BPS: Jumlah Sapi Lokal Terus Turun - Kompas.com

BPS: Jumlah Sapi Lokal Terus Turun

Kompas.com - 07/09/2013, 13:45 WIB
ABC Sapi gemuk dikumpulkan di wilayah utara Australia dan dijual ke Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah sapi lokal di Indonesia kini semakin merosot. Hal ini seiring dengan kebijakan impor sapi baik sapi bakalan maupun sapi beku ke tanah air.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, dalam 23 bulan terakhir, terutama sejak 1 Juni 2011 hingga 31 Mei 2013, jumlah sapi di dalam negeri berkurang hingga 2,56 juta ekor. "Jumlah populasi ternak baik sapi dan kerbau dalam 23 bulan terakhir ini cenderung menurun. Dalam kurun waktu itu ada penurunan 2,56 juta ekor," kata Suryamin saat Workshop Media di Hotel Mirah Bogor, Jawa Barat, Sabtu (7/9/2013).

Ia menyebutkan, penurunan jumlah ternak sapi ini karena masalah pengelolaan ternak sapi yang amburadul. Melihat data dari tahun 2011, jumlah peternak sapi hanya 5,9 juta orang. Sementara jumlah sapi yang dikelolanya sekitar 14,2 juta ekor. Sehingga masing-masing rumah tangga peternak tersebut hanya memelihara 2-3 ekor sapi.

Masalah kemudian muncul, dengan hanya memelihara sekitar 2-3 ekor sapi, maka peternak pun tidak dapat menyuplai kebutuhan pasar. Apalagi, masing-masing peternak ini memiliki tujuan yang berbeda untuk beternak sapi.

"Misalnya ada anaknya yang sunatan, sapinya dilepas. Ada yang anaknya diwisuda, baru sapinya dijual. Padahal di pasar itu bagaimana konsistensi menyuplai daging sapi secara rutin," tambahnya.

Kondisi berbeda dialami oleh peternak Australia. Suryamin menambahkan, kondisi peternakan di sana yaitu kelompok petani yang mampu mengelola puluhan ribu ekor sapi. Dengan kondisi ini, peternak bisa menyuplai kebutuhan pasar kapanpun.

"Jadi ini adalah persepsi bagaimana membentuk petani menjadi kelompok-kelompok sehingga mereka menjadi usaha yang besar dan bisa suplai ke pasar rutin," tambahnya.

Layaknya hukum ekonomi, jika permintaan meningkat sementara suplai menurun, maka harga otomatis akan melonjak.

Sekadar catatan, pemerintah telah membuka keran impor untuk menambah pasokan daging sapi. Hal ini juga seiring dengan keinginan pemerintah untuk bisa menstabilisasi harga daging yang masih mencapai Rp 90.000 per kg. Salah satu kebijakan pemerintah adalah justru membebaskan jumlah impor daging sapi jenis premium sejak April 2013.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi mengatakan hingga saat ini, pemerintah telah menerbitkan izin impor 1.210 ton daging premium. "Khusus untuk prime cut segar dingin sampai saat ini telah diterbitkan Persetujuan Impor sebesar 1.210 ton kepada empat perusahaan importir dan dagingnya sudah masuk semua ke Indonesia," kata Bachrul.

Pemerintah juga membuka keran impor sapi siap potong dengan menerbitkan izin untuk pemasukan 24.750 ekor sapi siap potong. Hingga saat ini, dilaporkan baru 8.990 ekor sapi siap potong yang masuk ke Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.168 ekor sapi sudah dipotong. Sedangkan Bulog sendiri mendapat tugas mengimpor 3.000 ton daging sapi beku.

Namun dari jumlah itu ternyata Bulog hanya mampu merealisasikan sebesar 951,97 ton. Padahal pemerintah menargetkan dengan impor daging sapi tersebut akan membuat harga daging sapi menurun, bahkan hingga di level Rp 75.000 per gram.


EditorErlangga Djumena

Close Ads X