Navigasi Digital untuk Operasional Bandara Lebih Efisien - Kompas.com

Navigasi Digital untuk Operasional Bandara Lebih Efisien

Yoga Hastyadi Widiartanto
Kompas.com - 09/11/2017, 18:21 WIB
Tampak tower tempat pemandu lalu lintas udara bekerja di Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC) Airnav Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (5/7/2016).KOMPAS.com/ANDRI DONNAL PUTERA Tampak tower tempat pemandu lalu lintas udara bekerja di Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC) Airnav Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (5/7/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktorat Navigasi Penerbangan (Ditnavpen), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memiliki wacana untuk menerapkan sistem navigasi penerbangan digital di Indonesia. Sistem tersebut diharapkan bakal membuat operasional bandara lebih efisien dari aspek biaya, kelancaran serta keselamatan.

"Kami memiliki lebih dari 250 bandara mulai dari yang kecil hingga besar yang perlu dikembangkan dukungan teknologi sistem navigasi penerbangannya. Hal ini untuk mendukung keselamatan, kelancaran dan kenyamanan penerbangan serta efisiensi operasional bandara di Indonesia," ujar Direktur Navigasi Penerbangan Yudhi Sari Sitompul dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Kamis (9/11/2017).

Menurut dia, biaya operasional navigasi penerbangan mencapai 30-40 persen dari biaya operasional bandara. Namun jika berhasil menerapkan digitalisasi pada sistem navigasi itu, maka biaya operasional bandara bisa turun dan lebih efisien.

Sekarang, pemerintah Indonesia sendiri telah mendatangani kerja sama khusus navigasi penerbangan digital dengan pemerintah Swedia. Wujud kerja sama tersebut adalah diselenggarakannya workshop dengan tema pengoperasian remote Air Traffic Services (ATS) pada 8 dan 9 November 2017.

Baca juga : Fasilitas Serba Digital Disiapkan di Bandara Naungan AP II

ATS merupakan pemanduan atau pengaturan pesawat terbang yang diberikan oleh Air Traffic Controller (ATC), dengan tujuan mengamankan lalu lintas udara, mencegah terjadinya tabrakan antara pesawat dengan pesawat atau dengan penghalan lainnya.

Sedangkan remote ATS berarti informasi terkait dengan pengaturan tersebut bisa disuplai oleh menara virtual yang bisa terletak di mana pun, di luar ATC lokal. Bentuknya hanya sebuah pemancar dan tidak dijaga manusia.

“Swedia telah mengembangkan teknologi remote tower ATS dan sudah mengujicobanya di beberapa bandara. Jadi Swedia mempunyai pengalaman dalam implementasi remote tower ini. Kita bisa belajar dan saling berbagi pengalaman dengan Swedia,” terang Yudhi.

Dia berharap dari workshop sistem navigasi penerbangan digital itu, Ditnavpen bersama dengan operator atau AirNav Indonesia dapat menyusun suatu konsep kedepan dan mengetahui seberapa mungkin mengaplikasikan atau menganalisa untung dan ruginya model remote tower ATC bila diterapkan di Indonesia. 

Saat ini Organisasi Penerbangan Internasional (ICAO) terus membuat workshop terkait standard and recommendation practices di bidang remote aircraft (drone) dan juga remote ATS, termasuk di dalamnya terkait remote tower ATC.

Selain Swedia, beberapa negara yang  telah melakukan ujicoba teknologi remote tower ini dengan sukses adalah Australia, Amerika Serikat, Belanda, Norwegia dan Irlandia.

Kompas TV Sektor pembangunan infrastruktur menjadi yang paling menonjol di masa tiga tahun memerintah.

PenulisYoga Hastyadi Widiartanto
EditorErlangga Djumena
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM