JICT Enggan Buka-bukaan Kerugian akibat Mogok Kerja Pegawainya

Kompas.com - 07/08/2017, 05:53 WIB
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Jakarta International Container Terminal (JICT) mengakui mengalami kerugian akibat aksi mogok kerja yang dilakukan oleh ratusan pegawainya sejak Kamis (3/8/2017) lalu.

Hanya saja, direksi PT JICT enggan buka-bukaan mengungkapkan besaran kerugian akibat peristiwa tersebut. Direksi PT JICT pun langsung meninggalkan lokasi konferensi pers usai memberikan pernyataan resmi mereka pada Minggu (6/8/2017) ini.

"Ada kerugian yang cukup signifikan, karena tak ada bisnis, tidak ada bongkar muat selama mogok," kata Wakil Direktur Utama PT JICT Riza Erivan, dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan.

Sebelumnya Asosiasi Logistik Indonesia memprediksi JICT mengalami kerugian antara Rp 100 miliar-Rp 200 miliar. Bagi eksportir dan importir, Riza memperkirakan tak ada kerugian yang dialami. Sebab, aktivitas bongkar muat yang biasanya dilakukan di JICT, dialihkan ke empat terminal sekitar.

Empat terminal tersebut yakni Terminal Peti Kemas (TPK) Koja, New Priok Container Terminal One (NPCT1), Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, dan Terminal Mustika Alam Lestari (MAL).

"Jadi pada umumnya tidak akan menimbulkan biaya tambahan buat importir dan eksportir. Karena sama saja mereka bongkar muat di JICT dan Koja, tidak akan ada biaya tambahan," kata Riza.

Riza menjelaskan, PT JICT sempat menerbitkan surat edaran. Di dalamnya, direksi memutuskan menutup perusahaan saat aksi mogok, mulai pukul 03.00-15.00. Direksi memerlukan waktu untuk melakukan konfigurasi sistem sebelum beroperasional kembali.

"Setelah itu, kami lakukan delivery kembali melalui importir. Jadi importir yang kontainernya masih ada di JICT, silakan diambil," kata Riza.

Perusahaan akan menanggung biaya tambahan selama periode penutupan tersebut. "Misalnya dalam periode jam 3 pagi sampai jam 3 sore itu ada penumpukan biaya storage atau biaya lain-lain yang ada di periode itu, tentunya menjadi tanggungan perusahaan," kata Riza.

Sebelumnya, sekitar 650 anggota Serikat Pekerja JICT melakukan aksi mogok kerja. Mereka menuntut pembayaran bonus sesuai dengan yang ada di dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

PT JICT mengaku telah membayarkan bonus karyawan tahun 2016 pada Mei 2017.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.