Posisi Daya Saing Indonesia Turun

Kompas.com - 30/09/2016, 14:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Daya saing Indonesia merosot dari peringkat ke-37 tahun lalu menjadi peringkat ke-41 tahun ini dari 138 negara. Kendati pengembangan sektor keuangan dinilai cukup baik, yakni naik tujuh peringkat, Indonesia anjlok 20 peringkat dalam kesehatan dan pendidikan dasar. Secara keseluruhan, skor Indonesia 5,42.

Laporan Indeks Daya Saing Global 2016-2017 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia (WEF), kemarin, menyebutkan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia ada di peringkat ke-91. Itu karena penetrasi TIK di Indonesia masih sangat rendah.

Tiga negara dengan daya saing tertinggi adalah Swiss, Singapura, dan Amerika Serikat.

Pendiri dan CEO WEF, Klaus Schwab, mengatakan, stimulus moneter saja tidak cukup untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. "Tetap harus dikombinasikan dengan reformasi daya saing," ujar Schwab dalam pembuka laporan Indeks Daya Saing Global 2016-2017 itu.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad, yang dimintai tanggapan soal daya saing ini, mengatakan, kondisi industri keuangan yang naik dan turun ditentukan indikator pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah, ujar Muliaman, telah mengupayakan agar peringkat daya saing Indonesia membaik. Salah satu upayanya melalui penerbitan paket kebijakan ekonomi.

Menurut Muliaman, penurunan peringkat daya saing Indonesia harus dikaji dalam perspektif utuh. Paket kebijakan ekonomi-yang hingga kini sebanyak XIII-akan menuai hasilnya pada suatu hari nanti.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di sela-sela acara Global Islamic Finance Award mengatakan, persaingan antarbangsa sedang berlangsung dan terus berjalan. Pemerintah tidak akan mengubah strategi dan target penguatan daya saing.

Di sektor perindustrian, kata Airlangga, pemerintah sedang membenahi infrastruktur dan memastikan ketersediaan energi yang dibutuhkan.

Kemudahan berbisnis

Di tempat terpisah, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, dalam rangka meningkatkan daya saing, pemerintah akan meningkatkan kemudahan berbisnis. Untuk itu, Kementerian Perdagangan akan menderegulasi peraturan yang menghambat. "Kami juga mengevaluasi dan memperbaiki hal- hal yang menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi," ujarnya.

Kemendag juga mendorong desain untuk memberi nilai tambah terhadap produk sehingga harga produk dapat lebih tinggi di pasar ekspor dan berdaya saing. Untuk itu, pelaku usaha didorong mengembangkan desain produk dengan memanfaatkan Pusat Pengembangan Desain Indonesia.

Halaman:


EditorBambang Priyo Jatmiko

Close Ads X