Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Fenomena Pekerja Freelance Tak Sesuai Jurusan Kuliah Sudah Lama Marak

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena pekerja lepas atau freelance atau yang tidak terikat kontrak kerja semakin marak di masyarakat, termasuk kaum muda. Pada saat yang sama, ada juga fenomena sarjana yang bekerja tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya.

Banyak pihak yang kemudian mendebatkan kehadiran para pekerja freelance. Sebab, pemerintah dipandang tidak berhasil menyediakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat.

Pengamat Ekonomi Pembangunan Institute For Development and Economic Finance (INDEF) Didik J Rachbini menuturkan, maraknya fenomena pekerja tidak sesuai jurusan dan kemudian memutuskan untuk menjadi pekerja lepas bukan terjadi baru-baru ini saja. Menurutnya, fenomena ini sudah muncul sejak dulu.

Pasalnya, pendidikan di perguruan tinggi memang tidak mendidik seseorang untuk siap bekerja di bidangnya, sehingga ketika lulus dan sudah harus berhadapan dengan dunia kerja, baru kemudian mereka dilatih untuk bekerja.

"Fenomena ini memang terjadi sejak dulu karena kurangnya sarana prasarana, laboratorium, tempat magang, serta program link and match yang kurang," ujar Didik ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (18/12/2018).

Didik menjelaskan, maraknya pekerjaan freelance didukung pula oleh kemajuan teknologi yang semakin membuka peluang kesempatan kerja di bidang yang sebelumnya tidak terbayangkan. Banyak pekerjaan yang kemudian terlahir dari yang awalnya hanya berawal dari seorang freelancer.

Meski di sisi lain, banyak lapangan pekerjaan lain yang berangsur-angsur menghilang.

"Kesempatan kerja tersedia dengan hadirnya bidang IT, big data, ecommerce, dll. Tetapi banyak juga yang hilang," jelas dia.

Senada dengan Didik, Ekonom Centre of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mamaparkan, perkembangan teknologi mendorong maraknya fenomena pekerja freelance. Generasi milenial, menurut Piter sudah tidak lagi mengutamakan kepastian dan rasa aman.

Preferensi dan gaya bekerja kaum milenial yang cenderung mudah bosan dan cenderung tidak loyal mendorong mereka untuk bekerja secara tidak terikat.

"Supply dan demand mendorong maraknya fenomena freelancer," ujar dia.

Piter menjelaskan, memang di masa lalu, stigma kurang terhormat melekat pada seorang pekerja freelance atau pekerja lepas. Sehingga, minat untuk bekerja freelance juga masih rendah.

Selain itu, kesempatan kerja secara freelance pun cenderung terbatas.

"Tidak banyak jenis pekerjaan yg bisa dimasuki sebagai freelancer. Paling kerjaan sebagai jurnalis, fotografer, penulis. Jadi supply dan demand-nya memang rendah," ujar dia.

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/18/164803826/fenomena-pekerja-freelance-tak-sesuai-jurusan-kuliah-sudah-lama-marak

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rp 4,96 Triliun Modal Asing Masuk RI Selama Sepekan

Rp 4,96 Triliun Modal Asing Masuk RI Selama Sepekan

Whats New
Indonesia Sudah Punya 111 Kawasan Industri, Totalnya 108 Ribu Hektare

Indonesia Sudah Punya 111 Kawasan Industri, Totalnya 108 Ribu Hektare

Whats New
Bos Food Station Optimis Harga Beras Medium Bisa Ditekan di Bawah Rp 9.000 per Kg

Bos Food Station Optimis Harga Beras Medium Bisa Ditekan di Bawah Rp 9.000 per Kg

Whats New
Penjelasan PT Timah soal Kecelakaan Tambang yang Menewaskan 2 Pekerja

Penjelasan PT Timah soal Kecelakaan Tambang yang Menewaskan 2 Pekerja

Whats New
BUMN Virama Karya Buka 6 Lowongan Kerja, Pendaftarannya Ditutup 10 Februari 2023

BUMN Virama Karya Buka 6 Lowongan Kerja, Pendaftarannya Ditutup 10 Februari 2023

Work Smart
Leadership Development Program, Upaya Elnusa Persiapkan Pemimpin Masa Depan

Leadership Development Program, Upaya Elnusa Persiapkan Pemimpin Masa Depan

Whats New
RI Jadi Tuan Rumah WWF Ke-10, Luhut: Ini Langkah Baik

RI Jadi Tuan Rumah WWF Ke-10, Luhut: Ini Langkah Baik

Whats New
Kegiatan Sail Teluk Cenderawasih Diharap Dapat Menarik Investor untuk Pembangunan Daerah

Kegiatan Sail Teluk Cenderawasih Diharap Dapat Menarik Investor untuk Pembangunan Daerah

Whats New
PT Pegadaian Buka Lowongan Kerja, Ini Posisi yang Dibutuhkan

PT Pegadaian Buka Lowongan Kerja, Ini Posisi yang Dibutuhkan

Work Smart
Pegadaian Buka Lowongan Kerja hingga 11 Februari 2023, Simak Kualifikasinya

Pegadaian Buka Lowongan Kerja hingga 11 Februari 2023, Simak Kualifikasinya

Work Smart
Usai Dipanggil Jokowi, Bos Bulog Gelontorkan 10.000 Ton Beras Impor

Usai Dipanggil Jokowi, Bos Bulog Gelontorkan 10.000 Ton Beras Impor

Whats New
Ekonom UI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,19 Persen di 2022

Ekonom UI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,19 Persen di 2022

Whats New
Kementerian PUPR Bantah Wisma Atlet Kemayoran Mangkrak

Kementerian PUPR Bantah Wisma Atlet Kemayoran Mangkrak

Whats New
Apakah BI Bakal Ikut The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan Lagi?

Apakah BI Bakal Ikut The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan Lagi?

Whats New
Bulog Usul Tunjangan ASN Berupa Uang Diganti Beras Premium

Bulog Usul Tunjangan ASN Berupa Uang Diganti Beras Premium

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+