Daya Ungkit Kolaborasi BUMDes dan Koperasi Halaman 2 - Kompas.com

Daya Ungkit Kolaborasi BUMDes dan Koperasi

Firdaus Putra, HC
Kompas.com - 13/11/2017, 08:55 WIB
Aep Suherman (45), peternak sapi perah di Desa Wanasuka, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memberi makan sapinya, Kamis (7/9/2017). Dengan memperbaiki desain kandang, tempat pakan, lantai rebahan sapi, dan pola perawatan, Aep dapat meningkatkan produktivitas sapinya dari 12-14 liter per ekor per hari menjadi 15-17 liter per ekor per hari.KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN Aep Suherman (45), peternak sapi perah di Desa Wanasuka, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memberi makan sapinya, Kamis (7/9/2017). Dengan memperbaiki desain kandang, tempat pakan, lantai rebahan sapi, dan pola perawatan, Aep dapat meningkatkan produktivitas sapinya dari 12-14 liter per ekor per hari menjadi 15-17 liter per ekor per hari.

engan keterbukaan koperasi, anggota bisa bertambah saban waktu. Mereka memiliki kesempatan yang sama memodali koperasi lewat instrumen simpanan saham atau lainnya. Makin banyak anggota, makin besar partisipasi modal dari masyarakat.

Dalam kondisi seperti itu, di tahun ketiga atau kelima, BUMDes bisa menarik sebagian penyertaan modalnya, menjadi tersisa hanya 20 persen, misalnya.

Dana segar itu dapat BUMDes investasikan kembali pada jenis koperasi lainnya. Polanya sama, bila modal masyarakat sudah cukup kuat, BUMDes menarik sebagian penyertaannya dan sisakan sebagian sebagai fungsi kontrol.

Pola itu bisa dilakukan berulang kali pada jenis koperasi berbeda seperti skema revolving fund.

Pada titik itu, BUMDes menjadi semacam fund management yang melakukan investasi di banyak perusahan berlainan sektor. Keunggulannya adalah menyebar resiko atas kerugian usaha, memperluas manfaat bagi banyak sektor dan orang, serta balas jasa yang berkelanjutan. Dalam skema investasi itu berlaku diktum, 1 kali 7 lebih bagus daripada 7x1.

Daya ungkit kolaboratif

Pola kolaborasi di atas akan menghasilkan daya ungkit bagi semua pihak. Pertama, BUMDes yang lahir belakangan tak perlu melakukan kesalahan berulang-kali seperti yang dialami oleh perusahaan koperasi.

Bagaimanapun, koperasi memiliki pengalaman panjang dengan serial jatuh-bangun berulang. Dan karenanya, koperasi memiliki kapasitas kewirausahaan dan manajemen yang baik hasil praktik puluhan tahun.

Kedua, terjadi akselerasi modal pada koperasi untuk pengembangan usaha, apalagi bila balas jasanya lebih rendah dari bank.

Di sisi lain, penyertaan modal pada koperasi menjadi instrumen bagi peningkatan tata kelola yang baik (good cooperative governance). Koperasi dituntut lebih profesional, transparan dan akuntabel.

Ketiga, masyarakat dilindungi oleh BUMDes dari praktik sesat koperasi yang banyak berkembang di masyarakat. Adalah rahasia umum bahwa citra koperasi terpuruk karena praktik rentenir berkedok koperasi.

Sebagai wali amanah, BUMDes melindungi hak masyarakat. Gilirannya hal itu dapat mendukung kerja dinas koperasi di daerah-daerah yang biasanya kekurangan SDM pengawasan.

Keempat, peluang terjadinya kompetisi antara BUMDes dan koperasi menjadi berkurang atau hilang sama sekali.

Bagaimanapun keduanya memiliki pasar yang sama, desa. Alih-alih berkompetisi, lebih baik bekerja sama. Jangan dilupakan, keduanya hadapi kompetitor yang sama: konglomerasi swasta kapitalis, kartel di berbagai sektor, dan sejenisnya.

Kelima, jaringan kerja BUMDes akan meluas dan transnasional. Hal itu karena gerakan koperasi memiliki wadah gerakan koperasi internasional, International Cooperative Alliance atau ICA, yang efektif di tiap regional.

Holding BUMDes sebagai perusahaan sosial dapat ajukan keanggotaan khusus, misalnya di ICA Asia Pacific. Tentu akan sangat mendukung bagi kerja sama antar kawasan.

Bandul politik

Secara jangka panjang, kolaborasi itu lebih berkelanjutan bagi masyarakat desa. Bagaimanapun, kita tak bisa memastikan apakah dana desa masih bergulir sampai
10 tahun mendatang. Hal itu karena belanja negara pasti akan membengkak.

Penyebab lain, praktis hal itu sangat bergantung pada kemauan politik rezim berkuasa. Dan terakhir, tujuan pembangunan adalah tercapainya kemandirian masyarakat. Masyarakat harus berdikari, meski tanpa dana desa.

Sekarang merupakan momen tepat melakukan investasi jangka panjang: memobilisasi, membangun, dan mengolaborasi sumber daya di desa.

Bila ternyata bandul politik berubah, masyarakat sudah cukup memiliki sumber daya untuk dikelola bersama melalui koperasi yang terhubung lewat BUMDes.

Di sana BUMDes menjadi private-public platform yang pertemukan aneka jenis koperasi di masyarakat. Mari berkolaborasi!

Page:
EditorLaksono Hari Wiwoho
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM