Salin Artikel

5 Perusahaan Bermasalah, Industri Pembiayaan Dinilai Masih Sehat

Deputi Komisioner Pengawas IKNB II Moch Ihsanuddin menyampaikan, 5 perusahaan yang mendapatkan surat PKU tersebut adalah PT Asia Multi Dana, PT Kapitalink Finance, PT Pan Pembiayaan Maritim, PT Kembang 88, dan Sun Prima Nusantara Pembiayaan.

"Dari 5 tersebut kita lihat perkembangannya seperti apa, apakah akan berlanjut hilang dicabut izin usahanya, atau dia bisa memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan yang diatur dalam peraturan perusahaan pembiayaan," ujarnya ketika memberi keterangan kepada awak media di Gedung Soemitro Djojohadikusimo, Senin (21/5/2018).

Selain itu Ihsanuddin menambahkan, ada 8 perusahaan yang terkena sanksi dari Surat Peringatan 1 (SP1) karena terlambat melakukan laporan, atau karena tidak ada kejelasan pemegang saham, atau karena tingkat kesehatan atau rasio piutang pembiayaan yang tidak seimbang.

"Yang kena sanksi ringan hingga berat ada 8 perusahaan, sementara yang mendapatkan PKU 5," sebut dia.

Masih sehat

Karena jumlah perusahaan yang bermasalah cenderung kecil jika dibandingkan dengan total jumlah perusahaan pembiayaan yang ada, yaitu 191 perusahaan.

Total jumlah perusahaan multifinance yang berada dalam kondisi keuangan baik adalah 88 persen dari seluruh total perusahaan pembayaran. Jumlah ini merupakan hasil dari laporan bulanan perusahaan dan pemeriksanan oleh tim pengawas OJK.

Sehingga, dapat dikatakan industri pembiayaan atau multifinance pada Maret 2018 berada dalam kondisi sehat.

Ini ditunjukkan dengan pertumbuhan aset per akhir Maret yang mencapai Rp 34,4 triliun atau 7,65 persen secara year on year menjadi Rp 483,92 triliun.

Adapun untuk pembiayaan piutang mengalami peningkatan 6,08 persen atau Rp 24,02 triliun dengan nilai outstanding kewajiban dan komitmen mencapai Rp 419,2 triliun.

"Perlu juga kami tambahkan. Tentu ini sebagai bahan. Sumber pendananaanya itu memang mayoritas dari pinjaman. Bisa terdiri dari pinjaman luar negeri dalam negeri juga bisa dengan penerbitan bond atau obligasi atau medium term note (MTN)," ujarnya.

Pertumbuhan pembiayaan ini pada Maret 2018 mengalami pertumbuhan hingga 8,40 persen yoy. Jika dirinci, untuk pinjaman dalam negeri sejumlah Rp 179.8 triliun atau 52.5 persen dari total sumber pembiayaan. Sementara pembiayaan luar negeri berjumlah Rp 91.5 triliun atau 27 persen dari total sumber pembiayaan.

" Untuk peneribitan surat berharga baik obligasi atau MTN sejumlah Rp 71.7 triliun atau 20,9 persen dari total pinjaman mereka," tambah dia.

Adapun laba juga mengalami peningkatan. Untuk tiga bulan pertama tahun 2018 ini, industri pembiayaan sudah membukukan laba hingga Rp 3,74 triliun atau tumbuh 2,56 persen. Kemudian dengan pertumbuhan laba juga meningkatakan return on asset (ROA) 4,36 persen dan return on equity (ROE) sebesar 13,2 persen.

Selain itu, untuk NPF (non performing fund/kredit bermasalah) untuk net 1,17 persen, sementara secara gross 3,25 persen.

"Memang ini terjadi peningkatan tapi hanya komanya saja secara year on year per Maret 2017 gross nya 3.16 persen. Jadi naiknya tidak terlalu banyak dan ini dialami seluruh industri yang menyalurkan pembiayaan," ujar dia.

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/05/22/070800926/5-perusahaan-bermasalah-industri-pembiayaan-dinilai-masih-sehat

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Genjot Pendapatan, Garuda Indonesia Akan Fokus ke Bisnis Kargo

Genjot Pendapatan, Garuda Indonesia Akan Fokus ke Bisnis Kargo

Whats New
Anggaran Mitigasi Perubahan Iklim Tak Terserap Sempurna, Sri Mulyani: Kalau Minta Rajin Banget...

Anggaran Mitigasi Perubahan Iklim Tak Terserap Sempurna, Sri Mulyani: Kalau Minta Rajin Banget...

Whats New
Benarkah Biaya Admin Bank Memberatkan Nasabah?

Benarkah Biaya Admin Bank Memberatkan Nasabah?

Whats New
Penelitian DJSN: 6,09 Juta Pekerja Migran RI Belum Terdaftar Program Jamsos PMI

Penelitian DJSN: 6,09 Juta Pekerja Migran RI Belum Terdaftar Program Jamsos PMI

Whats New
Ekonomi Digital RI Perlu Didukung Layanan Data Internet yang Lebih Baik

Ekonomi Digital RI Perlu Didukung Layanan Data Internet yang Lebih Baik

Whats New
Rupiah dan IHSG Kompak Ditutup Melemah Sore Ini

Rupiah dan IHSG Kompak Ditutup Melemah Sore Ini

Whats New
Tidak Punya Aplikasi MyPertamina, Masyarakat Harus Daftar via Website untuk Beli Pertalite dan Solar

Tidak Punya Aplikasi MyPertamina, Masyarakat Harus Daftar via Website untuk Beli Pertalite dan Solar

Whats New
Beli Minyak Goreng Curah Pakai PeduliLindungi, Pengecer dan Konsumen: Ribet!

Beli Minyak Goreng Curah Pakai PeduliLindungi, Pengecer dan Konsumen: Ribet!

Whats New
Bengkak, Kebutuhan Dana Mitigasi Perubahan Iklim Tembus Rp 4.002 Triliun

Bengkak, Kebutuhan Dana Mitigasi Perubahan Iklim Tembus Rp 4.002 Triliun

Whats New
BCA Mobile Gangguan, Manajemen Pastikan Layanan Sudah Kembali Normal

BCA Mobile Gangguan, Manajemen Pastikan Layanan Sudah Kembali Normal

Whats New
Membandingkan Biaya Admin BRI, BCA, Bank Mandiri, hingga BNI

Membandingkan Biaya Admin BRI, BCA, Bank Mandiri, hingga BNI

Earn Smart
Garuda Indonesia Dekati Calon Investor Potensial

Garuda Indonesia Dekati Calon Investor Potensial

Whats New
Ini 'Hadiah' untuk Produsen Minyak Goreng yang Ikut Program Minyakita

Ini "Hadiah" untuk Produsen Minyak Goreng yang Ikut Program Minyakita

Whats New
Sri Mulyani: Indonesia Isinya Hutan sama Perikanan, tapi Kontribusinya Hampir Tak Ada

Sri Mulyani: Indonesia Isinya Hutan sama Perikanan, tapi Kontribusinya Hampir Tak Ada

Whats New
Ini Cara Beli Pertalite dan Solar Pakai Aplikasi MyPertamina

Ini Cara Beli Pertalite dan Solar Pakai Aplikasi MyPertamina

Spend Smart
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.