Mantan Dirjen KA Dituntut Lima Tahun Penjara

Kompas.com - 14/11/2011, 20:23 WIB
Penulis Icha Rastika
|
EditorAloysius Gonsaga Angi Ebo

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Soemino Eko Suparto, dituntut bersalah melakukan tindak pidana korupsi sehingga harus menjalani hukuman penjara selama lima tahun. Dia juga dituntut membayar denda Rp 150 juta yang dapat diganti dengan hukuman kurungan enam bulan.

"Kami menuntut majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi menyatakan Soemino Eko Saputro sah melakukan korupsi bersama-sama sebagaimana diancam dalam dakwaan subsider, melanggar Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," kata Jaksa Agung Salim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (14/11/2011).

Menurut jaksa, Soemino terbukti menyalahgunakan kewenangannya dalam proyek pengangkutan 60 unit kereta api listrik hibah dari Jepang pada 2005-2007. Dia dianggap terbukti melakukan penunjukkan langsung terhadap perusahaan Jepang, Sumitomo Corporation, sebagai rekanan dengan biaya jasa angkut Rp 475 juta per unit.

"Terdakwa melakukan intervensi dan pengambilan alih kewenangan PPK (Pejabat Pembuat Komitmen). Perbuatan terdakwa menyebabkan penyimpangan-penyimpangan baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan proyek tersebut," kata jaksa Handarbeni.

Perbuatan Soemino tersebut dianggap melanggar Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa. Handarbeni menjelaskan, beberapa saat seusai dilantik menjadi Dirjen,Soemino mengusulkan agar pengadaan KRL hibah Jepang tersebut dipercepat. Alasannya, penambahan KRL dibutuhkan untuk menyesuaikan jumlah penumpang dengan unit kereta api yang tersedia.

Dalam pengangkutan KRL hibah dari Jepang ke Indonesia yang menggunakan jasa Sumitomo itu muncul kerugian negara sekitar Rp 20 miliar. Adapun hal-hal yang memberatkan Soemino, mantan anak buah Menteri Perekonomian Hatta Rajasa itu di dianggap tidak mendukung upaya pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi, dan tidak mencerminkan panutan dan tauladan kepada bawahannya dalam pengadaan barang dan jasa.

Sementara yang meringankan, Soemino belum pernah dihukum, berlaku sopan selama persidangan, dan masih memiliki tanggungan keluarga. Atas tuntutan tersebut, Soemino akan mengajukan nota pembelaan (pledoi) yang akan dibacakan pekan depan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Agenda Presidensi G20, Pengembangan Ekonomi Digital Indonesia Diharapkan Sasar Kota Besar

Jadi Agenda Presidensi G20, Pengembangan Ekonomi Digital Indonesia Diharapkan Sasar Kota Besar

Whats New
Ini 3 Konglomerat Sawit RI yang Pilih Berkantor Pusat di Singapura

Ini 3 Konglomerat Sawit RI yang Pilih Berkantor Pusat di Singapura

Whats New
Daftar Negara Pemberi Utang ke Indonesia, Singapura Juaranya

Daftar Negara Pemberi Utang ke Indonesia, Singapura Juaranya

Whats New
Hanwha Life Raih Indonesian K-Brand Award 2022

Hanwha Life Raih Indonesian K-Brand Award 2022

Rilis
Program Pemberdayaan Masyarakat Bantu Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Program Pemberdayaan Masyarakat Bantu Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Whats New
Melantai di BEI Pagi Ini, Saham ASHA Langsung Mentok ARA

Melantai di BEI Pagi Ini, Saham ASHA Langsung Mentok ARA

Earn Smart
Pertemuan 2nd FWG G20 Bahas Dampak Makro Ekonomi dari Perubahan Iklim dan Scarring Effect

Pertemuan 2nd FWG G20 Bahas Dampak Makro Ekonomi dari Perubahan Iklim dan Scarring Effect

Whats New
Menilik Kebijakan Larangan Ekspor Listrik

Menilik Kebijakan Larangan Ekspor Listrik

Whats New
Mau Tukar Valas? Simak Kurs Rupiah Hari Ini di Bank Mandiri hingga BCA

Mau Tukar Valas? Simak Kurs Rupiah Hari Ini di Bank Mandiri hingga BCA

Whats New
Jelang Akhir Pekan, Rupiah dan IHSG Melaju di Zona Hijau

Jelang Akhir Pekan, Rupiah dan IHSG Melaju di Zona Hijau

Whats New
Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Spend Smart
Jokowi Larang Instansi Pemerintah Impor Barang Luar Negeri, Ketua MPR: Peluang bagi INKA

Jokowi Larang Instansi Pemerintah Impor Barang Luar Negeri, Ketua MPR: Peluang bagi INKA

Whats New
Jelang Musim Mengemudi di AS, Harga Minyak Dunia Melonjak 3 Persen

Jelang Musim Mengemudi di AS, Harga Minyak Dunia Melonjak 3 Persen

Whats New
Jelang Akhir Pekan, Harga Emas Antam Bertahan di Rp 988.000 Per Gram

Jelang Akhir Pekan, Harga Emas Antam Bertahan di Rp 988.000 Per Gram

Spend Smart
Luhut Sindir Perusahaan Sawit Besar Kantornya di Luar Negeri, Siapa yang Dimaksud?

Luhut Sindir Perusahaan Sawit Besar Kantornya di Luar Negeri, Siapa yang Dimaksud?

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.