Kompas.com - 16/08/2017, 05:00 WIB
Didi Jubaedi (Kiri Kedua) Juara I Transmigran Teladan IstimewaDidi Jubaedi (Kiri Kedua) Juara I Transmigran Teladan
Penulis Achmad Fauzi
|
EditorMuhammad Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak masyarakat yang sukses setelah melakukan transmigrasi.  Salah satunya Didi Jubaedi, pria asal Banjar, Jawa Barat yang bertransmigrasi ke Desa Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Pria berumur 45 tahun ini bercerita, sebelum menjadi transmigran, hidupnya sangat miskin. Tinggalnya tidak menetap dan selalu berpindah-pindah.  Karena tak mampu membayar sewa rumah, dia dan keluarganya pernah tinggal di Masjid. Bahkan, istri Didi melahirkan anak keduanya di masjid.  

"Sebelum transmigrasi kehidupan saya sengsara. Saya musafir, bekelana dan berpindah-pindah," ujar Didi saat ditemui di Kantor Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Jakarta, Selasa (14/8/2017). 

Pekerjaan Didi tidak menentu dan serabutan. Kadang, menjadi tukang pijat, tukang kayu dan tukang panggul batu.  Dengan pekerjaan tersebut, pendapatannya hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

(Baca: Mendes Eko: Transmigrasi Terbukti Berhasil Tingkatkan Perekonomian)

Didi kemudian mendapatkan tawaran program transmigrasi pada tahun 2012. Tidak berpikir panjang, Pria yang suka guyon ini langsung menerima tawaran transmigrasi ke Luwu Timur, Sulawesi Selatan. 

"Langsung saya terima tawaran tersebut. Saat perjalanan saya sempat sakit dua bulan karena kelelahan," tutur dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berkat transmigrasi, impian Didi memiliki rumah tercapai. Tidak hanya rumah yang didapat, Didi juga mendapatkan lahan usaha dari pemerintah seluas 2 hektare.

Pekerjaannya pun kini tidak serabutan. Saat ini Didi berprofesi sebagai petani lada dengan memanfaatkan lahan yang diberikan pemerintah.  Dengan memanfaatkan lahan seluas 700 meter persegi, Didi bisa memanen lada sebanyak 800 kilogram. Jika dikalikan harga per kilogram Rp 70.000, Didi mendapatkan pendapatan Rp 56 juta saat panen.

Selain itu, Didi juga membuat usaha lain dengan membangun warung kelontong yang menjual bahan-bahan pokok. Dengan usaha itu, Didi pun mendapatkan pendapatan Rp 8 juta per bulan. 

Dari sisi pemberdayaan masyarakat, Didi pun ikut terlibat. Misalnya, pria tiga anak ini menjadi pelopor pembuatan pupuk kompos di daerah transmigrasi.  Atas keberhasilan ini, Didi merasa bersyukur kehidupan menjadi lebih baik setelah melakukan transmigrasi.

"Alhamdulilah, setelah transmigrasi kehidupan saya loncat menjadi lebih baik. Pokoknya, jangan takut untuk transmigrasi karena banyak kemajuan yang akan kita dapat," pungkas dia. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dorong Penggunaan Kendaraan Listrik, Pemerintah Bakal Setop Penjualan Mobil Konvensional pada 2050

Dorong Penggunaan Kendaraan Listrik, Pemerintah Bakal Setop Penjualan Mobil Konvensional pada 2050

Whats New
Naik 35 Persen, Laba Bersih BTN Capai Rp 1,52 Triliun pada Kuartal III 2021

Naik 35 Persen, Laba Bersih BTN Capai Rp 1,52 Triliun pada Kuartal III 2021

Whats New
Pembangkit Listrik Tenaga Fosil Akan Hilang dari Indonesia pada 2060

Pembangkit Listrik Tenaga Fosil Akan Hilang dari Indonesia pada 2060

Whats New
Lewat 'Transformasi Perluasan Kesempatan Kerja', Kemenaker Kembangkan Kewirausahaan Efektif

Lewat "Transformasi Perluasan Kesempatan Kerja", Kemenaker Kembangkan Kewirausahaan Efektif

Rilis
Pandemi Covid-19 Membuat Digitalisasi Jadi Keniscayaan bagi Perbankan

Pandemi Covid-19 Membuat Digitalisasi Jadi Keniscayaan bagi Perbankan

Whats New
Bulog Siap Menyalurkan Jagung Subsidi untuk Peternak

Bulog Siap Menyalurkan Jagung Subsidi untuk Peternak

Whats New
Kurangi Pengangguran, Kemenaker Bentuk Inkubator Kewirausahaan dalam BLK Komunitas

Kurangi Pengangguran, Kemenaker Bentuk Inkubator Kewirausahaan dalam BLK Komunitas

Rilis
Ini Kunci Sukses Bos Radja Cendol, Sempat Hanya KKP hingga Punya Outlet di Hongkong

Ini Kunci Sukses Bos Radja Cendol, Sempat Hanya KKP hingga Punya Outlet di Hongkong

Smartpreneur
Mafia Tanah Berulah, Kementerian ATR/BPN: Kita Kejar Sampai Ujung Langit

Mafia Tanah Berulah, Kementerian ATR/BPN: Kita Kejar Sampai Ujung Langit

Rilis
Squid Game dan Subway, Marketing Popular Culture

Squid Game dan Subway, Marketing Popular Culture

Work Smart
Krisis Energi Singapura Akibat Indonesia, Ini yang Jadi Penyebab

Krisis Energi Singapura Akibat Indonesia, Ini yang Jadi Penyebab

Whats New
IHSG Melemah Pada Sesi I Perdagangan, Asing Lepas ASII, BBCA, dan BUKA

IHSG Melemah Pada Sesi I Perdagangan, Asing Lepas ASII, BBCA, dan BUKA

Whats New
Penyaluran Kredit Baru Kuartal III Masih Tumbuh, Sektor Konstruksi dan Pertanian Naik Paling Tinggi

Penyaluran Kredit Baru Kuartal III Masih Tumbuh, Sektor Konstruksi dan Pertanian Naik Paling Tinggi

Rilis
Presiden Jokowi Targetkan RI Jadi Pusat Industri Halal Dunia pada 2024

Presiden Jokowi Targetkan RI Jadi Pusat Industri Halal Dunia pada 2024

Whats New
Menakar Prospek Harga Saham BBCA Hingga Akhir Tahun

Menakar Prospek Harga Saham BBCA Hingga Akhir Tahun

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.