga didistribusikan ke semua orang yang menjalankan server.

Selain itu, karena akses server diberikan kepada semua orang, maka tidak ada pihak yang dapat memalsukan atau pun memodifikasi transaksi.

Tak Sebatas Kegiatan Keuangan

Sektor yang pertama kali melakukan eksplorasi atas blockchain ini tentunya adalah sektor keuangan.

Bank OCBC misalnya, melakukan pilot transfer antarcabang Singapura dan Malaysia yang terbukti hanya memakan waktu 5 menit saja.

Bank Santander, salah satu yang terbesar di Inggris, memproyeksikan teknologi ini bisa menghemat biaya operasional bank lebih dari 20 miliar dollar AS per tahun.

Pada perkembangannya, teknologi blockchain juga dimanfaatkan oleh sektor lain. Sony Global Education bekerja sama dengan IBM menerbitkan artikel dan ijazah dalam jaringan blockchain sehingga ijazah tersebut tidak dapat dipalsukan, rusak atau hilang.

Di sektor kesehatan, penerapannya dilakukan dalam skala yang lebih luas oleh beberapa negara, salah satunya Estonia.

Catatan atau rekam medis satu pasien di rumah sakit A dapat diakses oleh rumah sakit B ketika pasien tersebut dirawat di rumah sakit B, dalam waktu singkat karena sudah tercatat dalam jaringan blockchain.

Di sektor pangan, IBM melakukan kolaborasi dengan produsen dan distributor makanan untuk mengurangi kontaminasi dalam rantai suplai global.

Melalui blockchain, transaksi pangan di seluruh dunia dapat terhimpun secara masif, sehingga jika terjadi kasus kontaminasi makanan, maka sangat mudah bagi otorita terkait untuk melacak sumbernya dan melakukan isolasi cepat.

Contoh lain adalah Alibaba bekerja sama dengan Pricewaterhouse Coopers untuk membantu menyelesaikan keamanan pangan China.

Firma akuntansi dan konsultansi Ernst & Young, di kasus berbeda, meluncurkan platform blockchain untuk memfasilitasi skema kepemilikian mobil bersama atau shared car ownership scheme.

Dengan demikian teknologi blockchain pada dasarnya adalah sebuah ‘transkrip digital’ yang dibuat untuk menghindari penipuan, namun di saat bersamaan memungkinkan akses bagi pihak ketiga sesuai keperluannya.

Teknologi yang masih tergolong sangat muda ini memang belum diterapkan di seluruh bidang dan berbagai percobaan seputarnya terus dilakukan oleh banyak perusahaan.

Tetapi saya percaya di masa depan, teknologi blockchain akan mengubah cara kerja sistem secara menyeluruh, di bidang keuangan dan juga seluruh sektor industri.

Sistem ini dipercaya efektif untuk mendorong terwujudnya transparansi, keamanan dan keakuratan data transaksi.

*****

EditorAprillia Ika
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM