Bagaimana Gejolak Rupiah di Mata Dunia? - Kompas.com

Bagaimana Gejolak Rupiah di Mata Dunia?

Kompas.com - 12/01/2017, 12:30 WIB
KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Warga menunjukkan mata uang rupiah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tahun emisi 2016 di lokasi penukaran uang di Blok M Square, Jakarta, Senin (19/12/2016). Bank Indonesia resmi meluncurkan uang NKRI tahun emisi 2016 dengan menampilkan 12 pahlawan nasional yakni 7 uang rupiah kertas dan dan 4 uang rupiah logam.

Oleh: Teddy Oetomo

Tidak dapat dipungkiri bahwa Rupiah memegang peranan penting terhadap ekonomi Indonesia, baik dari sisi fundamental maupun dari sisi sentimen. Kekhawatiran masyarakat Indonesia selalu tertuju pada resiko pelemahan Rupiah yang tajam.

Hal ini terjadi karena pelemahan Rupiah di masa lampau diasosiasikan dengan krisis ekonomi.

Pelemahan Rupiah secara tajam tentunya mengganggu meningkatkan ketidakpastian bagi kalangan usaha dan hal ini akan berpengaruh sangat buruk bagi iklim ekonomi Indonesia.

Namun, perlu dimengerti bahwa memiliki mata uang yang terlalu mahal juga berpengaruh buruk bagi perekonomian Indonesia.

Hal ini dikarenakan mahalnya mata uang sebuah negara akan menurunkan daya saing ekspor dan di saat yang sama meningkatkan permintaan impor yang akan menyebabkan defisit perdagangan yang membengkak.

Sebenarnya, salah satu penyebab krisis moneter di tahun 1998 adalah mahalnya Rupiah pada masa sebelum terjadinya krisis, menyebabkan pembengkakan defisit yang kemudian memaksa Rupiah untuk melemah.

Namun, berbeda dengan kondisi sebelumnya, Rupiah saat ini tidak di posisi terlalu mahal (over-priced).

Maka dari segi fundamental sebenarnya tidak banyak alasan untuk terlalu khawatir terhadap risiko pergerakan Rupiah.  

Rupiah Perlu Melemah

Apabila diteliti lebih jauh, pelemahan Rupiah terhadap Dollar Amerika beberapa saat terakhir ini lebih dikarenakan oleh penguatan dari Dollar Amerika terhadap mata uang satu dunia.

Dalam kurun waktu satu bulan, antara 25 Oktober 2016 hingga 25 November 2016, Dollar Amerika terhadap mata uang negara lain di dunia (Dollar Index) menguat sebesar 2,8 persen dari posisi 98,7 ke 101,49.

Di saat yang sama, Rupiah terhadap Dollar Amerika melemah sebesar 3,9 persen dari posisi 13.005 ke 13.525.

Sehingga, pelemahan Rupiah terhadap Dollar Amerika pada kurun waktu tersebut, sebagian besar dikarenakan oleh penguatan dari pada Dollar Amerika terhadap mata uang dunia.

Perlu dicermati bahwa Indonesia memiliki hubungan dagang dengan begitu banyak negara di dunia, tidak hanya dengan Amerika.

Sehingga, pada saat Dollar Amerika menguat terhadap mata uang dunia, Rupiah seyogyanya perlu melemah terhadap Dollar Amerika.

Apabila Rupiah tidak melemah terhadap Dollar Amerika di saat Dollar Amerika menguat terhadap mata uang dunia, maka Rupiah akan menguat terhadap mata uang dunia.

Hal ini dapat manjadi ancaman terhadap ekspor Indonesia ke negara lain selain Amerika akan menjadi kurang kompetitif.

Penguatan Dollar AS

Penguatan Dolar Amerika sendiri lebih dikarenakan oleh perkembangan yang terjadi di Negara Paman Sam tersebut, bukan oleh perkembangan yang terjadi di Indonesia.

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden memicu spekulasi bahwa di tahun 2017, Amerika akan meningkatkan pengeluaran pemerintah yang kemudian akan meningkatkan ekpektasi terhadap inflasi.

Dengan demikian, investor dunia berpendapat bahwa bank sentral Amerika, Federal Reserve, mungkin akan mengambil kebijakan untuk meningkatkan suku bunga negara tersebut yang berimbas pada penguatan Dolar Amerika terhadap mata uang dunia.

Namun, apabila ternyata pada akhirnya ekspektasi tersebut tidak tercapai, bukan tidak mungkin bahwa pada 2017 kita melihat pelemahan Dolar Amerika terhadap mata uang dunia.

Bagaimana Peran BI vs Volatilitas Rupiah?

Yang menjadi tantangan bagi Indonesia saat ini, dan tentunya Bank Indonesia, adalah keperluan untuk menjaga stabilitas dan mengurangi volatilitas Rupiah.

Di saat terjadinya penguatan Dolar Amerika terhadap mata uang dunia, sudah sepantasnya Rupiah melemah terhadap Dollar Amerika, begitu pula sebaliknya.

Namun, yang menjadi tugas bagi Bank Indonesia adalah bagaimana mengurangi gejolak dari Rupiah supaya tidak berimbas secara negatif terhadap perekonomian Indonesia.

Apabila kita cermati langkah yang diambil Bank Indonesia pada beberapa saat terakhir, sebenarnya harus diakui bahwa Bank Indonesia secara relatif telah berhasil mengurangi gejolak berlebih dari Rupiah sendiri.

Memang apabila kita cermati lebih dalam, risiko yang menghantui Rupiah saat ini mungkin jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2013 di saat pertama kali Federal Reserve mencanangkan untuk mengurangi stimulus.

Di tahun 2013, atau sering dikenal dengan nama Fed Tantrum, Indonesia memiliki cadangan devisa yang jauh lebih rendah dibandingkan saat ini.

Di saat Fed Tantrum, juga terdapat efek kejut (surprise effect) yang lebih besar dikarenakan dunia masih terbuai dengan penambahan likuiditas yang begitu besar sejak krisis global 2008.

Terutama, di tahun penambahan likuiditas global sejak krisis global 2008 telah mengakibatkan mata uang negara-negara lain, termasuk Indonesia menguat secara masif.

Sehingga, pada saat Fed Tantrum terjadi, mata uang negara-negara lain, termasuk Indonesia berada di posisi yang cukup mahal (overpriced).

Sejak saat itu, Rupiah sendiri telah melemah cukup banyak dari level 10,000 hingga saat ini 13,000.

Amerika Serikat vs Indonesia

Di akhir kata, tidak dapat dipungkiri bahwa kebijakan pemerintah Amerika Serikat akan berimbas terhadap negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Memang bukan tidak mungkin bahwa akan terdapat saat-saat di mana Indonesia mungkin menghadapi tekanan terhadap Rupiah.

Namun, dengan kapasitas yang dimiliki Indonesia, ditambah dengan prospek ekonomi Indonesia ke depannya, kita berharap bahwa sekalipun ada tekanan, hanya akan berlangsung untuk jangka pendek dan temporer.

Sehingga, risiko yang mungkin dihadapi perekonomian Indonesia ke depannya diharapkan dapat ditanggulangi dengan baik dikarenakan kapasitas yang dimiliki Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas Rupiah.

Kompas TV Ini Dampak Nyata Pelemahan Rupiah Pada Industri


EditorAprillia Ika

Komentar
Close Ads X