Soto, Kopi, dan Tenun Jadi Ikon Indonesia - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Kominfo

Soto, Kopi, dan Tenun Jadi Ikon Indonesia

Kompas.com - 17/11/2017, 07:15 WIB
Penenun kain tradisional dari berbagai daerah di nusantara umumnya perempuan. Dengan menenun, perempuan meningkatkan ekonomi keluarga.FIKRI HIDAYAT Penenun kain tradisional dari berbagai daerah di nusantara umumnya perempuan. Dengan menenun, perempuan meningkatkan ekonomi keluarga.


KOMPAS.com - Diharapkan, ekonomi kreatif berkembang menjadi soft power yang dapat diandalkan oleh Indonesia untuk meningkatkan posisi di pasar global.

Salah satu langkahnya adalah melibatkan para calon duta besar (dubes), yang merupakan perwakilan Indonesia di negara lain.

Saat ini, Bekraf tengah mengembangkan berbagai program yang memerlukan dukungan jejaring internasional kuat, seperti Diplomasi Soto, Kopi, dan Tenun.

Namun, diplomasi kuliner dan fashion tersebut tak akan berhasil bila para duta besar yang menjadi perwakilan Indonesia tak gencar berpromosi.

Secara keseluruhan, Bekraf membidangi 16 subsektor ekonomi kreatif, antara lain fashion, film dan animasi, kuliner, kriya, seni rupa, seni pertunjukan, seni musik, arsitektur, desain komunikasi visual, desain produk, pengembang aplikasi dan games, televisi dan radio, serta fotografi.

Baca: Bank Indonesia Turut Kembangkan Ekonomi Kreatif

“Fashion, kuliner dan crafts (kerajinan tangan) itu sudah besar, dan kami mau akselerasi. Ada juga lainnya yang menjadi prioritas untuk dikembangkan, yakni games, aplikasi, musik dan film,” Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, pada diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Kantor Staf Presiden, Selasa (17/10/2017).

Bekraf juga terus berupaya meningkatkan kesadaran para pemangku kepentingan untuk menyadari betapa pentingnya upaya bersama mendorong sektor ekonomi kreatif lain.

“Di masa depan, ekonomi tidak semata-mata bergantung pada sumber daya alam mentah,” ujar Triawan.

Pengrajin menyelesaikan pembuatan radio berbahan bambu di Galeri Bambootronic di Jalan Rante, Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Kamis (5/11/2015). Galeri Bambootronic juga membuat  Kerajinan jam gravitasi yang dibanderol dengan harga Rp 5 juta sampai Rp 15 juta dan sudah dipasarkan sampai ke mancanegara.KOMPAS.com / RAMDHAN TRIYADI BEMPAH Pengrajin menyelesaikan pembuatan radio berbahan bambu di Galeri Bambootronic di Jalan Rante, Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Kamis (5/11/2015). Galeri Bambootronic juga membuat Kerajinan jam gravitasi yang dibanderol dengan harga Rp 5 juta sampai Rp 15 juta dan sudah dipasarkan sampai ke mancanegara.

Bekraf mencatat, kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2014 adalah Rp 784,82 triliun atau meningkat 8,6 persen pada 2015 menjadi Rp 852 triliun.

“Dari total kontribusi tersebut, sub-sektor kuliner, kriya, dan fashion memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi kreatif,” tambahnya.

Sub-sektor kuliner tercatat berkontribusi sebasar 41,69 persen, kemudian fashion sebesar 18,15 persen, dan kriya sebesar 15,70 persen.

Selain itu, industri film bertumbuh 10,28 persen, musik 7,26 persen, seni/arsitektur 6,62 persen, dan game tumbuh 6,68 persen.

Model memperagakan busana karya Denny Wirawan dalam peragaan busana bertajuk Pasar Malam di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9/2015). Denny menghadirkan 80 koleksi busana ready to wear dari label keduanya, Balijava by Denny Wirawan, yang terinspirasi dari Batik Kudus. KOMPAS IMAGES / RODERICK ADRIAN MOZESRODERICK ADRIAN MOZES Model memperagakan busana karya Denny Wirawan dalam peragaan busana bertajuk Pasar Malam di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9/2015). Denny menghadirkan 80 koleksi busana ready to wear dari label keduanya, Balijava by Denny Wirawan, yang terinspirasi dari Batik Kudus. KOMPAS IMAGES / RODERICK ADRIAN MOZES

Tiga Negara tujuan ekspor komoditas ekonomi kreatif terbesar pada 2015 adalah Amerika Serikat 31,72 persen, Jepang 6,74 persen, dan Taiwan 4,99 persen.

Walau bertumbuh, memang masih ada yang harus diperhatikan dalam pengembangan ekonomi kreatif. Salah satunya ekosistem bisnis dan investasi, di samping itu infrastruktur juga penunjang kegiatan.
 
Karena besarnya potensi ekonomi kreatif, pemerintah tidak ragu untuk memberikan bantuan permodalan.

Sektor ini dinilai paling memberi kesempatan kerja kepada anak-anak muda, demikian juga khususnya kaum perempuan.

Tenun tradisional menjadi salah satu ikon Indonesia dalam soft diplomacy di dunia internasional, selain soto dan kopi. Tenun tradisional menjadi salah satu ikon Indonesia dalam soft diplomacy di dunia internasional, selain soto dan kopi.

Ditinjau dari status jender, 62,84 persen tenaga kerja Indonesia pada 2015 adalah laki-laki dan sisanya atau 37,16 persen adalah perempuan. Namun, ekonomi kreatif justru membalik fakta itu, bedasarkan data Bekraf justru perempuan mendominasi ekonomi kreatif yaitu sebanyak 53,68 persen dan sisanya sebesar 46,52 persen laki-laki.

Pelaku ekonomi kreatif juga telah mengakses permodalan dari bank. Pada 2016, permodalan yang diakses dari perbankan sebesar Rp 7,668 triliun dan angka tersebut melampaui target yang hanya sebesar Rp 4,9 triliun.

Sementara itu, pada 2017, tercatat pelaku ekonomi kreatif mengakses modal dari perbankan sebesar Rp 192, 9 miliar dari target Rp 280 miliar. Dengan demikian, total capaiannya sebesar Rp 7,86 triliun.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorKurniasih Budi
Komentar