MUI Minta 10 Persen APBN Dialokasikan untuk Keuangan Syariah

Kompas.com - 25/07/2017, 10:52 WIB
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin saat membuka diskusi panel mengenai ekonomi syariah, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (24/7/2017). Kompas.com/Kurnia Sari AzizaGubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin saat membuka diskusi panel mengenai ekonomi syariah, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (24/7/2017).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin meminta pemerintah mengalokasikan 10 persen APBN untuk keuangan syariah. Ma'ruf mengatakan, anggaran ini nantinya dapat mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia.

"Kami ingin keuangan syariah masuk APBN sekitar 10 persen. Kami harapkan ada intensifikasi dan ekstensifikasi," kata Ma'ruf, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (24/7/2017).

Selama ini, lanjut dia, pemerintah belum memberi perhatian lebih kepada industri syariah. Meskipun di sisi lain, industri syariah juga menyumbang pendapatan negara. Seperti makanan halal, fashion halal, wisata syariah, rumah sakit syariah, dan lain-lain.

Untuk dapat menjadikan ekonomi syariah sebagai arus baru perekonomian Indonesia, dibentuklah Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang langsung dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

(Baca: DPR: Industri Keuangan Syariah Indonesia Harus Ungguli Malaysia)

"Dengan membentuk KNKS, kebijakan bisa lebih dirumuskan. Kami optimis ekonomi syariah jadi pilar utama penguatan ekonomi kita," kata Ma'ruf.

Nantinya MUI akan menerbitkan fatwa mengenai instrumen syariah dan ekonomi syariah diyakini akan semakin berkembang di Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia mengimbau para ulama untuk mempromosikan produk layanan jasa keuangan syariah. Menurut dia, harus ada sinergi antara pemerintah dengan ulama dalam mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia.

"Mereka punya kewajiban (mengembangkan ekonomi syariah). Wong negara saja sudah mendorong, kenapa ulama nya lembek?" kata Ma'ruf.

Adapun Indonesia berada pada urutan ke-10 dalam industri syariah dunia dengan market share sebanyak 5 persen. Sedangkan Malaysia berada di peringkat pertama dengan angka 30 persen.

Berdasarkan data Bank Indonesia, total aset keuangan syariah pada akhir 2016 mencapai Rp 891 triliun dengan pertumbuhan rata-rata 23 persen per tahun.

Jumlah aset tersebut mengalami pertumbuhan sebanyak 20,28 persen, pembiayaan tumbuh 16,41 persen dan dana pihak ketiga tumbuh sebesar 20,84 persen.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.