BrandzView
Konten ini merupakan kerjasama Kompas.com dengan PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP)
Salin Artikel

Madu Hutan Ukui, Pencuri "Sakti", dan Segala Mitosnya...

Namun, bagi masyarakat yang tinggal di Ukui, Pelalawan, Riau, madu palsu bukan sesuatu yang dihiraukan. Pasalnya, cairan manis gelap keemasan yang dihasilkan lebah tersebut diperoleh langsung dari hutan.

"Madu palsu, kami tidak tahu. Entah apa yang dicampur. Kalau madu asli, masukkan lemaris es akan jadi kental, tidak jadi es batu," kata Saptu, salah satu petani madu di Ukui, Kamis (14/9/2017) siang.

Tidak membatu jadi es kira-kira menandakan bahwa madu tersebut tidak mengandung air penambah karena murni langsung dari lebah hutan.

Namun, untuk memperolehnya, kita mesti punya nyali. Pasalnya, sarang dari lebah jenis Apis dorsata itu tergantung di pohon sialang setinggi 50 meter atau kira-kira setara bangunan 10 lantai. Karena tak terlalu mudah dijamah, sekali ambil pun bisa sampai 30 kilogram.

"Sekarang ya 30 kilogram. Dulu malah pernah dapat satu ton. Itu tahun 2007," ujar pria yang mengaku sudah turun-temurun berada dan mengambil madu di area Ukui itu lalu bercerita soal alasan kenapa jumlah madu-madu itu berkurang.

Ada yang salah dalam tradisi pengambilan madu, menurut Saptu, yang pada akhirnya berpengaruh pada berkurangnya hasil alam tersebut.

Ia kemudian bercerita tentang sepak terjang para pencuri "sakti" yang tidak disengat lebah saat mengambil madu pada siang hari. Namun, sebutan "sakti" itu pada akhirnya hanya menjadi sindirian.

"Mereka yang ambil siang dikira orang pintar, sakti, padahal pintar akalnya, badan dibungkus supaya tidak disengat lebah," ujarnya lalu menjelaskan bahwa para pencuri itu kebanyakan memakai pembungkus badan.

Namun, bukan digigit atau tidak digigit lebah yang menjadi soal bagi Saptu. Pilihan waktu siang-lah yang ia sesalkan.

Menurut penjelasannya, mengambil sarang lebah saat siang tidak dilakukan dengan mengusir lebah, tetapi main potong.

Pada akhirnya, lebah-lebah itu mati, entah karena benda tajam tersebut atau karena ramai-ramai terbawa masuk dan tenggelam dalam wadah penampung madu.

"Ya kami dari dulu mengambilnya malam. Lebah tidak lihat. Kalau sekarang kan banyak juga yang mengambil siang. Kalau ambil siang ini, banyak efek sampingnya," ujarnya lalu menyebut bahwa lebah yang mati bisa 1.000 ekor "salah prosedur" tersebut.

Jampi-jampi

Saptu kemudian masuk sebentar ke dalam rumahnya yang berdinding bilah-bilah kayu itu, dan keluar lagi membawa kayu jangkang. Bentuknya sudah berupa irisan tipis yang lalu digulung dan diikat menjadi seperti tongkat.

Seikat kayu jangkang adalah salah satu "senjatanya" saat mengambil madu. Caranya dengan dibakar.

Asapnya yang banyak akan mengusir lebah dari sarangnya, sementara percikannya yang jatuh ke bawah menjadi daya tarik bagi makhluk-makhluk kecil tersebut untuk diikuti. Dengan cara itu, lebah tidak mati, tetapi pergi sesaat.

Ia kini sudah tidak naik pohon yang menjulang itu lagi. Usianya sudah 62 tahun. Cukup sudah baginya 30 tahun naik dan mengambil madu.

"Kegiatan sehari-hari sudah tidak ada lagi karena kekuatanku sudah berkurang. Pas panen, sekarang aku di bawah saja. Anak yang naik. Sekarang paling setahun sekali panen madu," ujarnya seraya menyebut satu timnya terdiri dari 5-6 orang.

Selain mengental di lemari es, mitos bahwa madu asli mengandung gas, rasanya agak pahit, dan tidak disukai semut juga jadi bahasan soal mitos madu saat Saptu memberikan penjelasan.

Madu asli berarti pahit, ini rupanya terjadi karena cara pengolahannya. Pasalnya, kebanyakan madu diperoleh dengan cara memeras.

Kini, ia dapat ilmu baru dari pelatihan yang diberikan oleh pihak Riau Andalan Pulp and Papper (RAPP), perusahaan pulp dan kertas yang beroperasi di Pangkalan Kerinci, Riau.

"Tidak lagi diperas, tetapi diiris sarangnya, lalu dibalik, nah dia menetes, kemudian disaring, tanpa ada lilinnya. Kalau dulu diperas, agak banyak kotorannya. Lilin-lilinnya, anak-anak (lebah) terbawa. Rasanya jadi pahit atau asam. Kini bening. Manis," ujar Ayi Munajat, Askep Forest Enfiro Safety RAPP.

Pelatihan itu sendiri merupakan bagian dari CD atau comunity development alias pengembangan bagi warga sekitar RAPP. Untuk Saptu dan rekan-rekannya, pelatihan yang diberikan berupa cara memanen, cara merawat pohon, dan cara mengolahnya.

"Selain memberikan pembinaan dan memberikan akses dalam memperoleh madunya, kami juga menjaga agar jangan sampai pohon itu tertebang dan rusak supaya petani madu bisa tetap memanen," tambah Ayi.

Ayi yang mengaku pernah stroke dan sembuh karena rutin minum madu hutan juga mengatakan kalau madu Saptu juga dibeli oleh pihak RAPP.

Harganya sekitar Rp 100.000 per kilogram. Saptu juga menjual madunya kepada pihak lain.
Para pembeli ini tidak ragu lagi dengan madu Saptu karena jaminan keasliannya yang secara turun-temurun.

"(Kalau asli ada gasnya, ya?) Iya, ada sedikit. Nah kalau ada orang bilang semut tidak mau, itu bohong-lah," tambah pria yang juga berprofesi sebagai petani itu.

https://ekonomi.kompas.com/read/2017/11/28/174107726/madu-hutan-ukui-pencuri-sakti-dan-segala-mitosnya

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

ILO: Transisi Energi Bakal Ciptakan 5 Juta Lapangan Pekerjaan

ILO: Transisi Energi Bakal Ciptakan 5 Juta Lapangan Pekerjaan

Whats New
Krakatau Steel Tandatangani Kerja Sama Pengembangan Pabrik 'Blast Furnace'

Krakatau Steel Tandatangani Kerja Sama Pengembangan Pabrik "Blast Furnace"

Whats New
Likuiditas Melimpah, Suku Bunga Kredit Belum Akan Naik Signifikan

Likuiditas Melimpah, Suku Bunga Kredit Belum Akan Naik Signifikan

Whats New
PNBP Perikanan Tangkap Terus Meningkat, Kini Capai Rp 512,38 Miliar

PNBP Perikanan Tangkap Terus Meningkat, Kini Capai Rp 512,38 Miliar

Whats New
Semangat Kerja di Usia Senja, Driver Ojol ini Masih Giat Ngaspal

Semangat Kerja di Usia Senja, Driver Ojol ini Masih Giat Ngaspal

Earn Smart
Deteksi Wabah PMK, Kementan Minta Pemda Optimalkan Puskeswan

Deteksi Wabah PMK, Kementan Minta Pemda Optimalkan Puskeswan

Whats New
Netflix Bakal Pasang Iklan, Apa Pengaruhnya pada Jumlah Pelanggan?

Netflix Bakal Pasang Iklan, Apa Pengaruhnya pada Jumlah Pelanggan?

Spend Smart
OJK: Kinerja Intermediasi Lembaga Keuangan Terus Meningkat

OJK: Kinerja Intermediasi Lembaga Keuangan Terus Meningkat

Whats New
Dalam Gelaran WEF 2022, Bos GoTo Tekankan Pentingnya Inklusi Digital dalam Mengatasi Kesenjangan Ekonomi

Dalam Gelaran WEF 2022, Bos GoTo Tekankan Pentingnya Inklusi Digital dalam Mengatasi Kesenjangan Ekonomi

Whats New
Cegah Penyebaran Penyakit PMK, Kementan Perketat Pengawasan Hewan Kurban

Cegah Penyebaran Penyakit PMK, Kementan Perketat Pengawasan Hewan Kurban

Whats New
MCAS Group Gandeng PT Pos Indonesia Kembangkan Fitur Kendaraan Listrik di Aplikasi Pospay

MCAS Group Gandeng PT Pos Indonesia Kembangkan Fitur Kendaraan Listrik di Aplikasi Pospay

Whats New
Askrindo Jadi Mitra Asuransi Resmi Java Jazz Festival 2022

Askrindo Jadi Mitra Asuransi Resmi Java Jazz Festival 2022

Whats New
Niat Bikin Kolam Renang untuk Cucu, Pensiunan Anggota Dewan Ini Bangun 'Waterpark' di Bogor

Niat Bikin Kolam Renang untuk Cucu, Pensiunan Anggota Dewan Ini Bangun "Waterpark" di Bogor

Smartpreneur
Terbaru, Ini Daftar 100 Pinjol Ilegal 2022 yang Ditutup OJK

Terbaru, Ini Daftar 100 Pinjol Ilegal 2022 yang Ditutup OJK

Whats New
Ini Aneka Tantangan Bisnis Asuransi Jiwa di Tahun 2022?

Ini Aneka Tantangan Bisnis Asuransi Jiwa di Tahun 2022?

Work Smart
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.