Nikmatnya Kopi Luwak Liar

Kompas.com - 18/03/2013, 16:03 WIB
EditorErlangga Djumena

Dalam satu bulan, Nini mengaku hanya memproduksi 1.000 bungkus kopi luwak. Minimnya produksi tersebut karena minimnya bahan baku. "Kita selalu mengutamakan kualitas. Kita tidak akan membeli kopi luwak jika luwaknya bukan luwak liar," kata warga Pendung Hilir, Kecamatan Air Hangat, ini.

Dia mengaku termotivasi untuk menciptakan kopi luwak ini karena melihat besarnya potensi produksi kopi di Kabupaten Kerinci. "Kerinci merupakan salah satu daerah yang menjadi penghasil kopi terbesar di Provinsi Jambi. Sangat rugi jika potensi ini tidak dimanfaatkan," ungkapnya. Selain membuat kopi luwak, Nini juga memproduksi kopi biasa.

Untuk pemasaran, wanita berjilbab ini mengaku tidak mengalami kesulitan karena kopi luwak yang diproduksinya juga tidak terlalu mahal sehingga banyak warga yang mencarinya. "Untuk pemasaran masih di Jambi dan Sumbar," akunya.

Untuk informasi, satu kilogram kopi luwak yang diproduksi oleh Nini, dengan merek Sultan Kerinci, hanya dijual Rp 180.000. "Harganya sangat murah jika dibandingkan dengan kopi luwak yang diproduksi daerah lain," kata anggota DPR RI, Selina Gita, saat meninjau stan pameran kopi luwak Kerinci.

Politisi muda dari Partai Golkar ini meminta kepada warga untuk mempertahankan produksi kopi luwak tersebut. "Ini sangat unik. Kalau bisa harganya jangan dinaikkan dulu," katanya, sambil melihat kemasan kopi luwak tersebut. (Tribun Jambi/edi januar)

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X