Asosiasi Pengusaha Ritel: Kami Tidak Ingin Bikin Gaduh

Kompas.com - 09/08/2017, 19:30 WIB
Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey (kedua kiri) saat konfrensi pers Aprindo di Kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (28/12/2016). KOMPAS.com/Pramdia Arhando JuliantoKetua Umum Aprindo Roy N Mandey (kedua kiri) saat konfrensi pers Aprindo di Kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (28/12/2016).
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkapkan, data penurunan penjualan ritel dan pelemahan daya beli yang disampaikan ke publik beberapa waktu lalu merupakan fakta lapangan.

Saat ini, data penurunan penjualan ritel dan daya beli yang disampikan Aprindo menuai pro dan kontra. Pemerintah hingga beberapa analisis bahkan menyanggah telah terjadi penurunan daya beli masyarakat.

"Kami tidak ingin bikin gaduh," ujar Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta dalam acara diskusi PAS FM di Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Ia menuturkan, Aprindo sudah mengecek kondisi riil di lapangan pasca Lebaran lalu. Hasilnya sejumlah penjualan ritel memang mengalami penurunan.

Terkait besaran penurunan penjualan ritel, Aprindo menuturkan untuk ritel makanan bisa terlihat dari penjualan di minimarket dan supermarket.

Ada yang masih bertahan namun ada juga yang penjualannya turun 5-10 persen. Sementara itu penjualan ritel pakaian ada yang turun 5 persen, 10 persen, bahkan 20 persen.

Namun bila dirata-tata, penurunan penjualan ritel pakaian 5-15 persen. Aprindo juga sudah mengumpulkan pemilik atau CEO industri ritel Indonesia untuk mengkonfirmasi laporan penurunan penjualan itu. Diakui Aprindo tidak semua pelaku usaha ritel penjualannya turun.

"Yang masih sedikit positif tapi mereka mengatakan sudah cenderung arahnya ke lemah makanan dan minuman lalu mainan anak-anak," kata Tutum.

Aprindo juga mengaku sudah mengecek indikasi pergeseran pola belanja masyarakat dari konvensional ke online di luar jangkauan Aprindo.

Namun setelah di cek ke industri pemasok produknya, Aprindo tak menemukan peningkatan produksi atau permintaan. Ia berharap agar kondisi mikro ekonomi ini juga menjadi perhatian pemerintah.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.