Mikno, Juragan Mi Basah Terbesar di Malang

Kompas.com - 14/03/2013, 11:12 WIB
EditorErlangga Djumena

KOMPAS.com - Saat masih bujangan, Mikno Ade pernah gagal berjualan mi. Alhasil, ia harus bekerja serabutan, antara lain dengan berdagang permen gulali.  Tapi kini, Mikno justru terkenal sebagai produsen mi basah terbesar di Malang, Jawa Timur.   

Jangan kecil hati jika bisnis Anda gagal. Siapa tahu di lain waktu nasib berkata lain. Itulah yang dialami oleh Mikno Ade. Lulus SMA, ia berjualan mi pangsit bikinan sendiri, dan gagal karena sepi pembeli. Namun sekarang, Mikno sudah memproduksi puluhan ton mi dari pabrik Gloria miliknya, di Malang, Jawa Timur.

Sejatinya, Mikno tak pernah membayangkan akan menjadi pengusaha mi sukses. Karena tidak ada biaya, Mikno tak melanjutkan sekolah setelah lulus sekolah menengah atas (SMA) pada 1963. Anak bungsu dari empat bersaudara ini justru memilih untuk berdagang.

Mikno mengikuti jejak orang tuanya yang membuka warung di rumah mereka, di Sawahan Malang, Jawa Timur. Jika orangtuanya membuka toko kelontong dan berjualan es teh serta gorengan, Mikno memilih berjualan mi pangsit.

Untuk melayani pembeli, Mikno membuat mi sendiri. Tapi, lantaran malu bertanya resep mi, ia pun bereksperimen dengan resep bikinan sendiri.  “Yang penting, bahannya ada tepung, bumbu, telur, air, dan garam,” tuturnya. Untuk warungnya, Mikno hanya membuat satu hingga dua kilogram (kg) mi saja.

Namun, setelah berjalan hampir setengah tahun, Mikno harus menutup warung mi ini. “Rupanya para pembeli itu makan di warung mi saya karena kasihan,” kata Mikno. Pelanggan mi Mikno kebanyakan adalah teman-teman dan mantan gurunya sendiri.  

Terhenti dari bisnis mi, Mikno bekerja serabutan. Ia pernah menjadi sopir taksi, pedagang lotre, bakpao, hingga permen gulali.  Tapi, nasib Mikno tak juga membaik, lebih lagi karena warung milik orang tuanya ditutup oleh pemerintah pada 1966, dengan dalih warga keturunan  Tionghoa tak boleh memiliki usaha. “Padahal, warung itulah yang menunjang hidup kami sehari-hari,” kenangnya.

Pada tahun 1970-an Mikno berkenalan dengan calon istrinya, Paula Chandrawati. Kebetulan, orang tua Paula adalah penjual cui mi. Mikno lantas ikut terjun, membantu warung mertua yang juga berada di daerah Sawahan.  Mikno juga membantu, ketika sang mertua ingin memindahkan warung ke dekat rumah kontrakan mereka di Jalan Kawi, Malang. Setelah warung yang baru itu dikenal pembeli, ia pun kembali ke Sawahan untuk merintis warung cui mi miliknya sendiri.

Kali ini, nasib baik mulai berpihak kepada Mikno, karena banyak pembeli menyambangi warung mi ini. Melihat kebutuhan mi yang besar, Mikno memutuskan untuk membuat mi basah sendiri. Ia menyerahkan pengelolaan warung kepada  sang istri.

Ide nama dari bengkel

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X