Barter Sukhoi Tunggu Kesepakatan Harga Komoditas Perkebunan

Kompas.com - 22/08/2017, 20:12 WIB
|
EditorMuhammad Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com - Kesepakatan imbal dagang hasil perkebunan Indonesia dengan pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia masih akan melalui beberapa proses pembahasan, salah satunya penentuan harga barang yang akan diperjualbelikan.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, saat ini kerja sama imbal dagang dengan Rusia baru sebatas Memorandum of Understanding (MoU) dan akan dilakukan pembahasan lebih lanjut dan rinci terkait mekanisme pelaksanaannya.

Hal ini dilakukan guna mengantisipasi kerugian masing-masing negara yang bisa saja terjadi akibat harga jual komoditas perkebunan mengalami penurunan atau berfluktuasi di pasar global.

Pemerintah berniat melakukan pembelian 11 pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia generasi baru dengan nilai mencapai 1,14 miliar dollar AS atau setara Rp 15,16 triliun dengan kurs Rp 13.300 per dollar AS.

(Baca: Barter Komoditas dengan Sukhoi, Mendag akan Temui Menteri Pertahanan)

"Mengenai harga, kami masih terbuka. Kami akan melihat analisis proyeksi dari komoditas. Saya akan melibatkan para pelaku usaha dan asosiasinya untuk membuat proyeksi pasar," ujar Mendag saat konfrensi pers di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (22/8/2017).

Kendati demikian, Mendag belum bisa memprediksi kapan hasil valuasi komoditas perkebunan selesai. Mendag menjelaskan, pembelian pesawat tempur Sukhoi SU-35 dilakukan pemerintah sebagai upaya peremajaan kendaraan tempur milik Indonesia.

Pemerintah menawarkan imbal dagang pesawat tempur Sukhoi dengan sejumlah komoditas seperti kopi, teh, minyak kelapa sawit dan produk-produk lainnya.

"Komoditasnya kami masih dalam pembahasan. Pertanyaannya berapa harga komoditas itu? Kami masih open nego, kami analisa mana yang lebih baik, berapa kira-kira harganya, dan (komoditas perkebunan) lainnya," ungkapnya.

Namun demikian, Mendag menegaskan, pemerintah berupaya agar imbal dagang tersebut tidak dibarter dengan barang mentah, tetapi dengan produk-produk olahan hasil komoditas perkebunan yang memiliki nilai tambah tinggi.

"Secara relatif, harga bisa kami kontrol. Karena Indonesia punya pangsa pasar CPO terbesar di dunia. Pada saat harga komoditas naik, saat itulah kami akan lakukan transaksi," papar Mendag. 

Rusia adalah mitra dagang Indonesia ke-24 pada 2016. Nilai total perdagangan lndonesia-Rusia tahun 2016 tercatat 2,11 miliar dolar AS dan Indonesia mendapat surplus 410,9 juta dolar AS yang seluruhnya berasal dari surplus sektor nonmigas. 

Ekspor nonmigas Indonesia tercatat 1,26 miliar dolar AS, sedangkan impor nonmigas Indonesia dari Rusia tercatat 850,6 miliar dolar AS. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.