Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kondisi Ekonomi Indonesia Tahun 2019 Diprediksi Membaik

Kompas.com - 03/01/2019, 06:29 WIB
Mutia Fauzia,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Meskipun kondisi global tetap menantang, para pelaku pasar memprediksi kondisi ekonomi Indonesia di tahun 2019 akan membaik. Berbagai tekanan yang mewarnai tahun 2018 pun mulai berkurang.

Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menjelaskan, situasi ekonomi dan geopolitik global akan lebih mendukung kembalinya arus modal asing masuk ke Indonesia. Kondisi ini pun akan memengaruhi kondisi ekonomi Indonesia.

Berbagai sentimen eksternal di antaranya situasi politik di AS setelah kemenangan partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu 2018. Penguatan dollar AS sepanjang tahun 2018 justru cenderung meningkatkan defisit perdagangan AS terhadap China.

Baca juga: Jatuhnya Harga Minyak Menjadi Tantangan Ekonomi Global di 2019

Di samping itu, tensi perang dagang AS-China tampaknya lebih melonggar dengan adanya gencatan senjata dan tekanan politik dalam negeri yang dialami Trump.

“Setelah kekalahan politik presiden Trump, China tak perlu tergesa-gesa bernegosiasi. Kompromi tampaknya bisa tercapai karena kedua belah pihak sama-sama saling membutuhkan dari sisi ekonomi,” ungkap Budi Hikmat melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (2/1/2018).

Dari sisi ekonomi China, neraca berjalan raksasa ekonomi terbesar kedua dunia itu diduga akan menoreh angka negatif untuk pertama kali pada tahun 2019. Hal ini berisiko memicu potensi China akan melemahkan mata uang yuan.

Baca juga: Kalau Ekonomi China Gloomy, Kita Batuk-batuk

Adapun, investor global menduga kondisi perekonomian AS telah melewati puncaknya dan mulai melambat walau tetap terbilang kuat. Sementara, kebijakan bank sentral AS Federal Reserve diproyeksi akan tetap memperketat likuiditas meski tak sekencang tahun 2018.

“Ada potensi The Fed hanya membutuhkan maksimal dua kali kenaikan (suku bunga acuan) selama 2019,” tambah Budi.

Meskipun tekanan dari eksternal mereda, Budi berharap adanya kebijakan untuk mendorong daya beli dan meningkatkan produktivitas, baik dalam sektor manufaktur maupun pariwisata.

“Optimisme kami dilandasi keberanian pemerintah menempuh kebijakan pre-emptive dan prudent untuk membedakan Indonesia dibanding negara berkembang. Namun demikian, untuk mendorong investor melakukan diskriminasi membutuhkan kebijakan mendorong daya beli, reformasi untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas serta mendorong foreign direct investment,” ungkap Budi.

Baca juga: Sri Mulyani: Kenaikan Upah Akan Tingkatkan Daya Beli Masyarakat

Selama tahun 2019, kurs rupiah diprediksi bergerak pada kisaran 14.350 sampai 15.200. Secara konservatif, proyeksi tersebut sudah memasukkan kemungkinan dollar kembali menguat sebesar 2 persen dan rasio cost to income commodity naik 5 persen.

Rasio cost to income commodity merupakan rasio yang memproyeksikan kenaikan harga atau biaya impor minyak berbanding dengan pemasukan ekspor dari komoditas.

Terkait asset saham, Bahana TCW menilai potensi kenaikan lebih ditentukan oleh faktor manfaat (earning growth). Dengan mengasumsikan pertumbuhan laba 12 persen, Bahana TCW memprediksi IHSG pada akhir tahun 2019 sekitar 7000.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com