Apindo: Daya Beli Masyarakat Turun Karena Serapan Tenaga Kerja Susut

Kompas.com - 06/08/2017, 13:52 WIB
Ketua Umum Apindo Haryadi Sukamdani di Kantor Apindo Jakarta, Selasa (20/12/2016). Pramdia Arhando JuliantoKetua Umum Apindo Haryadi Sukamdani di Kantor Apindo Jakarta, Selasa (20/12/2016).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, tren penurunan daya beli yang saat ini menjadi polemik terjadi karena adanya tren penurunan angka serapan tenaga kerja formal.

Hariyadi menjelaskan, jika melihat data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan periode serapan tenaga kerja formal dari tahun 2010 hingga 2016 hanya 850.000 orang per tahun.

"Padahal setiap tahun itu masuk kurang lebih sekitar 2 juta lebih angkatan kerja yang masuk ke bursa kerja. Jadi kami melihat bahwa kelas menengah bawah itu betul-betul drop banget," ujar Hariyadi kepada Kompas.com, Minggu (6/8/2017).

Menurutnya, dengan adanya backlog antara serapan tenaga kerja dan angkatan kerja setiap tahunnya berdampak pada penurunan daya beli.

(Baca: Daya Beli Terpuruk, Tetapi Jalan Semakin Macet)

 

"Kami asumsikan orang yang punya uang itu adalah bekerja secara formal menerima gajinya secara baik mempunyai fasilitas jaminan sosial dan ter-cover semua dan itu yang kami anggap mempunyai daya beli," tambah Hariyadi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kendati demikian, Hariyadi menegaskan, jika menilik data investasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tren pertumbuhan investasi terus meningkat, akan tetapi rasio penerimaan tenaga kerjanya semakin mengecil.

Pada 2010, rasio investasi terhadap penyerapan tenaga kerja bisa mencapai 5.000 tenaga kerja dengan nilai investasi 1 triliun, sedangkan saat ini hanya mampu menyerap 2.200 orang.

"Ini perlu diperhatikan pemerintah. karena yang butuh makan makin banyak tapi yang punya uang untuk belanja semakin sedikit dan itu fenomena di kelas menengah bawah seperti itu," jelasnya.

Berdasarkan data BKPM realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) kuartal II 2017 mencapai Rp 170,9 triliun, atau meningkat 12,7 persen dari periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 151,6 triliun. Realisasi investasi tersebut menyerap 345.000 tenaga kerja.

"Angka investasinya naik tapi penyerapan tenaga kerjanya rendah dan di kelas menengah bawah situasinya seperti itu dan situasi kelas menengah atas ada tren menahan belanja jadi orang lebih hati-hati dan lebih cenderung menabung uangnya atau menyimpan," pungkasnya.

Kompas TV Kompas Bisnis akan membahas ekspor yang menjadi penopang ekonomi di triwulan pertama 2017 dengan ekonom Universitas Indonesia
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.