Ini Usulan MPSI untuk Kesejahteraan Petani Tembakau - Kompas.com

Ini Usulan MPSI untuk Kesejahteraan Petani Tembakau

Kompas.com - 12/02/2018, 16:41 WIB
Pekerja menjemur daun tembakau varietas gagang rejeb sidi di Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (17/11). Komisi Pelepasan Varietas Kementerian Pertanian menetapkan tembakau varietas gagang rejeb sidi sebagai varietas unggulan baru asal Tulungagung yang memiliki kadar nikotin tinggi (4,04 persen), volume produksi rata-rata sembilan kuintal per hektare, tahan terhadap penyakit tanaman serta kualitas atau mutu yang diakui produsen maupun pasar tembakau nasional.ANTARA FOTO/DESTYAN SUJARWOKO Pekerja menjemur daun tembakau varietas gagang rejeb sidi di Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (17/11). Komisi Pelepasan Varietas Kementerian Pertanian menetapkan tembakau varietas gagang rejeb sidi sebagai varietas unggulan baru asal Tulungagung yang memiliki kadar nikotin tinggi (4,04 persen), volume produksi rata-rata sembilan kuintal per hektare, tahan terhadap penyakit tanaman serta kualitas atau mutu yang diakui produsen maupun pasar tembakau nasional.


JAKARTA, KOMPAS.com - Petani tembakau di Indonesia layak diberi perhatian agar makin sejahtera. Salah satu yang menjadi perhatian Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI) adalah perlunya kemitraan antara produsen rokok dan para petani.

"Perintahkan kepada semua pabrik rokok untuk membangun program kemitraan, dijamin petani tembakau sejahtera," tutur Ketua Paguyuban MPSI Djoko Wahyudi sebagaimana rilis yang diterima Kompas.com, kemarin.

Lantaran itulah, MPSI memberikan penilaian bahwa upaya mengerem impor tembakau bukanlah kebijakan yang tepat. Pemerintah dalam hal ini menggunakan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 84/2017 untuk mengatur masuknya tembakau dari luar Indonesia ini. "Produksi tembakau di dalam negeri saat ini belum mencukupi kebutuhan industri rokok nasional," tutur Djoko.

Dalam beleid tersebut, tercatat ada pembatasan impor tembakau jenis virginia, burley, dan oriental. Padahal, ketiga jenis tembakau ini dibutuhkan industri rokok, sedangkan hasil pertanian tembakau dalam negeri belum mencukupi.

Sementara, terkait kemitraan, imbuh Djoko Wahyudi, pemerintah harus hadir memberikan arahan kepada para pabrikan rokok yang sejauh ini belum melakukan kemitraan, untuk segera menjalin kerja sama dengan petani tembakau. Lebih baik lagi jika arahan tersebut dikuatkan dengan payung hukum. "Sehingga pabrikan bisa memberikan pembinaan yang baik,” katanya.

Di samping itu, melalui program kemitraan, pabrik rokok dapat langsung mendiskusikan dengan para petani terkait besaran jumlah tembakau yang diperlukan untuk produksi dan kualitasnya.

Dengan begitu, ketergantungan terhadap impor akan berkurang. "Kalau begini, petani dan pabrikan rokok sejahtera. Pabrikan tetap jalan dan karyawan bisa terus bekerja. Semuanya enak,” ucap dia.

Data

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, jumlah produksi tembakau secara nasional hanya mencapai kisaran 190.000-200.000 ton per tahun. Angka tersebut jauh di bawah kebutuhan industri, yakni 320.000-330.000 ton tembakau per tahun.

Data terkini dari laman komunitaskretek.or.id menunjukkan jumlah petani tembakau di Indonesia ada 527.688 orang. Dari jumlah itu, 301.847 orang ada di Jawa Timur.

Laman itu juga memberi informasi bahwa di ASEAN, jumlah petani tembakau di Indonesia berada di urutan paling atas disusul Vietnam 220.000 orang, Thailand 49.166 orang, Filipina 55.533 orang, Kamboja 13.000 orang, serta Malaysia 3.024 orang.

Total luas lahan tembakau di Indonesia mencapai 195.620 hektar.


Komentar
Close Ads X