Salin Artikel

5 Fakta atau Mitos Seputar Layanan P2P Lending

Sejalan dengan munculnya teknologi finansial (tekfin atau fintech), di era 2000-an, masyarakat global mulai mengenal layanan pinjam meminjam baru berbasis teknologi yang disebut peer to peer (P2P) lending. Pertama kali muncul di Inggris pada tahun 2005, P2P lending kemudian berkembang ke Amerika Serikat dan China. Di China sendiri, P2P lending bahkan mengalami perkembangan pesat hingga dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.

Mengikuti tren global, P2P lending di Indonesia muncul sejak 2015 dan saat ini tercatat sudah ada 44 penyedia layanan yang telah terdaftar dan mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Meski mayoritas masyarakat melihat layanan P2P lending sebagai penyedia pinjaman semata, layanan ini sebenarnya juga dapat menjadi sarana untuk menambah aset investasi yang cukup menjanjikan di masa depan. Besarnya potensi layanan P2P lending pun membuat angka dana pinjaman, jumlah peminjam dan pemberi pinjaman P2P lending di Indonesia terus melesat.

Namun, sebagai layanan yang terbilang baru, meski kepercayaan masyarakat sudah mulai terbentuk, masih ada kekhawatiran terutama karena kurangnya pemahaman mendalam akan layanan ini.

Untuk itu, berikut kami rangkum 5 fakta dan mitos layanan P2P lending yang perlu Anda ketahui:

1. Siapa saja bisa jadi peminjam

Dilihat dari sasaran peminjam, setiap penyedia layanan memiliki fokus masing-masing. Baik perorangan maupun pelaku usaha bisa menjadi peminjam. Bahkan, ada salah satu penyedia layanan yang secara khusus menyasar perempuan pedesaan yang tidak memiliki rekening ataupun akses ke bank (unbanked) dan mengajukan pinjaman untuk usaha produktif saja.

Namun demikian, salah satu mitos P2P lending yang berkembang di masyarakat adalah bahwa layanan ini bisa diakses oleh siapa saja tanpa syarat. Faktanya, peminjam, baik perorangan maupun pelaku usaha, harus melewati serangkaian seleksi dengan sistem yang berbeda antara satu penyedia layanan dengan yang lain. Salah satunya menggunakan machine learning cerdas untuk mendeteksi kemampuan usaha setiap peminjam, serta karakter dan jenis usaha mereka.

2. P2P lending menyediakan dana tak terbatas

P2P lending merupakan bisnis investasi yang mempertemukan pemberi pinjaman dengan peminjam. Tugas penyedia layanan adalah menjadi penghubung sekaligus menilai karakteristik, mengawasi serta mengurus perjanjian kedua belah pihak. Dana pinjaman sendiri berasal dari pemberi pinjaman, bukan dari penyedia layanan P2P lending langsung. Jadi faktanya, ketersediaan dana akan dipengaruhi oleh ketersediaan pemberi pinjaman.

3. Memberi pinjaman online, pasti investasi bodong

Layanan P2P lending memberikan kesempatan bagi perorangan maupun pelaku usaha untuk memberikan pinjaman dan mendapatkan imbal hasil dari dana pinjaman yang diberikan. Untuk itu, P2P lending dapat disebut sebagai sarana investasi baru berbasis online. Sayangnya, memang tidak semua bisa dianggap aman. Untuk itu, pastikan penyedia layanan yang terpercaya. Salah satu parameter penyedia layanan P2P lending yang baik adalah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, telitilah sebelum Anda mulai menggunakan layanan P2P lending.

4. Lebih cepat, lebih transparan? Tidak mungkin!

Dengan memanfaatkan teknologi, transaksi P2P Lending justru dimungkinkan untuk menjadi lebih cepat dan lebih transparan. Melalui teknologi, verifikasi terhadap peminjam dan pemberi pinjaman kini bisa dilakukan dalam hitungan hari bahkan menit. Inovasi dan teknologi juga memungkinkan peminjam atau pemberi pinjaman mengetahui asal dana dan kemana dana mereka disalurkan. Informasi tentang peminjam dan imbal hasil dapat tersedia secara detil dan online di dasbor masing-masing pemberi pinjaman.

5. Ekonomi kerakyatan yang adil

Pesatnya pertumbuhan fintech P2P lending membuat banyaknya jenis layanan yang ditawarkan. Disinilah masyarakat harus jeli untuk mengenal layanan P2P lending yang cocok dengan portfolio risiko serta kebutuhan. Beberapa layanan P2P lending yang fokus pada UMKM, misalnya, juga memberikan pendampingan usaha bahkan jaminan kesehatan bagi peminjamnya. Tak sedikit juga P2P yang menggunakan sistem imbal hasil dan bukannya bunga, untuk meningkatkan layanan yang adil untuk peminjam maupun pendana.

Keberadaan layanan P2P lending tidak dapat dipungkiri memiliki potensi besar dalam mendorong ekonomi, terutama karena inovasinya yang memungkinkan layanan ini membuka akses terhadap kelompok masyarakat unbanked. Namun demikian, seperti industri lainnya, layanan P2P lending tidak kebal terhadap isu keamanan. Untuk itu, pastikan penyedia layanan yang Anda pilih sudah tepat, terpercaya dan memberikan nilai tambah kebutuhan Anda.

Artikel ini merupakan konten kerja sama dengan Asosiasi FinTech Indonesia. Nara sumber artikel adalah Hans Arthur, Anggota Asosiasi Fintech Indonesia dan Content Writer Amartha, dan Lydia Kusnadi, Anggota Asosiasi Fintech Indonesia dan Brand Manager Amartha. Kompas.com tidak bertanggungjawab atas isi tulisan.

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/04/20/130000826/5-fakta-atau-mitos-seputar-layanan-p2p-lending

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

IHSG Berakhir di Zona Hijau, Saham BBRI dan BBNI Laris Diborong Asing

IHSG Berakhir di Zona Hijau, Saham BBRI dan BBNI Laris Diborong Asing

Whats New
Awas, Modus Penipuan Tawarkan Upgrade Jadi Nasabah BCA Prioritas

Awas, Modus Penipuan Tawarkan Upgrade Jadi Nasabah BCA Prioritas

BrandzView
Ini Kendala-kendala UKM Saat Belanja Bahan Baku dari Luar Negeri

Ini Kendala-kendala UKM Saat Belanja Bahan Baku dari Luar Negeri

Whats New
Beberapa Upaya Ini Bisa Dorong Penerapan EBT untuk Mencapai Net Zero Emission

Beberapa Upaya Ini Bisa Dorong Penerapan EBT untuk Mencapai Net Zero Emission

Whats New
Penunjukkan Luhut untuk Bantu Masalah Distribusi Minyak Goreng Dinilai Tak Tepat

Penunjukkan Luhut untuk Bantu Masalah Distribusi Minyak Goreng Dinilai Tak Tepat

Whats New
Kini Bank Muamalat Punya Gerai Reksa Dana Syariah Online

Kini Bank Muamalat Punya Gerai Reksa Dana Syariah Online

Whats New
Gerakan Boikot Dunkin' Donuts Berlanjut, Tuntut 35 Karyawan Dipekerjakan Kembali

Gerakan Boikot Dunkin' Donuts Berlanjut, Tuntut 35 Karyawan Dipekerjakan Kembali

Whats New
PKT Tanam 1.500 Bibit Mangrove di Perairan Bontang

PKT Tanam 1.500 Bibit Mangrove di Perairan Bontang

Whats New
5 Faktor Penyebab Target Penjualan Gagal Tercapai

5 Faktor Penyebab Target Penjualan Gagal Tercapai

Smartpreneur
Inflasi RI Masih Terjaga, BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,5 Persen

Inflasi RI Masih Terjaga, BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,5 Persen

Whats New
Pengguna Livin' by Mandiri Ditargetkan Tembus 16 Juta pada Akhir 2022

Pengguna Livin' by Mandiri Ditargetkan Tembus 16 Juta pada Akhir 2022

Whats New
Menuju Equilibrium Pemasaran Tradisional dan Digital Saat Pandemi

Menuju Equilibrium Pemasaran Tradisional dan Digital Saat Pandemi

Whats New
Tjahjo Sebut 8 Aspek Perkuat Kinerja Kejaksaan, Mulai Syarat Usia Jadi Jaksa hingga Batas Pensiun

Tjahjo Sebut 8 Aspek Perkuat Kinerja Kejaksaan, Mulai Syarat Usia Jadi Jaksa hingga Batas Pensiun

Whats New
BPK Ungkap Ada 6.011 Masalah di APBN 2021, Nilainya Capai Rp 31,34 Triliun

BPK Ungkap Ada 6.011 Masalah di APBN 2021, Nilainya Capai Rp 31,34 Triliun

Whats New
Tak Hanya Tren, Fesyen Berkelanjutan Kini Jadi Kebutuhan

Tak Hanya Tren, Fesyen Berkelanjutan Kini Jadi Kebutuhan

BrandzView
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.