Tiga Hal Ini Bisa Tingkatkan Kesejahteraan Petani Garam

Kompas.com - 07/08/2017, 15:33 WIB
Petani garam di Desa Menco,  Kecamatan Wedung,  Kabupaten Demak,  Jateng saat memanen garamnya,  Selasa (1/8/2017) KOMPAS.com / ARI WIDODOPetani garam di Desa Menco, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Jateng saat memanen garamnya, Selasa (1/8/2017)
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Petani garam rakyat kerap mengeluh bahwa kesejahteraannya kurang diperhatikan oleh pemerintah. Pengamat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar mengatakan,ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam.

Pertama, pemerintah harus bisa mencegah atau mengantisipasi petani garam beralih profesi. Atau, petani garam menjual lahannya. Dua hal ini bisa menyebabkan produktivitas garam berkurang.

"Yang paling penting itu sebetulnya kesejahteraan atau kebutuhan hidupnya terpenuhi," ujar Hermanto kepada Kompas.com, Senin (7/8/2017).

Langkah kedua, pemerintah perlu membuat program peningkatan pendapatan petani garam dengan memberikan sumber pendapatan lain. Seperti, melakukan budidaya ikan, ataupun pengolahan hasil produksi perikanan.

(Baca: Prod)uksi Garam Belum Maksimal Sebab Pengolahan Masih Tradisional

Langkah ketiga, yang tidak kalah penting adalah melibatkan pelaku usaha swasta dalam membangun industri pergaraman nasional. Masuknya swasta akan emmbawa masuknya teknologi pembuatan garam.

"Swasta itu juga sangat perlu untuk garam dan yang bisa mereka lakukan adalah mengadopsi teknologi yang sudah berstandar internasional sehingga bisa memenuhi persyaratan internasional," paparnya.

(Baca: Kegetiran Petani Garam, Cerita Usang tak Berujung...)

Seperti diberitakan Kompas.com sebelumnya, mayoritas petani garam di Kabupaten Aceh Utara berhenti memproduksi garam sejak sepekan terakhir. Pasalnya, ketersediaan cadangan air garam yang ditampung telah habis.

Selain itu, bahan baku senyawa kimia yang dikenal oleh petani lokal dengan sebutan bibit garam juga melambung tinggi.

Salah seorang petani garam di Desa Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, Jauhari menyebutkan saat ini harga jual garam tradisional juga melambung.

“Saat ini memang harga jual mahal. Kami bisa jual satu kaleng itu seharga Rp 100.000 atau Rp 10.000 per kilogram,” ujar Jauhari.

(Baca: Harga Tinggi, Petani Garam di Aceh Utara Stop Produksi)

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
komentar di artikel lainnya
Close Ads X