Kisah Sukses Pengusaha Souvenir "Clay Tepung" di Salatiga

Kompas.com - 01/08/2014, 10:00 WIB
Di tangan Joyce (40), warga Jalan Menur nomor 4, Kecamatan Sidorejo, Salatiga ini, tepung bisa disulap menjadi aneka model patung, gantungan munci, hiasan kulkas dan aneka souvenir menarik lainnya. Kompas.com/ Syahrul MunirDi tangan Joyce (40), warga Jalan Menur nomor 4, Kecamatan Sidorejo, Salatiga ini, tepung bisa disulap menjadi aneka model patung, gantungan munci, hiasan kulkas dan aneka souvenir menarik lainnya.
|
EditorGlori K. Wadrianto

"Saya memulai bisnis ini sejak tahun 2008, setelah saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan saya sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFAR) YAPHAR, Semarang. Pada awalnya banyak yang sinis, bahkan keluarga saya sendiri awalnya tidak setuju saya bekerja dibidang ini. Tapi menurut saya, setiap bidang pekerjaan punya kelebihan dan keunikan masing masing," ungkap Joyce.

Saat ini, Joyce tidak hanya membuat dan menjual kerajinan clay tepung. Dengan dibantu dua orang pegawai, dia juga melayani pesanan pembuatan souvenir dengan materi lain seperti lilin, fiberglass, gypsum, kreasi cangkang telur dengan dekorasinya menggunakan chocolate clay dan fondant (palstic icing).

"Kami juga membuka kursus kreativitas bagi anak-anak maupun dewasa. Tidak hanya terbatas pada kerajinan, tapi juga produk makanan seperti cookies," ujar Joyce.

Cerita dari ruang perustakaan
Keberhasilan Joyce sebagai pengusaha kerajinan clay tepung tidak lepas dari backgroud-nya dalam bidang farmasi yang sejak awal dia geluti. Lulusan sarjana farmasi UGM ini pernah tercatat sebagai staf penelitian dan pengembangan di Sekolah Santa Laurensia, Serpong Tangerang dan terakhir sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (Stifar) "Yaphar" Semarang.

"Kebetulan saya sangat menyukai dunia sains, saya senang mengolah bahan. Saya mencoba membuat produk  sains yang banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari seperti sabun, lilin dan barang-barang fiberglass," tutur Joyce.

Suatu hari di perpustakaan sekolah, Joyce membaca sebuah buku sains yang di dalamnya ada sebuah teori yang mengatakan bahwa tepung kalau dicampur dengan lem putih (lem kayu) akan menghasilkan adonan yang kalau di-angin-anginkan dapat mengeras dengan sendirinya.

"Tapi di dalam buku tersebut tidak dijelaskan detail, termasuk tentang jenis tepung yang dimaksud," kata dia.

Terlintas dibenak Joyce untuk memulai wirausaha. Kenapa mesti bekerja dengan orang lain, jika dengan pengetahuannya itu selama ini ia sudah bisa membuat berbagai macam barang. Hingga akhirnya Joyce memberanikan diri untuk berhenti mengajar dan bertekad menekuni bisnis handycraft.

Usaha Joyce berpindah haluan dari dunia akademik menjadi pengusaha handycraft tidaklah mulus. Bahkan ia sempat kembali mengajar di Semarang, setelah usahanya gulung tikar karena jeblok di pemasaran.

"Saya mencoba clay tepung pada Februari 2008.  Untuk mendapatkan hasil yang halus, perlu jam terbang tinggi. Dari awal membuat sampai memperoleh hasil yang benar-benar halus dan layak jual, butuh waktu sekitar 3 bulan. Untungnya saya punya background pendidikan farmasi. Sehingga ada pengetahuan tentang sifat-sifat bahan," kata dia.

Kompas.com/ Syahrul Munir Di tangan Joyce (40), warga Jalan Menur nomor 4, Kecamatan Sidorejo, Salatiga ini, tepung bisa disulap menjadi aneka model patung, gantungan munci, hiasan kulkas dan aneka souvenir menarik lainnya.
Adonan clay tepung ini sifatnya mudah mengeras kalau terkena udara, sehingga membentuknya harus cepat. Menurut Joyce, keterampilan tangan sangat mempengaruhi produk yang dihasilkan, sehingga butuh orang yang memiliki bakat dan keterampilan tinggi.

"Juga harus telaten, tapi tidak berarti yang tidak ada bakat tidak bisa mengerjakan. Semua tergantung pada niat dan usaha. Kalau sering latihan lama-lama bisa," tegasnya.

Tidak disangka, produk yang dihasilkan Joyce ini ternyata banyak yang tetarik. Banyak yang ingin membeli sekaligus ingin mempelajari cara membuatnya.  "Dari situ akhirnya saya membuat kursus  pada bulan Agustus 2008. Sedangkan pemasaran produk dan kursus saya lakukan dengan berjalan kaki dari satu toko ke toko yang lain untuk menitipkan brosur, sehingga banyak yang mengenal produk saya, memesan dan kursus," ujar dia.

Apresiasi dan dukungan dari konsumen terhadap produknya membuat Joyce semakin mantap untuk menjalankan bisnis ini. Kini ia bisa membuktikan, jika bisnis ini banyak mendatangkan keuntungan, tidak hanya finansial namun juga aktualisasi dari kemampuan diri.

"Saya tidak merasa gengsi karena dianggap turun kelas. Tapi justru bisa berbagi ilmu lebih nyata kepada orang banyak. Dari memberi kursus saya bisa memberikan inspirasi dan motivasi kepada orang lain untuk berwirausaha," imbuhnya.

Joyce sangat mengharapkan, bisnis yang digelutinya ini, ke depan bisa lebih dikenal luas oleh masyarakat. Bahkan termasuk ke luar negeri.  "Syukur bisa ekspor. Semoga bisa membuat lapangan kerja lebih luas," kata Joyce.

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X