Rencana PLTN Terus Dikaji

Kompas.com - 14/09/2011, 05:05 WIB

Padang, Kompas - Rencana Indonesia untuk memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir terus dikaji di tengah derasnya kontroversi. Namun, pembangunan PLTN adalah pilihan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan listrik di masa depan.

”Kebutuhan listrik kita pada tahun 2020 akan dua kali lipat dibandingkan sekarang. Karena itu, operasional pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia bisa dimulai setelah 2020. Bahkan, Indonesia akan menggunakan reaktor nuklir dengan teknologi terbaru jika pembangunan PLTN diwujudkan. Kita tidak akan pakai teknologi yang sudah usang. Kita akan pakai teknologi yang sudah teruji di mana pun sesuai syarat-syarat yang diatur dalam perizinan untuk membangun reaktor nuklir,” kata Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Taswanda Taryo, Selasa (13/9) di Kota Padang.

Taswanda mengatakan, pembangunan PLTN adalah pilihan yang sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan listrik di masa depan. Namun, nuklir bukan satu-satunya pilihan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang membengkak. Alternatifnya bisa dipenuhi dari sejumlah sumber energi listrik terbarukan.

”Matahari bisa digunakan, tetapi kan porsinya sebesar apa. Ada juga yang mengatakan gelombang laut, tetapi kan mahalnya minta ampun,” kata Taswanda seraya menegaskan penggunaan energi baru dan terbarukan tetap harus dipilah-pilah sesuai kondisi Indonesia.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumbar Khalid Saifullah menyatakan, Indonesia tak membutuhkan nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik. Rencana pemanfaatan nuklir untuk pembangkit listrik adalah kebijakan keliru.

”Potensi di Indonesia justru banyak energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk mengatasi krisis energi,” ujarnya. Hal itu di antaranya tenaga air, surya, panas bumi, dan biogas yang justru belum dikembangkan maksimal untuk diambil manfaatnya.

Namun, Batan tetap berkeyakinan, PLTN sudah selayaknya dibangun di Indonesia. Keputusan Pemerintah Federal Jerman untuk menutup seluruh 17 PLTN miliknya hingga 2022 mendatang juga tidak akan berpengaruh pada rencana pembangunan PLTN di Indonesia.

Demikian pula dengan ledakan di PLTN Fukushima Daiichi, Jepang, dan ledakan pada fasilitas limbah nuklir di Perancis pada Senin lalu.

”Kalau kita lihat, sejumlah reaktor nuklir di Jerman sudah tua. Selain itu, sampai saat ini mereka juga masih bingung untuk mencarikan pengganti energi nuklir. Jepang juga bingung memikirkan penggantinya. Jadi saya melihat PLTN tetap akan menjadi satu pilihan,” kata Taswanda. (INK)



Editor

Close Ads X