Meraup Untung dari Gurihnya Keripik Pare - Kompas.com

Meraup Untung dari Gurihnya Keripik Pare

Kompas.com - 08/12/2014, 19:45 WIB
shutterstock

MAGELANG, KOMPAS.com - Tidak semua orang suka makan pare, karena rasanya yang pahit meski sudah dibuat sayur dengan tambahan bumbu. Selain pare, terong juga tidak banyak yang menggemari. Lalu bagaimana jika dua sayur itu dibuat menjadi keripik?

Adalah Esti Widayati, pengusaha keripik asal Kampung Sanden, Kelurahan Kramat Selatan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang yang berinovasi membuat pare menjadi kudapan nikmat itu. Semula, wanita 47 tahun itu hanya seorang ibu rumah tangga sembari merintis usaha catering dan souvenir sekitar tahun 2009 silam.

Namun Etik - panggilan akrabnya - kerap mengeluhkan dua putrinya yang tidak suka makan sayur, termasuk pare dan terong. Etik pun berfikir untuk memodifikasi aneka sayur menjadi makanan yang digemari anak-anak.

“Dahulu saya selalu kesal dengan anak-anak yang susah sekali makan sayur, lalu saya mencari cara bagaimana agar anak-anak saya suka makan sayur, saya terus bereksperiman hingga akhirnya nemu ide membuat keripik,” ucap Etik, kepada Kompas.com, Senin (8/12/2014).

Etik menuturkan, keripik buatannya tidak serta merta disukai anak-anaknya karena keripik pare masih pahit dan keripik terong yang masih lembek dan tidak tahan lama. Setelah melalui berbagai uji coba, alumni SMA Kristen 1 Kota Magelang itu pun berhasil meramu pare dan terong menjadi keripik yang gurih, renyah dan tentu tidak pahit.

“Benar saja, anak-anak saya sangat menyukainya. Lalu saya mencoba untuk jenis sayuran lain, seperti daun singkong, seledri, kemangi, bayam. Untuk keripik daun singkong, saya bikin seperti peyek paru sapi. Kalau orang menyebutnya keripik paru KW," ungkap Istri Budi Sutrisno itu sembari berkelakar.

Etik tidak menyangka, selain anak-anaknya, sejumlah kerabat, teman dan tetangga juga menyukai keripik buatannya. Etik pun lantas mencoba mengembangkannya menjadi sebuah usaha rumahan hingga sekarang. Sementara usaha catering dan souvenirnya ia tinggalkan karena menurut Etik usaha tersebut memakan banyak waktu dan tenaga.

“Proses pembuatan keripik sayuran ini membutuhkan sekitar 1,5 jam, mulai dari merajang, lalu menghilangkan kadar airnya, membuat adonan tepung, selanjutnya digoreng hingga dua kali proses. Kami juga tidak menggunakan tambahan zat kimia apapun, jaid aman dan sehat,” urai Etik.

Kini Etik memiliki delapan pekerja yang membantunya memproduksi puluhan kilogram keripik sayuran di rumahnya yang terletak di Jalan Jeruk 1 nomor 3, Kramat Selatan, Magelang Utara, Kota Magelang. Dalam sehari, ia mampu memproduksi rata-rata 30 kilogram untuk satu jenis keripik sayur.

Usaha keripik sayuran yang ia bernama “Jaya Makmur” itu sudah memiliki pelanggan hingga ke luar kota, seperti Temanggung, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Lampung hingga Pacitan Jawa Timur.

“Sebagian besar pelanggan saya para sales, produk saya mereka jual kembali. Pesanan akan melonjak kalau menjelang Hari Raya seperti, Idul Fitri dan Natal,” ungkap Etik.

Harga keripik aneka sayuran ini juga tidak begitu mahal. Untuk satu kantong plastic ukuran 2,5 kilogram, ia jual dengan harga antara Rp 80.000 – Rp 85.000. Ia juga mengemas aneka keripik ini dengan bungkusan yang lebih kecil berukuran 175 gram dengan harga Rp 13.000 - Rp 15.000 per bungkus.

Atas keberhasilannya, Etik pun dipercaya menjadi Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Jaya Abadi di kampungnya. Banyak pengusaha kecil yang bergabung dalam KUB tersebut. Dari usaha keripik sayuran tersebut, Etik juga mengaku bisa membantu menambah penghasilan suami yang bekerja di bidang property di Karanganyar Jawa Tengah.

"Alhamdullilah, hasilnya bisa membantu suami, membiayai sekolah dua anak saya yang masih sekolah dasar dan kuliah di Yogyakarta,” tutur Etik.

Namun Etik tidak menampik jika saat ini produksi keripik sayurannya sedikit menurun. Bahkan beberapa produk keripik sayur terpaksa dihentikan lantaran harga bahan baku yang melambung tinggi. Ia menggambil bahan baku langsung dari petani lereng Merapi di Kengan.

Etik menyebutkan, daun seledri yang semula Rp 3.000 naik menjadi Rp 15.000 per kilogram. Belum lagi gas LPG yang kian langka akhir-akhir ini dan biaya pengiriman yang meroket pascakenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. “Semua serba naik dan terus terang kami bingung untuk menentukan harga jual produk kami. Sementara ini kami bikin keripik sesuai order saja dulu,” pungkas Etik.


EditorBambang Priyo Jatmiko

Close Ads X