Relaksasi Ekspor Konsentrat Sebabkan Perusahaan Smelter Gulung Tikar

Kompas.com - 20/07/2017, 15:37 WIB
Ilustrasi: Pembangunan smelter. Dokumentasi PT Well Harvest Winning Alumina RefinaryIlustrasi: Pembangunan smelter.
Penulis Moh. Nadlir
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Langkah pemerintah yang mengizinkan kembali ekspor konsentrat, mineral mentah kadar rendah untuk bauksit dan nikel membuat sejumlah perusahaan smelter di Tanah Air merugi dan gulung tikar.

Kebijakan yang mengizinkan ekspor mineral mentah itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 2017 dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 5/2017 serta Nomor 6/2017.

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mengungkapkan ada 11 perusahaan smelter yang berhenti beroperasi lantaran merugi akibat kebijakan relaksasi ekspor konsentrat dan mineral mentah kadar rendah tersebut.

Perusahaan-perusahaan yang gulung tikar itu antara lain, PT Karyatama Konawe Utara, PT Macika Mineral Industri, PT Bintang Smelter Indonesia, PT Huadi Nickel, PT Titan Mineral. PT COR industri, PT Megah Surya, PT Wan Xiang, PT Jinchuan, dan PT Transon.

Ada juga 12 perusahaan smelter nikel yang merugi akibat jatuhnya harga, yaitu PT Fajar Bhakti, PT Kinlin Nickel, PT Century, PT Cahaya Modern, PT Gebe Industri, PT Tsingshan (SMI), PT Guang Ching, PT Cahaya Modem, PT Heng Tai Yuan, PT Virtue Dragon, PT Indoferro, dan PT Vale lndonesia Tbk.

"Penerbitan aturan relaksasi itu mendemonstrasikan ketidakpastian hukum. Tak heran jika minat investasi smelter akhir-akhir ini menjadi berkurang," kata Marwan di Jakarta, Kamis (20/7/2017).

Tak hanya itu, penerbitan PP Nomor 1/2017 itu bertolak belakang dengan sikap pemerintah yang proaktif menarik minat investor berinvestasi dengan mengefisienkan sistem perizinan melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ini sinyal buruk bagi investasi pembangunan smelter dan bahkan bagi iklim investasi di dalam negeri," kata Marwan.

Relaksasi pemerintah juga dianggap telah mengkhianati komitmen yang dibuat dengan para kontraktor yang telah melakukan investasi pembangunan smelter dalam 2-3 tahun terakhir. Sebab, kebijakan relaksasi membuat peta dan volume ekspor-impor konsentrat berubah, harga komoditas turun dan kelayakan investasi smelter pun ikut terganggu.

"Jadi dari 12 smelter bauksit dan nikel yang direncanakan dibangun pada 20l5, ternyata yang terealisasi hanya 5 smelter atau dari 4 yang direncanakan pada 2016, hanya dua smelter yang terealisasi," tutup Marwan.

 

Catatan redaksi: Berita ini telah diklarifikasi oleh PT Megah Surya Pertiwi melalui berita dengan judul: Perusahaan "Smelter" PT Megah Surya Pertiwi Bantah Berhenti Beroperasi



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.