Lewat Foto Instagram, India Kejar Wajib Pajak

Kompas.com - 28/07/2017, 21:28 WIB
New Delhi didaulat sebagai kota dengan pencemaran udara paling tinggi di India. Reuters/IndependentNew Delhi didaulat sebagai kota dengan pencemaran udara paling tinggi di India.
|
EditorAprillia Ika

NEW DELHI, KOMPAS.com - Foto mobil baru atau foto liburan menyenangkan yang diunggah pada media sosial seperti Facebook atau Instagram menjadi sarana bagi otoritas India dalam mengejar wajib pajak.

Pasalnya, mulai bulan depan, pemerintah India akan mengumpulkan data informasi virtual untuk keperluan perpajakan.

Data informasi virtual tersebut tak hanya berasal dari sumber-sumber tradisional seperti perbankan, namun juga dari media sosial. Tujuannya adalah untum menyesuaikan pola belanja wajib pajak dengan deklarasi pendapatan.

Mengutip Bloomberg, Jumat (28/7/2017), otoritas pajak India akan dapat mengetahui wajib pajak yang membayar pajak dengan jumlah terlalu sedikit namun menghabiskan uang dengan jumlah besar. Basis data biometrik ini merupakan bagian dari proyek besar yang dinamakan Project Insight.

Untuk membangun Project Insight, pemerintah India membutuhkan waktu selama tujuh tahun dan dana sebesar 10 miliar rupee atau 156 jura dollar AS.

Ini pun merupakan bagian dari perombakan perpajakan terbesar India guna meningkatkan penerimaan pajak secara signfikan sekaligus menambah jumlah wajib pajak.

"Analitik data adalah upaya maju bagi otoritas pajak di seluruh dunia. Ini juga akan menghentikan usikan dari petugas pajak karena tidak akan ada juga tatap muka dengan publik," jelas Amit Maheshwari, managing partner pada biro akuntan publik Ashok Maheshwary and Associates.

Negara-negara seperti Belgia, Kanada, dan Australia sudah menggunakan big data untuk mengungkap penghindaran pajak yang mungkin tak terdeteksi tanpa teknologi. Upaya yang dilakukan India ini mirip dengan sistem Connect yang dimiliki Inggris.

Beroperasi sejak 2010, Connect telah mencegah kehilangan penerimaan pajak sebesar 4,1 miliar poundsterling atau 5,4 miliar dollar AS. Untuk mengembangkan Connect, pemerintah Inggris merogoh kocek sekira 100 juta poundsterling.

Pemerintah India menargetkan tingkat kepatuhan pajak akan meningkat ke kisaran 30 sampai 40 persen pada tahap pertama pengoperasian Project Insight.

Selama tahap pertama ini, semua data eksisting seperti jumlah pengeluaran kartu kredit, properti, investasi saham, deposito, hingga pembelian secara tunai akan dipindahkan ke sistem baru.

Tim sentral akan mengirim surat lewat pos atau surel kepada wajib pajak untuk melaporkan deklarasi pajak mereka. Tidak akan ada tatap muka selama proses berlangsung. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X