Belajar dari Revolusi Putih di India Halaman 1 - Kompas.com

Belajar dari Revolusi Putih di India

Perhimpunan Pelajar Indonesia
Kompas.com - 09/11/2017, 18:30 WIB
Foto arsip yang diambil pada 16 April 2010 ini menunjukkan pelayan yang menyajikan gelas lassi, minuman populer di Asia Selatan, di Punjabi Lassi Stall, Amritsar, India.AFP PHOTO/NARINDER NANU Foto arsip yang diambil pada 16 April 2010 ini menunjukkan pelayan yang menyajikan gelas lassi, minuman populer di Asia Selatan, di Punjabi Lassi Stall, Amritsar, India.

BELUM genap sebulan memimpin Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sudah diminta Prabowo Subianto untuk menjalankan revolusi.

Kali ini bukan revolusi politik yang menakutkan, tetapi Revolusi Putih yang mendorong peningkatan konsumsi susu di kalangan anak-anak.

Prabowo dengan Gerindra-nya beralasan, India dan China sudah menjalankan Revolusi Putih yang membawa dua negara tersebut berhasil meningkatkan gizi penduduknya.

(Baca juga : Hashim Temui Anies, Usulkan Program Revolusi Putih dari Prabowo)

Saya mencoba untuk menilik Revolusi Putih di India. Seperti apa Revolusi Putih di India?

Kata "revolusi" di India erat kaitannya dengan booming produksi pertanian. Sejak sekitar tahun 1960-an, di India ada beberapa revolusi seperti revolusi merah (produksi tomat), revolusi abu-abu (pupuk), revolusi kuning (minyak goreng), revolusi emas (mangga, madu), revolusi perak (telur).

Revolusi Putih atau Operation Flood dicanangkan pemerintah India pada 1970. Konteksnya pada saat itu sebenarnya bukan pada peningkatan konsumsi, melainkan peningkatan produksi susu di dalam negeri.

Sebenarnya jejak Revolusi Putih sudah dirintis pada 1950 oleh Dr Verghese Kuriyen. Doktor di bidang teknik jebolan Michigan State University, Amerika Serikat, ini mendirikan Gujarat Cooperative Milk Marketing Federation (GCMMF) dengan merek susu AMUL (Anand Milk Union Limited).

Kondisi saat itu, harga pangan di India, termasuk susu, sangat fluktuatif karena suburnya pihak ketiga (intermediaries). Dampaknya, konsumen mendapat harga tidak wajar.

Produsen susu dari luar negeri terutama negara-negara Eropa sangat agresif mencaplok pangsa pasar India yang renyah karena populasinya besar.

Kuriyen juga miris melihat kondisi gizi penduduk India, terutama di pedesaan. Saat itu, untuk memenuhi kebutuhan domestik, India masih mengimpor susu.

Inisiatif Kuriyen untuk meningkatkan produksi susu dirintis melalui koperasi. Koperasi menjadi penggerak ekonomi di pedesaan dan memotong jalur distribusi agar petani (pemerah susu) mendapat harga lebih baik ketimbang harga dari pengepul dan konsumen bisa membelinya dengan harga yang kompetitif.

Sejak merdeka dari Inggris pada 1947, gerakan koperasi di India sangat masif demi meningkatkan taraf hidup petani di pedesaan.

Page:
EditorLaksono Hari Wiwoho
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM