Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengamat: Batasan Tarif untuk Lindungi Konsumen dan Keberlangsungan Usaha

Kompas.com - 20/10/2017, 15:58 WIB
Josephus Primus

Penulis

KOMPAS.com - Batasan penentuan tarif yang menjadi salah satu pokok revisi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek (PM 26) mendapatkan catatan tersendiri dari pengamat yang juga akademisi transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah, Djoko Setijowarno. (Baca: Ini Besaran Tarif Batas Bawah dan Atas Taksi “Online” )

Dalam rilis yang disampaikannya kepada Kompas.com hari ini, Djoko mengatakan batasan tarif pada PM 26 itu ada dua yakni tarif batas atas dan batas bawah. Kesetaraan tarif berguna untuk keberlangsungan bisnis transportasi taksi baik konvensional maupun yang berbasis aplikasi. "Besaran tarif memang harus diatur," tuturnya sembari menambahkan bahwa dirinya menyambut baik larangan tarif promo di bawah tarif batas bawah. (Baca: Luhut: Semua Pihak Sepakati Rancangan 9 Poin Revisi Aturan Taksi Online)

Ia mengingatkan pula, batasan tarif batas atas digunakan untuk melindungi konsumen. Lantas, tarif batas bawah dipakai untuk keberlangsungan usaha transportasi dimaksud. "Dengan batasan itu, pengemudi yang merangkap pebisnis taksi aplikasi mendapat keuntungan yang wajar," katanya lagi.

Djoko melanjutkan penentuan besaran tarif sudah memperhitungkan aspek keselamatan, kenyamanan, dan keamanan penumpang. Hal ini menjadi penting karena tarif murah, misalnya, bisa merugikan pengemudi lantaran tarif macam itu tidak bisa menutup biaya operasional. "Jadi yang harus diperhatikan adalah tarif wajar, bukan tarif murah," kata Djoko sambil menambahkan bahwa masyarakat bisa menuntut kepala daerah menyediakan transportasi umum untuk mencapai area permukiman penduduk. (Baca: Begini Hitungan Grab untuk Tarif Batas Atas dan Bawah)


Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

7 Contoh Kebijakan Fiskal di Indonesia, dari Subsidi hingga Pajak

7 Contoh Kebijakan Fiskal di Indonesia, dari Subsidi hingga Pajak

Whats New
'Regulatory Sandbox' Jadi Ruang untuk Perkembangan Industri Kripto

"Regulatory Sandbox" Jadi Ruang untuk Perkembangan Industri Kripto

Whats New
IHSG Melemah 0,83 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut

IHSG Melemah 0,83 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut

Whats New
Nasabah Bank DKI Bisa Tarik Tunai Tanpa Kartu di Seluruh ATM BRI

Nasabah Bank DKI Bisa Tarik Tunai Tanpa Kartu di Seluruh ATM BRI

Whats New
Genjot Layanan Kesehatan, Grup Siloam Tingkatkan Digitalisasi

Genjot Layanan Kesehatan, Grup Siloam Tingkatkan Digitalisasi

Whats New
Pelita Air Siapkan 273.000 Kursi Selama Periode Angkutan Lebaran 2024

Pelita Air Siapkan 273.000 Kursi Selama Periode Angkutan Lebaran 2024

Whats New
Puji Gebrakan Mentan Amran, Perpadi: Penambahan Alokasi Pupuk Prestasi Luar Biasa

Puji Gebrakan Mentan Amran, Perpadi: Penambahan Alokasi Pupuk Prestasi Luar Biasa

Whats New
Pengertian Kebijakan Fiskal, Instrumen, Fungsi, Tujuan, dan Contohnya

Pengertian Kebijakan Fiskal, Instrumen, Fungsi, Tujuan, dan Contohnya

Whats New
Ekspor CPO Naik 14,63 Persen pada Januari 2024, Tertinggi ke Uni Eropa

Ekspor CPO Naik 14,63 Persen pada Januari 2024, Tertinggi ke Uni Eropa

Whats New
Tebar Sukacita di Bulan Ramadhan, Sido Muncul Beri Santunan untuk 1.000 Anak Yatim di Jakarta

Tebar Sukacita di Bulan Ramadhan, Sido Muncul Beri Santunan untuk 1.000 Anak Yatim di Jakarta

BrandzView
Chandra Asri Bukukan Pendapatan Bersih 2,15 Miliar Dollar AS pada 2023

Chandra Asri Bukukan Pendapatan Bersih 2,15 Miliar Dollar AS pada 2023

Whats New
Tinjau Panen Raya, Mentan Pastikan Pemerintah Kawal Stok Pangan Nasional

Tinjau Panen Raya, Mentan Pastikan Pemerintah Kawal Stok Pangan Nasional

Whats New
Kenaikan Tarif Dinilai Jadi Pemicu Setoran Cukai Rokok Lesu

Kenaikan Tarif Dinilai Jadi Pemicu Setoran Cukai Rokok Lesu

Whats New
Puasa Itu Berhemat atau Boros?

Puasa Itu Berhemat atau Boros?

Spend Smart
Kadin Proyeksi Perputaran Uang Saat Ramadhan-Lebaran 2024 Mencapai Rp 157,3 Triliun

Kadin Proyeksi Perputaran Uang Saat Ramadhan-Lebaran 2024 Mencapai Rp 157,3 Triliun

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com