Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 01/08/2017, 19:50 WIB
Penulis Moh. Nadlir
|
EditorMuhammad Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah berniat menggunakan dana haji untuk pembangunan infrastruktur. Badan Pelaksana Pengelola Keuangan Haji (BPKH) pun menyebut kurang lebih ada Rp 80 triliun dana haji yang siap untuk diinvestasikan. Namun, keinginan Pemerintah tersebut banyak kritikan dari berbagai pihak. 

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menegaskan bahwa keinginan pemerintah menggunakan dana haji itu pada dasarnya hanya ingin mengelola dana tersebut dengan lebih baik dan bermanfaat.

"Karena waktu tunggunya (haji) 20 tahun. Bagaimana dana yang dititip itu bisa dikelola dengan baik, sehingga dapat membantu jemaah haji," kata Kalla di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (1/8/2017).

Nantinya, keuntungan dari investasi tersebut bisa dipakai untuk menyubsidi ongkos dan biaya haji sehingga lebih terjangkau oleh masyarakat.

"Makanya investasi itu harus betul-betul baik. Investasi itu bukan kepentingannya pemerintah, tapi kepentingan jemaah. Ini supaya dapat membayar (haji) lebih murah," kata Kalla.

Pemerintah pun menyadari investasi tersebut nantinya juga harus sesuai dengan syariat agama atau syar'i. Karenanya, jenis investasi yang akan disasar pemerintah akan benar-benar dipilih.

Pemerintah tidak menutup kemungkinan akan menggunakan dana haji tersebut ke sektor lain selain infrastruktur. Sebab, berdasarkan kajian, investasi paling menguntungkan ada di sektor itu.

Pemerintah juga menganggap bahwa dana haji yang 60-70 persennya dalam bentuk uang asing, dollar Amerika Serikat dan riyal Arab Saudi justru sangat berisiko jika hanya dibiarkan mengendap selama puluhan tahun. Sebab, nilai uangnya akan menurun.

Kompas TV 27 Tahun Kumpulin Uang, Penjual Tahu Ini Akhirnya Naik Haji

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+